Solusi tepat untuk rumah di daerah pegunungan
oleh
Diena Ulfaty
Masih terlalu pagi untuk menyadari bahwa tembok pembatas rumah yang kutempati pada pertengahan tahun 2006 itu tiba-tiba mundur kira-kira 15 cm. Sambil mencium bau kabut pegunungan, aku berlutut sambil menatap lantai yang retak secara horisontal, sejajar dengan tembok pembatas yang mundur tadi. Kami yang waktu itu masih mengontrak rumah, melaporkan kejadian tersebut pada sang pemilik. “Wah saya tambah senang Pak,” kata Bu Hasanudin sambil tersenyum, “itu artinya tanah saya bertambah luas. Apalagi kalau tiap tahun temboknya bisa mundur satu meter bisa-bisa dalam sepuluh tahun mendatang rumah saya luasnya nambah sepuluh meter persegi.”
Kami tertawa serentak mendengar kelakar Bu Hasanudin yang sama sekali tidak mempedulikan tembok dan lantainya yang retak akibat pergerakan tanah. Padahal aku sebagai pengontrak merasa takut jika bangunan yang kutempati mengalami kerusakan. Memang memiliki rumah di daerah pegunungan memiliki dampak negatif seperti rawan longsor, angin, dan kadang-kadang gempa kecil. Tetapi banyak juga dampak positifnya lho antara lain terbebas dari banjir, polutan, dan kebisingan. Bahkan beberapa penyakit berat pun bisa sembuh akibat udara gunung yang bersih dan banyak mengandung ion positif yang baik untuk kesehatan. Itulah salah satu alasan yang membuat kami memutuskan untuk membeli rumah di daerah pegunungan. Dan impian tersebut berhasil kami wujudkan di awal tahun 2009. Kami membeli bangunan mungil tipe 29 dengan desain minimalis di kawasan perumahan sederhana Cileunyi, Bandung. Letaknya lumayan dekat dengan rumah yang sebelumnya kami kontrak dulu. Jujur saja, bangunan yang terlalu mungil membuat kami bingung karena barang-barang yang kami miliki terlalu banyak sehingga rumah tidak muat. Apalagi dapurnya tidak ada. Akhirnya dengan dana yang sangat terbatas kami mulai memikirkan membangun ruang tambahan seperti dapur, tempat cuci baju, dan ruang makan. Namun setelah dikalkulasi, ternyata dana kami terlalu mepet atau boleh dikatakan tidak cukup jika menggunakan bahan bangunan konvensional.
Suatu hari suamiku pulang ke rumah sambil membawa bongkahan beton ringan sejenis blok Hebel yang dengan bangga ia tunjukkan padaku. “Aku ingin kita memakai bahan seperti ini untuk membangun nanti. Aku tadi mengambil sisa-sisa bangunan pondok pesantren yang memakai bahan ini,” katanya.
Aku memegang bongkahan yang bentuknya mirip dengan batu apung dan merasakan betapa ringannya benda itu. Tak kusangka ternyata benda itu seringan batu apung, dan akan mengambang jika diceburkan ke dalam air. “Apakah bahan ini kuat?” tanyaku.
“Ya. Dijamin kuat,” kata suamiku, “lebih kuat daripada batu bata. Bahkan meskipun harganya sedikit lebih mahal tapi lebih hemat biaya dan waktu. Pengerjaannya memerlukan waktu lebih cepat sehingga tak perlu mahal membayar tukang.”
Alasan lain kami tertarik menggunakan beton ringan karena tahan retak. Maklum di daerah kami tanahnya masih labil (tidak stabil) dan sering membuat tembok retak. Pondok pesantren yang dekat rumah kami pun mengganti dindingnya dengan blok Hebel untuk mengatasi tanah yang labil karena Hebel mampu mengatasi masalah itu.
Oya, kami juga sudah mengenal Prime Mortar lebih dulu karena ketika browsing mencari bahan bangunan di internet Prime Mortar sering muncul sebagai perekat blok, plesteran, pengacian, atau pemasangan keramik. Prime Mortar juga menjadi solusi bagi orang-orang sibuk yang tak punya banyak waktu untuk mengawasi tukang bekerja, seperti suamiku. Sehingga terjadi efisiensi waktu dan biaya. Jadi tanpa ragu-ragu akhirnya kami merencanakan untuk membangun ruang tambahan dengan dana yang sangat terbatas menggunakan Hebel dan Prime Mortar.
Namun aku masih punya impian untuk memiliki ruang kerja (aku bekerja sebagai penulis dan sudah menerbitkan buku, pun sebagai penerjemah lepas). Selama ini pekerjaanku seringkali terganggu oleh kebisingan dapur, bunyi penggorengan, dan teriakan putriku yang masih berumur 2 tahun. Kami bahkan telah menggambar rancangan 3 dimensi lantai atas yang asri dengan sirkulasi udara yang lancar sehingga bisa merasakan hawa pegunungan yang sejuk, dan rencananya akan kujadikan kantor pribadi dan perpustakaan. Tetapi aku tidak tahu kapan bisa mewujudkan impian itu karena tiap bulan hampir tidak ada lagi uang sisa untuk ditabung. Income yang kami miliki hanya cukup untuk membayar cicilan rumah per bulan, memenuhi kebutuhan pokok, dan membayar hutang yang belum lunas sampai kira-kira lima tahun ke depan. Dapur, tempat cuci dan ruang makan kami pun masih beratapkan asbes yang tentu saja membuatku takut ketika angin puting beliung melintasi atap rumah. Takut asbesnya terbang semua sehingga melukai aku dan kedua anakku yang masih kecil-kecil. Tikus-tikus pun bisa dengan mudah mencuri makanan di dapur karena mampu “menaklukkan” asbes yang bertengger di atasnya. Walaupun demikian kami bahagia dalam keadaan serba terbatas. Tiap pagi pembantu kami selalu menemukan tumpukan kotoran tikus yang memenuhi lantai kamar mandi. Aahh…andai saja atapnya diganti dengan beton ringan panel lantai Hebel menjadi lantai dua tentu saja kami akan terbebas dari binatang pengerat yang baunya sangat khas itu.
Itulah sebabnya kami ingin Hebel dan Prime Mortar membantu kami mewujudkan impian kami karena kami sudah tahu kehebatan kedua produk ini. Jujur saja, aku belum menemukan produk yang lebih baik dari Hebel dan Prime Mortar yang mampu mengatasi kondisi pegunungan yang berangin dan tanah yang labil. So please, bantu kami mewujudkan impian kami untuk memiliki lantai dua yang tahan di tanah yang labil dan tahan angin pegunungan ya… Bravo Hebel dan Prime Mortar!!!You are the best..
Diena Ulfaty adalah penulis buku Inspiring Stories for Kids, tinggal di Bandung.
URL : http://dienaulfaty.wordpress.com
e-mail : diena.ulfaty@gmail.com




