Faktor pendorong islamisasi sains
Memang banyak sekali yang membahas dunia sains dan islam. Beberapa orang ada yang memisahkan keduanya sementara yang lainnya menggabungkan bahkan telah ada pula Tafsir ilmiah Al Qur’an yang berbasis sains. Biasanya hal ini dilakukan oleh tokoh-tokoh ilmuwan muslim yang gandrung mengambil ayat-ayat dari Al Qur’an sebagai sumber inspirasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah cara mereka mengislamisasi sains yang awalnya terdorong oleh dominasi filsafat positivisme yang sekian lama menjadi paradigma tempat sains bertumpu. Metode yang dilakukan meliputi :
1. Pengamatan
2. Penafsiran
3. Bersikap ragu terhadap pemikiran manusia
4. Ujicoba penafsiran yang bersumber pada ayat Qawliyah (Al Qur’an), Kawniyah (alam) dan Hadits shahih.
Ibn Taimiyah berpendapat bahwa sesungguhnya pengakuan Allah tentang apa-apa yang diturunkan-Nya adalah pengakuan-Nya bahwa Allah menurunkan Al Qur’an dari-Nya dan Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya. Allah berfirman:
“Katakanlah:’Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi…” (Q.S 25:6)
Dan yang melatarbelakangi para peneliti untuk meneliti kandungan Al Qur’an adalah karena Al Qur’an tidak dibatasi oleh masa. Dan mereka percaya bahwa suatu saat akan semakin jelaslah kebenaran pemberitaan Al Qur’an itu yang semata-mata dari Rabb Semesta Alam. Hal ini mengingat generasi kita sekarang tak mampu melihat mu’jizat Rasulullah secara langsung seperti generasi dahulu olehkarenanya mereka menggali mu’jizat yang terkandung dalam Al Qur’an sebagai sumber peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman padanya (Al Qur’an).
“Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui berita Al Qur’an setelah beberapa waktu lagi”. (Q.S 38:87-88)
“Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui”(QS 6:67).
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menghendaki menjadikan berita dalam waktu tertentu akan menjadi nyata. Hal lain yang mendorong penelitian mereka adalah pemberitaan ayat berikut ini, Allah berfirman :
“Sesungguhnya dalam proses penciptaan benda-benda langit dan bumi dan pergantian siang dan malam menjadi keterangan bagi ulul albab yaitu mereka yang ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring, lalu mereka berkata Wahai yang Maha Pengatur kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia maka peliharalah kami dari adzab neraka. (QS 3:10)
Penggabungan Sains, Filsafat dan Islam menjadi sumber perpecahan
Terlepas dari pendorong para peneliti untuk meneliti alam yang didasarkan pada Al Qur’an dan Sunnah, dewasa ini ternyata banyak juga yang terjebak dalam penggabungan sains, filsafat dan islam. Sebagai contohnya kasus yang dialami oleh Harun Yahya yang berusaha menjatuhkan teori evolusi. Persoalannya semakin rumit karena pada kenyataannya tak semua yang percaya evolusi itu atheis dengan rujukan ayat-ayat berikut (QS 71:13-14), (QS 7:11), (QS 38:71-72), dll. Yang masing-masing menjelaskan tentang proses penciptaan manusia. Kelompok yang mengacu pada hal tersebut mendefinisikan evolusi sebagai suatu proses perubahan dari sesuatu yang sederhana menjadi bentuk yang kompleks atau rumit (misalnya proses penciptaan manusia seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an). Kelompok ini memandang teori evolusi Darwin secara terpisah yaitu membenarkan teori evolusi dan menyalahkan seleksi alamnya Darwin. Karena untuk menjatuhkan sebuah teori dibutuhkan eksperimen yang ketat untuk membuat fondasi yang kokoh dan tentunya memerlukan waktu yang sangat lama. Jadi mereka hanya meruntuhkan faktor seleksi alam yang melatarbelakangi teori evolusi Darwin.
Kelompok yang kedua memakai metode yang digunakan oleh Harun Yahya yang tanpa pandang bulu langsung menjatuhkan teori evolusinya seperti yang ditulisnya dalam buku Evolution Deceit yang menghasilkan konklusi bahwa evolusi adalah teori kebetulan, evolusi tidak menghasilkan kompleksitas sesuatu, beliau menyatakan tak ada transisi bentuk di dalam fosil dan merupakan misrepresentasi teori Punctuated Equilibrium Gould dan Eldredge. Hal ini membuat banyak perdebatan baik di pihak muslim sendiri ataupun orang-orang atheis yang mendukung teori evolusi (Darwin). Di antara mereka memandang Harun Yahya kurang memahami konsep Evolusi Darwin dan menganggap bahwa antara teori evolusi dan agama tidak berkaitan karena kebanyakan orang yang percaya evolusi kenyataannya juga percaya pada Tuhan (Nachum Kaplan: Harun Yahya and Theory of Evolution;London United-Kingdom:January 2003). Ditambah lagi serangan yang kedua Harun Yahya yaitu metode pengilusian materi (dunia persepsi) yang tertuang dalam karya-karyanya The Secret Beyond Matter, Allah is Known Through Reason, dll. Hal ini membuat Mark Vuletic seorang atheis yang aktif membela evolusi di talk.origin tertawa girang. Menanggapi hal ini Vuletic mengatakan :”On the contrary if I wanted to advance atheism, I would consider Yahya my best friend. I would buy his books at volume and distribute them to everyone I met. This is because if the only world is “the world that exist in our mind”, then there can not be a God external to us. In fact the logical consequence of Yahya’s view is outright solipsism”. [http://vuletic.com/hume/cefec/6.html]
Masalah akan timbul apabila kaum muslimin menggunakan bukunya Harun Yahya terutama untuk masalah yang berkaitan dengan keberadaan Tuhan dan dunia immateri yang didasarkan oleh dunia ilusi/dunia persepsi yang juga dilatari oleh filsafat disamping bukti empiris. Karena hal tersebut akan menghantarkan kaum muslimin jatuh ke dalam solipsism (pengilusian realita oleh dunia persepsi). Sains baik untuk menjelaskan ayat-ayat Allah, tapi apabila kurang hati-hati maka juga mampu menimbulkan kerusakan. Wallahua’lam.



