Coretanku

Mei 13, 2008

MARINIR YANG SAKIT JIWA (bagian 3)

Diarsipkan di bawah: Novel, Cerpen, dan Bukuku — Diena @ 4:48 pm

Di bulan Mei yang sendu, Charlie dan istrinya mendatangi Dr. Jan D. Cochrun yang langsung memberinya Valium dan menyarankan Charlie untuk menemui Psikiater yang bernama Dr. Maurice Dean Haethly. Ketika bertemu Charlie, Heatly memiliki pandangan kalau Charlie mirip dengan hampir semua laki-laki Amerika, bedanya adalah Charlie menaruh sikap permusuhan dan memendam kebencian pada ayahnya. Ia berbicara tentang keberhasilannya dulu dan kehancurannya sekarang karena kegagalannya memperoleh beasiswa lagi, serta amarahnya terhadap ayahnya yang sudah tidak terbendung. Dengan mimik wajah yang nampak kurang serius Charlie mengatakan kalau dia suka berfantasi membunuh orang-orang dari atas menara Universitasnya dengan senapan berburu. Namun Heatly mengira kalau itu hanya kelakar Charlie saja atau semacam gertak sambal karena dari penampilan lelaki ini masih nampak waras dan cara bicaranya tidak meledak – ledak. Selain Charlie banyak sekali pasiennya yang mengatakan kata-kata serupa tapi tak ada satu pun yang menjadi kenyataan. Mungkin keinginan itu tidak begitu kuat, seolah Heatly yakin kalau Charlie cukup pintar mengendalikan dirinya sendiri. Charlie juga mengatakan kalau dia ingin bunuh diri dan akan memberikan catatannya kepada Heatly. Akhirnya pertemuan itu berakhir dengan permintaan Heatly untuk datang minggu depan. Sebelum Charlie pergi Heatly memberinya Dexederin.

Charlie menemui Leduc dengan kesedihan yang menumpuk-numpuk. Kini Charlie dalam kondisi terendah karena ia bahkan telah kehilangan imannya dan ingin keluar dari Katolik. Namun meskipun begitu, Charlie masih ingin mengembalikan hidupnya supaya tidak berantakan, kalau seandainya bisa, dia akan mengusahakan semaksimal mungkin supaya segalanya lebih baik. Meski takut berharap akan berhasil, Charlie berusaha bangkit sedikit demi sedikit.

Musim panas telah tiba dan Charlie harus beraktivitas lagi, selain kuliah ia bekerja sebagai asisten peneliti yang bergantung pada Ampetamin Dexedrin. Saking ingin mengembalikan hidupnya yang berantakan, Charlie berusaha keras untuk berperilaku benar, mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, belajar, dan bereksperimen untuk menyelesaikan berbagai macam proyek. Namun karena pengaruh Dexedrin ia tidak bisa memenuhi target pekerjaannya. Siang malam ia bekerja hingga kurang tidur tapi obat itu membuat Charlie tidak maksimal betapapun ia berusaha keras. Karena sering gagal, Charlie kehilangan rasa percaya dirinya dan tentu saja ia semakin terpuruk dalam keputus asaan. Akhirnya ia menyerah. Depresinya semakin parah dan ia makin tenggelam dalam fantasinya untuk membunuh orang.

 

Tumor di Otak Charlie

Bulan Juli segalanya nampak lebih baik ketika Charlie mengantarkan Kathy bekerja di Southwestern Bell untuk mengisi musim panas. Dia sempat mengajak Kathy dan Margaret nonton bioskop dan makan siang di kantin. Ketika Frans Morgan menemui Charlie, lelaki itu nampak baik-baik saja dan tidak nampak seperti sedang terkena masalah. Ketika menjelang malam, saat Charlie sendirian ia menuliskan sebuah pesan bunuh diri yang ditujukan untuk Kathy.

Aku benar benar tidak mengerti kenapa aku begitu ingin menulis surat ini, tulisnya. Mungkin semua ini kulakukan untuk mengurangi rasa bersalahku atas kelakuan kasarku selama ini. Aku ini hanyalah korban dari kebiadaban ayahku dan berbagai macam pikiran gila yang selalu menggangguku. Itulah sebabnya aku menemui Heatly untuk meminta pertolongan. Tetapi pengobatan yang kuharapkan gagal. Heatly sama sekali tidak memahami persoalanku dan malah memberiku Dexederin. Aku ingin ketika aku mati nanti tubuhku diotopsi untuk mengecek apa yang salah dengan otakku sehingga aku menjadi kurang waras seperti ini. Bukankahi terlalu berlebihan bila aku menyusun rencana untuk membunuh istriku malam ini setelah aku menjemputnya dari tempatnya bekerja. Alasanku melakukannya adalah karena aku tidak ingin membiarkan Kathy sendirian menghadapi dunia yang keras ini, dan aku akan menyiapkan kematianku sendiri, alasan itulah yang membuatku ingin membunuh ibuku juga.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, Charlie menghentikan acaranya menulis surat kematian. Dia membuka pintu dan menemukan dua wajah yang tidak asing lagi. Larry dan Eileen Fuess adalah pasangan yang sudah mengenal Charlie. Charlie nampak baik-baik saja bahkan kelihatan senang ketika Fuess bertemu dengannya. Pertemuan itu berakhir pukul setengah sembilan malam.

Charlie membunuh ibunya dan istrinya malam itu juga, kemudian menyiapkan rencana pembunuhan di atas menara Texas keesokan harinya. Namun di saat tak terduga, ketika Charlie sedang mengamati keadaan polisi yang mengepungnya di bawah menara, tiba-tiba beberapa butir peluru melesat mengenai tubuhnya. Charlie mati seperti yang diharapkan, dan polisi yang menembaknya melambaikan handuk hijau sebagai tanda kalau sang marinir yang sakit jiwa itu sudah tewas. Tubuh Charlie yang diselimuti jaket hijau dan noda darah itu diseret ke ruang otopsi. Tim dokter datang untuk mengotopsi otaknya seperti yang tertulis dalam surat kematian. Di luar dugaan, tim dokter menemukan kanker di bagian otak Charlie yaitu di hipotalamusnya. Beberapa ahli mulai berteori kalau kanker itulah yang menyebabkan Charlie berperilaku agresif karena daerah yang terkena kanker letaknya sangat dekat dengan amigdala ¾ sebuah daerah yang mempengaruhi emosi negatifnya. Charlie mati dengan meninggalkan catatan sejarah yang suram bagi Amerika.

 

Referensi  : “Charles Whitman”, www.rotten.com

                        Chaplain Leduc (PDF),

                        “Charles Whitman” from Wikipedia free encyclopedia

                        dan sumber lain.           

ditulis oleh Diena Ulfaty

 

April 28, 2008

Sang Marinir yang Sakit Jiwa (bagian 2)

Diarsipkan di bawah: Novel, Cerpen, dan Bukuku — Diena @ 8:59 pm

Suatu ketika amarah C. A Whitman kembali meledak. Ia memukul, dan membentak – bentak istrinya. “Aku tahu kalau kelakuanku memang sangat keterlaluan,” kata ayah Charlie menyadari buruknya sikapnya terhadap Margaret, “tapi aku tak kuasa mengontrol emosiku. Lagipula salah siapa kalau aku jadi ingin memukulnya, dia memang layak dipukul karena sifat keras kepalanya itu. Sudah tahu kalau watakku keras tapi dia masih juga berani menentang kemauanku.”

Dalam sebuah pertengkaran C. A Whitman memukul Charlie hingga jatuh terhuyung-huyung lalu tercebur ke kolam renang. Charlie nampak begitu kesakitan saat menemui Fr Leduc, di tubuhnya terdapat bekas pukulan sang ayah. Dalam kondisi yang mengenaskan itu ia membeberkan kekejian ayahnya kepada ketua paduan suara gereja yang hubungannya dengan Charlie lumayan dekat. Leduc sedih mendengar kabar kalau ayah Charlie belum juga berubah sikap sehingga dia pun merasa tak berdaya untuk menolong Charlie. Akhirnya Charlie pulang dalam keadaan mabuk. Dirundung perasaan sedih dan frustasi, Charlie mulai minum arak hingga berminggu-minggu setelah pemukulan itu. Diam-diam dia ingin balas dendam kepada ayahnya.

Sebagai lelaki yang cerdas dengan IQ 138 dan seabreg penghargaan, Charlie mulai menyusun rencana untuk melancarkan misi balas dendamnya. Ketika usianya menginjak 18 tahun, tanpa sepengetahuan ayahnya, Charlie mendaftarkan dirinya ke Korps Marinir untuk amunisi di Parris Island. Ketika ia menaiki kereta menuju Parris Island, ayahnya menelpon cabang pemerintah federal dan meminta mereka menggagalkan pendaftaran Charlie sebagai murid di sana namun permintaannya ditolak.

Akhirnya Charlie lulus seleksi. Dia berangkat ke Guantanamo Naval Base untuk menjalankan tugas pertamanya sebagai marinir. Dia belajar keras supaya mendapatkan hasil terbaik dalam ujian. Dengan kecerdasan dan keuletannya, Charlie bisa mewujudkan impiannya itu. Dia mendapatkan medali perak, medali ekspedisi korps marinir, dan lencana sniper karena kepiawaiannya menembak target bergerak dengan nilai nyaris sempurna. Sehingga membuat semua orang di korps Marinir kagum bahkan yakin kalau Charlie akan menjadi warga negara yang baik.

Sebenarnya Charlie tidak benar-benar ingin mendapatkan sanjungan atas prestasinya itu karena dia melakukan semua itu supaya bisa balas dendam kepada ayahnya. Kalau saja ia memiliki keahlian menembak pasti dengan mudah ia bisa membunuh orang yang diinginkannya tepat sasaran. Mungkin orang lain mengira kalau Charlie adalah lelaki yang sempurna, ganteng, kaya, cerdas, dan memiliki prestasi luar biasa. Tapi sayangnya, anggapan itu salah. Setahun telah berlalu sementara Charlie masih belajar sebagai marinir. Kini C. A Whitman tak lagi bisa semena-mena terhadap Charlie. Namun Charlie masih ingin belajar lebih banyak lagi dengan mengajukan permohonan beasiswa NESEP (The Naval Enlisted Science Education Program), sebuah beasiswa yang didesain untuk melatih seorang insinyur menjadi marinir. Charlie merasa bangga ketika lulus ujian ketat untuk mendapatkan beasiswa yang memberinya uang 250 USD setiap bulannya.

Setahun berlalu ketika Charlie sudah menjadi mahasiswa di Universitas Texas. Charlie mulai berulah setelah menempuh kehidupan yang penuh dengan kedisiplinan di rumah dan menghadapi aturan yang ribet di kampusnya. Charlie dan teman-temannya menembak kijang, menyeretnya ke asrama, lalu mengulitinya dengan shower di kamar mandi. Kejadian sadis itu membuat Charlie kehilangan beasiswanya karena tiba-tiba mereka menghentikan aliran dana untuk kuliah Charlie. Ketika Charlie menikahi teman kampusnya sendiri di tahun 1963 yang bernama Kathleen Frances Leissner ia mulai memperbaiki tingkah lakunya dan kembali melakukan kewajibannya sebagai seorang marinir yang dikirim North Carolina. Dalam perjalanan ke sana Jeep yang dikendarai Charlie mengguling dan masuk ke tambak. Charlie yang nampak terkejut dan tentu saja kesakitan itu menolong teman-temannya yang terjepit di dalam Jeep lalu dia diopname di rumah sakit selama 10 hari.

Rupanya Charlie tidak tahan dengan aturan yang berlaku di militer yang penuh disiplin dan keras. Sementara Kathy¾istri Charlie tidak bersamanya karena harus melanjutkan kuliahnya di Texas, Charlie merasa kesepian. Meski telah berusaha untuk mendapatkan kembali beasiswanya tetapi semuanya nampak sia-sia. Seberapa keras pun usahanya dia tidak bisa meraih beasiswa itu lagi karena daftar kriminal yang dilakukan Charlie. Dia mulai mengkoleksi pistol ilegal karena kebenciannya kepada Korps Marinir. Tingkah laku Charlie mulai tidak terkontrol. Di bulan November Charlie mulai berjudi, memiliki simpanan senjata ilegal, dan menjadi rentenir dengan harapan uangnya akan cepat berkembang. Dia suka mengancam marinir lain dan menakut-nakuti mereka dengan kekerasan. Charlie akhirnya turun jabatan menjadi prajurit biasa dengan mendapat kurungan penjara selama 30 hari dan 90 hari sebagai romusa setelah kelakuan bejatnya terbongkar. Charlie menghubungi ayahnya untuk meminta pertolongan tapi ayahnya tidak lagi peduli terhadapnya. Ketika Charlie merasa sangat tertekan, tiba-tiba Korps Marinir mengeluarkan surat pemecatan. Charlie marah tapi tak bisa melakukan apa-apa, dia juga merasa malu dan dipermalukan.

Depresi

Pada bulan Desember 1964 Charlie akhirnya dipecat dengan tidak hormat dari Korps Marinir dan kembali mendaftar ke Universitas Texas untuk jurusan arsitektur. Charlie harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri sebagai penagih hutang untuk perusahaan yang bergerak di bidang perbankan selama kira-kira setahun. Sementara Charlie gonta ganti pekerjaan, Kathy ¾ istrinya menekuni profesinya sebagai guru di Lannier High School. Kehidupan rumah tangga Charlie berangsur-angsur berantakan. Charlie menjadi mudah marah dan suka menyiksa istrinya. Meski begitu ia tidak lupa minta maaf kepada Kathy atas kelakuan kasarnya dan mengatakan kalau dirinya tidak bisa mengendalikan diri. Namun seperti lingkaran setan, Charlie terkungkung dalam kepribadian ayahnya yang suka melakukan kekerasan. Tobatnya tidak sungguh-sungguh meski dia telah bersumpah tidak akan menyiksa Kathy lagi karena baginya hal itu sungguh tidak manusiawi. Dia marah karena dia benci kekerasan, dia marah karena harus melakukan hal yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya, dia marah karena harus hidup dalam bayang-bayang sang ayah. Padahal dia mengetahui hak-hak Kathy sebagai istrinya, seperti saat hendak menikahinya Charlie bersumpah akan memperlakukan Kathy dengan baik, menafkahi lahir dan batinnya, dan bersumpah tidak akan meniru kelakuan ayahnya yang bejat itu. Tapi sekarang ia bahkan begitu khawatir dengan uang yang dia berikan ke Kathy, ia khawatir kalau Kathy membelanjakan uang lebih banyak daripada Charlie.

Kathy mulai tidak tahan dengan sikap Charlie yang mudah meledak, dia mengancam untuk bercerai tapi Charlie tidak setuju. Mulai saat itu kegilaan Charlie memuncak, dia suka menulis tentang sikap – sikap yang harus dia lakukan terhadap Kathy lalu mempraktekkannya. Kalau gagal dia menyumpahi dirinya untuk tidak mengulangi lagi. Dia sering mengingatkan dirinya untuk menghormati Kathy. Kata-katanya seringkali tak terkontrol, bahwa dia harus begini dan begitu supaya Kathy senang, bahwa seorang suami yang baik adalah yang mengormati istrinya. Charlie berubah menjadi robot yang menakutkan hingga dia harus menulis semua yang akan dilakukannya. Besok harus begini, kalau tidak begini maka begitu. Charlie semakin terbenam dalam keputusasaan. Dia makin membenci dirinya karena perubahan yang memalukan itu. Lelaki yang dulunya rajin, cerdas dengan segudang prestasi lagi sangat menyayangi sang istri, menghormatinya dan begitu baik telah berubah menjadi monster yang mengerikan. Di saat itu dia sudah kehilangan semangat hidup dan ingin sekali bunuh diri.

Telpon berdering. Charlie bangkit lalu mengangkatnya. Terdengar suara ayahnya di seberang sana, lagi – lagi dia minta Charlie untuk membujuk ibunya supaya mau kembali. Charlie marah. Dia bersumpah tidak akan membiarkan ibunya disiksa lagi dan ia menjamin kalau ibunya akan baik-baik saja tanpa ayahnya. Telpon diputus ketika amarah Charlie kembali memuncak.

C. A Whitman sudah kehabisan akal sehingga dia harus minta bantuan Charlie supaya Margaret mau kembali padanya. Dia bahkan rela bersujud di depan istrinya dengan air mata bercucuran tapi hati Margaret telah beku. Berulangkali C. A Whitman melakukan hal yang seperti itu tapi yang namanya watak keras itu susah berubah. Pemukulan itu pasti akan terjadi lagi seperti yang sudah sudah. Jadi perceraian adalah jalan terbaik supaya Margaret tidak mengalami kekerasan lagi.

Menemui Psikiater

Charlie nampak begitu membosankan pagi itu ketika Kathy pulang ke rumah dan menemukan suaminya dalam keadaan awut-awutan. Charlie nampak gemuk yang menandakan bahwa dia tidak bisa mengontrol nafsu makannya, mukanya mengerikan seperti tidak terurus. Kathy mendatanginya, lalu pelan-pelan membujuk Charlie untuk menemui psikiater karena kegelisahan dan depresi yang dialami Charlie semakin parah. Charlie menyetujui saran istrinya.

Bersambung….

April 15, 2008

Sang Marinir yang Sakit Jiwa (bagian I)

Diarsipkan di bawah: Novel, Cerpen, dan Bukuku — Diena @ 10:10 am

SANG MARINIR YANG SAKIT JIWA

(based on true story)

oleh Diena Ulfaty

Margaret Whitman nampak begitu riang saat bertemu dengan seorang lelaki berbadan kekar sekokoh menara Texas dan berambut pirang dengan potongan ala mariner di lobi apartemennya, The Penthouse pada tengah malam yang tenang. Janda yang baru saja bercerai dari suaminya itu langsung mempersilahkan lelaki yang nampak dikenalnya dengan baik itu. Memang sebelumnya dia mengadakan perjanjian dengan lelaki itu sehingga dia tidak terkejut dengan kedatangannya. Margaret sama sekali tidak menduga kalau malam itu hidupnya akan berakhir.

Charles Whitman, lelaki berumur 25 tahun dan sangat mencintai ibunya sendiri Margaret Whitman, tiba-tiba mencekik leher wanita tua yang malang itu sesaat setelah ia menutup pintu apartemen. Dia mencekik Margaret dari belakang dengan selang karet, menusuk dadanya dengan pisau, dan memukul bagian belakang kepalanya dengan benda keras seperti pistol. Ibunya tewas pukul 00.30 ketika Charliepanggilan akrab Charles duduk termenung dengan raut wajah sedih. Ia mengambil pena untuk menuliskan sebuah catatan. “Aku baru saja membunuh ibuku,” tulisnya. “Aku sangat sedih dan menyesal karena telah menghabisi nyawanya. Tapi aku tak punya pilihan.Kupikir dengan begini ibu akan tenang di alam sana dan tidak merasakan penderitaan lagi.” Charlie bangkit, mendekati mayat ibunya, mengangkatnya, meletakkannya di atas kasur, lalu menyelimutinya. Ia kembali menuliskan sebuah pesan yang ditujukan untuk pelayan apartemen yang diletakkan di pintu apartemen 505. Pesan itu berbunyi Roy, aku tidak bisa bekerja hari ini dan tadi malam aku telat pulang ke apartemen, jadi aku ingin istirahat. Tolong jangan ganggu aku ya. Terima kasih. Nyonya Whitman.

Charlie meninggalkan The Penthouse sekitar pukul 1.30 dini hari dan cepat-cepat kembali lagi ke apartemen. Ia memberitahu kepada penjaga pintu apartemen kalau dia adalah putra nyonya Whitman. Dia bilang kalau ibunya sedang memerlukan obat dan dia berjanji untuk menebuskan resepnya. Penjaga pintu itu membiarkan Charlie masuk ke apartemen dengan sebotol Dexederine dan keluar dengan botol obat yang sudah kosong. Dia berhasil meninggalkan Penthouse pukul 2 dini hari lalu pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah, ia menemukan Kathy Whitmanistrinya sedang tertidur lelap. Charlie mendekati istrinya lalu dengan cepat ia menekan tubuh istrinya hingga ranjangnya berderit, lalu ia menusuk dada Kathy dengan pisau sebanyak 5 kali. Kathy langsung tewas dan tidak sempat terbangun. Dengan perasaan kesal karena tidak bisa menguasai dirinya Charlie kembali menulis. Ia mengambil pena lalu menuliskan alasan kenapa ia membunuh dua orang yang dicintainya. Tulisan yang nampak seperti cakar ayam dan menggunakan tinta biru itu berbunyi kini istri dan ibuku telah mati. Semua ini gara-gara ayah. Aku benar-benar marah padanya. Aku tak mungkin menghabisi nyawa kedua orang yang sangat kucintai dengan brutal kalau ayah tidak pernah memperlakukan aku dengan kejam. Charlie menuliskan beberapa pesan singkat untuk ayah dan saudaranya. Dia meninggalkan pesan itu di akhir film yang ia buat dengan kameranya. Dalam pesan itu ia mengatakan kalau anjing milik Kathy ia serahkan kepada orangtuanya. Sejenak ia meneliti diarinya, menyoroti hal-hal penting tentang kebaikan-kebaikan sang istri lalu ia menyusun rencana pembunuhan yang akan dilakukannya di atas menara Texas.

Keesokan harinya Charlie menelpon supervisor Kathy dan memberitahukan kalau Kathy sedang sakit sehingga tidak bisa masuk kerja. Lima jam kemudian, ia menelpon majikan Margaret untuk memberitahukan hal yang sama. Charlie memiliki rencana besar untuk menyembuhkan amarahnya di atas menara Texas. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang ada di kepalanya waktu itu. Tapi yang jelas Charlie tidak puas dengan kematian Kathy dan Margaret, ia masih ingin mencari korban yang ia pikir akan mengobati luka hatinya. Setelah menyewa mobil pengangkut barang dari Austin Rental Company sebesar 250 US dolar dia membeli M1 Carbine dan menjelaskan kepada sang penjual kalau senjata itu akan digunakan untuk berburu babi hutan. Dia juga pergi ke suatu tempat untuk membeli senapan jenis lain beserta petinya. Sambil mengasah laras senapan Charlie mengobrol dengan seorang tukang pos bernama Chester Arrington. Beberapa saat kemudian ia mulai mengepak senapan yang baru diasahnya dengan senapan jenis Remington 700, M1 Carbine, tiga buah pistol, dan beberapa jenis peralatan yang ia selundupkan di antara peti kayu dan koper besi. Sebelum menaiki menara Texas Charlie meletakkan kain di atas kemeja dan celana jeansnya. Ia mengenakan jaket hijau sehingga keberadaan kain itu agak tersamarkan. Ketika sampai di atas menara, ia mengenakan jubah dengan pita penahan keringat berwarna putih.

Sebuah mobil pengangkut barang memasuki gedung universitas Texas, melewati pos satpam. Seorang pria berjaket hijau keluar menemui Jack Rodman seorang satpam di pintu masuk dan memperoleh karcis parkir. Sambil menunjukkan kartu identitas sebagai asisten peneliti di universitas Texas, Charlie menjelaskan kepada Jack kalau ia baru saja mendapat pesanan barang dan harus segera dikirim. Sekitar pukul 11.30 Charlie menerobos masuk ke gedung utama universitas dan mendapati elevator di tempat itu mogok. Seorang pegawai bernama Vera Palmer mendatanginya sambil menghidupkan elevator yang memang baru saja dimatikan. Charlie membungkukkan badannya untuk mengucapkan terima kasih lalu menaiki tangga elevator menuju lantai menara paling atas, tepat di bawah jam dinding raksasa.

Sesampainya di atas Charlie kemudian membawa peti menuju tangga nomer tiga di ruang observasi dan bertemu dengan seorang resepsionis bernama Edna Townsley. Tanpa basa basi Charlie langsung memukul Edna dengan ujung senapannya, lalu menyembunyikan tubuhnya di belakang meja. Edna nampak tak sadarkan diri dan beberapa saat kemudian ia tewas. Sementara itu Cheryl Botts dan Don Walden yang baru saja melihat-lihat geladak tak sengaja bertemu dengan Charlie dengan kedua tangan memegang senjata. Charlie pun berdalih kalau dia menggunakan senjata untuk menembak merpati. Namun Charlie tidak mampu menutupi noda darah yang tececer di lantai, ia tak menjelaskan apapun mengenai noda merah itu dan Cheryl maupun Don tidak berfikir macam-macam mengenai bercak merah yang mereka temukan di lantai. Mereka langsung pergi setelah berbincang-bincang sebentar dengan Charlie. Setelah kedua orang itu pergi, Charlie cepat-cepat menyusun penghalang di pintu masuk ruang observasi supaya tidak seorang pun masuk ke ruangan itu.

Tak lama kemudian beberapa turis yang ingin berkunjung ke ruang observasi nampak susah payah menghilangkan penghalang yang baru saja dibuat Charlie. Michael Gabour ingin melihat apa yang ada di balik penghalang itu ketika Charlie dengan brutal menembakkan peluru ke segala penjuru. Ia terus memuntahkan peluru dari senapannya ketika Michael dan keluarganya berusaha menuruni tangga untuk menghindari tembakan. Michael dan ibunya selamat meski menderita luka berat yang menyebabkan cacat permanen sementara bibinya meninggal dalam serangan itu.

Penembak dari atas Menara

Sekitar pukul 11.48 terdengar suara tembakan dari atas menara. Seorang profesor sejarah yang melihat beberapa mahasiswa berjatuhan di jalanan langsung menelpon Austin Police Department meskipun beberapa orang menolak melaporkan kejadian itu karena mereka tidak menyangka kalau telah terjadi penembakan. Tak lama kemudian suasana yang sebelumnya tenang berubah mencekam, beberapa orang berteriak panik sambil berlari tak tentu arah. Polisi akhirnya datang untuk meredam kepanikan. Mereka mengepung kampus untuk mencari lokasi yang menguntungkan supaya bisa menangkap Charlie.

Beberapa polisi nampak keluar dari mobil dan berlari ke arah tertentu. Charlie melongok ke bawah dan melihat polisi sudah mengepung. Beberapa saat kemudian terdengar suara peluru berdesing seperti suara petasan yang diledakkan ramai-ramai. Dengan tenang Charlie menyalakan pipa penyemprot air yang mampu menyemburkan air bertekanan tinggi untuk “menghilangkan” jejaknya. Para polisi pun kebingungan dan tidak menyadari kalau Charlie sedang menembaki mereka dari balik semburan air. Satu per satu polisi bergelimpangan. Warga setempat yang menyaksikan kejadian itu mengambil senjata dan ikut menembaki Charlie.

Beberapa saat kemudian terdengar suara helikopter menderu-deru di udara. Terlihat Jim Boutwell, sang pilot heli membawa Marion Lee seorang letnan polisi sekaligus sniper (ahli tembak). Bersama helikopternya Lee mengelilingi menara sambil menembaki Charlie tetapi turbulensi dari helikopternya membuatnya kesulitan untuk menembak sasaran dengan tepat. Lee berteriak kepada sang pilot, “mundur! jangan terlalu dekat. Aku tak bisa melihatnya.” Helikopter yang sudah terkena tembakan sebanyak tiga belas kali itu mulai agak menjauh dan mengambil sudut yang tepat supaya Charlie nampak jelas.

Sementara itu banyak sekali korban berjatuhan di Guadalupe Street yang letaknya berdampingan dengan kampus. Terdengar suara sirene ambulan mengaung-ngaung ketika Morris Hohmann sang sopir mengaduh kesakitan. Tiba-tiba sebuah peluru melesat mengenai nadi di kaki kanannya yang membuat dia menghentikan mobil ambulannya. Akhirnya, ia gagal untuk menolong korban penembakan karena tanpa diduga sang sniper gila itu juga menembaknya. Ambulan lainnya yang datang bersamaan dengan ambulan yang dikendarai Hohmann segera memberi pertolongan pertama. Mobil berlapis baja pun dikerahkan untuk menolong korban.

Ramiro Martinez, Houston MacCoy dan Jerry Day berhasil menerobos masuk ke ruang observasi tempat Charlie menjalankan misi gilanya itu. Setelah melihat ruangan itu kosong, Martinez dan MacCoy keluar dari ruang observasi dan berjalan menuju ke ruangan di sebelah timurnya. Dengan menggenggam senapan berburu dan revolver 3.8 mereka mencari Charlie dan tanpa diduga mereka menemukan Charlie sedang duduk di lantai sudut ruangan itu sambil menatap ke tenggara untuk melihat tanda-tanda dari polisi. MacCoy menyemburkan peluru dari senapannya sebanyak dua kali ke arah Charlie di saat Martinez menekan pelatuk revolvernya sebanyak enam kali. Charlie tertembak. Badannya terhuyung ke depan sebelum akhirnya menumbuk lantai. Mereka mendakati tubuh Charlie, memeriksa nadinya lalu bangkit sambil melambaikan handuk warna hijau ke polisi yang ada di bawah sebagai tanda kalau Charlie telah tewas. Tragedi berdarah pun berakhir dengan terbunuhnya Charliesang sniper gila dan 14 orang lainnya serta melukai 31 orang.

Masa Lalu yang Suram

Di sebuah rumah elite di kawasan Lake Worth Florida Charlie nampak begitu tertekan mendengar bentakan C. A Whitman ¾ ayahnya terhadap ibunya. Ayah Charlie yang bekerja sebagai penguasaha profesional itu memiliki watak keras dan otoriter. Dengan emosi yang gampang meledak, ia menekan istri dan anak-anaknya hingga membuat mereka ketakutan. C. A Whitman sering memukul Charlie dan yang lainnya dengan sabuk dan tongkat supaya mereka menuruti keinginannya.(continue) bersambung ….

Blog pada WordPress.com.