Manusia bisa saja berubah tak peduli seberapa kuat ia memegang prinsipnya. Itulah yang kualami. Tahun 2002 ketika aku baru saja lulus kuliah, aku menghabiskan waktu di laboratorium Fisika ITB untuk meneliti bahan superkonduktor. Waktu itu, duniaku serba serius, aku tidak mau membaca cerita seperti novel, cerpen, dan tetek bengek yang kuanggap tidak serius. Maksudku tidak serius adalah isi yang disajikan benar-benar tidak menohok pikiran. Aku suka sekali berfikir, makanya aku baca-baca buku Carl Sagan dan dulu sekali aku suka berdebat tentang teori-teori Harun Yahya. Namun naskah-naskahku (yang mendebat teori Harun Yahya) terkena Trojan horse sehingga tidak bisa aku tampilkan di blogku. Di antara naskahku yang paling ringan dan tidak terkena Trojan horse adalah SISI LAIN DUNIA PENGILMIAHAN AL QUR’AN, yang bisa kamu baca di sini. Tapi sekarang aku sudah tidak suka dengan dunia perdebatan – sudah tobat dan tidak mau diajak debat.
Tapi segalanya segera berubah ketika aku menemukan pengumuman lomba novel DKJ 2003 di internet. Hadiahnya besar sekali kalau gak salah totalnya mencapai 100 juta. Wow, tunggu apa lagi, aku ikutan ah. Teman-teman di lab. aku suruh ikutan semua, benar-benar gila duit he he he. Meski aku benci banget nulis cerita, apalagi baca novel, uuugghh rasanya seperti buang-buang waktu saja. Tapi aku tergiur dengan hadiahnya. Akhirnya aku ikutan lomba tersebut dan di luar dugaan aku masuk finalis lomba tersebut. Ini sebuah miracle yang tak pernah aku sangka-sangka.
Seorang teman di lab bilang, “Diena kamu ini bakat nulis novel juga. Daripada jadi peneliti mending jadi novelis aja, enak bisa terkenal lho.”
“Apa?,” aku kaget. “Mana mungkin aku jadi novelis?. Baca novel aja malesnya minta ampun. Toh kalau bisa jadi finalis itu merupakan sebuah keberuntungan bukan bakat. Lagian aku ini kan orang serius, malu ah sama temen-temen kalo sampe ketahuan nulis novel.”
Tapi sepulang dari lab. aku mikir terus, akhirnya sampailah aku di rumah kos teman jurusan Fisika yang kebetulan menggandrungi novel sains fiksi. Aku baca buku-bukunya. Dan wow, ternyata orang-orang serius Amerika banyak sekali yang jadi novelis, waktu itu aku baru tahu kalo novelis itu pekerjaan keren. Contohnya Michael Crichton (lulusan Fisika Harvard Summa Cum Laude), Carl Sagan (Kosmolog keren), John Grisham (mantan pengacara), dan Cannon Doyle (mantan dokter). Dari orang-orang ini akhirnya aku terinspirasi untuk menjadi novelis (aku tidak malu lagi nulis novel dan dianggap sebagai seorang yang “tidak serius” sama temen-temen). Aku ingin jadi diri sendiri.
Ternyata menulis cerita itu lebih sulit daripada menulis artikel (tidak seperti dugaanku selama ini). Aku pelajari seluk beluk tentang penulisan cerita dari Stephen King (Stephen King on Writing). Wah luar biasa, aku baru sadar kalau menulis cerita itu memerlukan imajinasi yang kuat. Stephen King memang hebat. Aku mencoba menulis seperti dia, sekali, dua kali, tiga kali…sepuluh kali, gagal terus. Gaya penulisannya susah diikuti, begitu detil hingga aku tak sanggup mengikutinya. Akhirnya aku banting setir (karena capek belajar nulis akhirnya jadi banyak-banyak baca novel). Aku baca Sherlock Holmes, novel-novel Agatha Cristie, John Grisham, Stephen King, JK Rowling, dll. Dan terakhir aku begitu terpesona dengan gaya penulisan Dan Brown (The Da Vinci Code, dll.) dan aku coba mengikutinya. Setelah 6 tahun belajar cara menulis cerita dari orang-orang yang kukagumi tersebut akhirnya gaya penulisanku mengalami peningkatan yang begitu signifikan.
Tapi ketika aku begitu mencintai dunia ini, tiba-tiba ada seseorang yang memberitahuku kalau menulis fiksi itu haram. Rasanya susah dipercaya, ketika aku begitu tergoda untuk menulis fiksi lalu dengan tiba-tiba aku harus meninggalkan dunia itu. Alasan orang itu mengatakan haram karena cerita fiksi adalah cerita bohong, tidak ada realitanya, meskipun banyak orang yang tidak keberatan dibohongi karena sangat menikmati ceritanya tetapi bagaimana dengan Allah?. Allah tidak suka kebohongan. Kamu pilih mana, Allah ridho kepadamu atau manusia ridho kepadamu?. Dan bagaimana tanggung jawabmu di hadapan Allah nanti tentang kebohongan yang kamu buat di dalam bukumu?. Tentu saja pertanyaan itu membuatku gemetar. Dan akhirnya aku terpaksa menghentikan hobi menulis fiksi. Padahal waktu itu aku baru saja selesai menulis 2 novel baru (tahun 2005) tapi semuanya tidak pernah kukirimkan ke penerbit. Bahkan seorang teman yang bekerja di Global TV yang tak sengaja menemukan naskahku yang berjudul LATIFA, memintaku untuk menulis skenario film. “Tulisanmu bagus,” katanya, “aku perlu bahan untuk film so please kirimi aku cerita-cerita lainnya yang bisa diadaptasi ke film. Aku perlu orang seperti kamu.” Temenku yang satu ini bener-bener getol kirim sms ke aku dan minta cerpen. “Mana cerpennya kok gak dikirim-kirim?,” tanyanya. Tapi aku selalu saja memberikan alasan sibuk dan sibuk, harus nyelesain ini dan itu. Sampai hampir setahun dia nunggu naskahku tapi aku tidak pernah mengirimkannya.
Bukannya aku tak tergiur tawaran itu, tapi apa daya aku tak bisa berbohong pada diri sendiri. Aku tidak mau menulis fiksi lagi. Sudah cukup. Tapi aku tak pernah menceritakan alasanku kepada teman-temanku, sampai detik ini. Aku tiba-tiba menghilang dari rimba penulisan cerita dalam waktu yang cukup lama, merenung, sedih, bingung, pusing. Ternyata mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi keridhoan Allah itu sulit sekali. Aku benar-benar harus melawan diriku sendiri. Benar-benar menyedihkan.
Suatu saat tanpa kusengaja aku menemukan buku Richard Feynmann (nobelis Fisika) yang masih dalam bahasa Inggris, tapi aku lupa judulnya. Buku itu ditujukan untuk Prof. Said D. Jennie (ketua BPPT sekaligus dosen penerbangan ITB). Prof. Sa’id memberikan buku tersebut kepada suamiku dan sampailah buku itu ke tanganku. Di situ aku baru tahu kalau Richard Feynmann itu Yahudi yang murtad karena sewaktu usianya 7 tahun dia menemukan kebohongan yang dilakukan oleh pendeta di sekolah minggunya. Feynmann berkata, “jadi selama ini aku di sini hanya untuk mendengar cerita bualan yang tidak ada ujungnya?. Bagaimana mungkin agama ini didasarkan pada cerita-cerita bualan semacam ini?. Aku tidak akan datang ke sekolah minggu lagi!“
Dalam kisahnya Feynman kecewa gara-gara sang pendeta seringkali memberinya kisah-kisah teladan tentang perjuangan seorang Yahudi demi membela agamanya yang ternyata semua cerita itu adalah fiksi. Dari situ aku baru sadar bahayanya menulis fiksi untuk dakwah . Hal ini benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.
Itulah yang menguatkan alasanku untuk tidak menerbitkan Bukan Jules Verne (yang menjadi finalis lomba novel DKJ 2003) dan novel-novelku lainnya seperti Madamma Butterfly dan Latifa (meskipun dengan beraaat hati). Padahal waktu itu (tahun 2006) aku sudah mengontak sebuah penerbit dan novelku sedang ditunggu, tetapi….., dengan berat aku membatalkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis cerita nonfiksi saja dan melupakan 3 novel fiksiku. Tantangan yang kuhadapi cukup berat juga, ternyata sulit cari sumber cerita nonfiksi meski akhirnya dapat juga. Contoh naskah cerpen non fiksiku adalah Sang Marinir yang Sakit Jiwa, dan aku pun menulis buku cerita anak yang semuanya kisah nyata (baca cuplikannya yah!) di sini.
Oya, aku bahkan sempat masuk rumah sakit gara-gara meninggalkan hobiku menulis fiksi. Bahkan tak tanggung-tanggung, aku sakit satu bulan tanpa diketahui penyebabnya. Dokternya pusing, dan memberikan kesimpulan akhir “aku dinyatakan stres berat/tertekan”. Keluargaku pun menyarankan aku untuk kembali menulis fiksi. Tapi apa daya rasa takutku kepada Allah membuatku tak sanggup melakukannya. Bagaimana pun merupakan hal yang sulit melawan diri sendiri dan melakukan sesuatu yang kita yakini itu salah.
Ternyata perjuangan paling sulit dalam hidupku adalah ketika aku harus melawan diriku sendiri hiks…hiks…hiks.