Coretanku

Agustus 8, 2008

KIAT MENULIS ALA JK ROWLING

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 8:14 pm

KIAT MENULIS ALA JK ROWLING

Dalam wawancara dengan BBC untuk feature “Author on The Spot” yang ditujukan untuk anak-anak, JK Rowling memberi kiat-kiat penulisan yang cukup efektif bagi penulis “junior”. Berikut ini tips-tipsnya :

  1. Cara yang paling baik untuk mempelajari gaya penulisan, pemahaman tentang karakter, dan penyusunan plot cerita adalah dengan membaca sebanyak mungkin yang kamu bisa. Tanpa kamu sadari melalui proses membaca tersebut gaya tulisanmu akan berkembang, pada awalnya kamu akan membuat imitasi dari gaya penulisan tokoh idolamu (yang bukunya sering kamu baca). Namun pada akhirnya nanti kamu benar-benar akan mendapatkan gaya penulisanmu sendiri. Jangan lupa untuk merencanakan pekerjaanmu, kadang-kadang tulisan jelek sekalipun mengandung satu atau dua ide bagus. Dan memang untuk menghasilkan sebuah karya yang bagus harus melalui proses semacam itu. Artinya sebuah ide besar kadang-kadang dibangun dari ketololan-ketololan kecil.
  2. Tulislah sesuatu yang benar-benar kamu ketahui seperti hobimu, teman-temanmu, perasaanmu, keluargamu, bahkan hewan piaraanmu juga bisa menjadi bahan untuk memulai sebuah tulisan. Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, kamu harus belajar mencintai kesendirian karena menulis adalah profesi yang paling “sunyi” di dunia.
  3. Dan yang terakhir saya tekankan adalah kondisi sepi itu sangat penting bukan hanya ketika kamu mulai bekerja (menulis) tapi juga supaya kamu bisa bertahan dari kritik dan penolakan. Bagaimana pun kebahagiaan terbesar seorang penulis adalah ketika melihat bukunya terpampang di rak toko buku, karena dengan begitu perjuangan sang penulis terbayarkan.

diterjemahkan oleh Diena Ulfaty

http://dienaulfaty.wordpress.com

Want to get more tips? Please read

Ingin Tembus Penerbitan?. Gampang!. Perbaiki Sinopsismu

Dan Brown, adalah contoh seorang penulis yang piawai bermain kata dan tahu benar apa yang ingin diketahui oleh pembaca, itulah sebabnya novel-novelnya menjadi best seller. Sebagai contoh The DaVinci Code. Banyak sekali hal menarik yang diramu dengan gaya bahasa yang mempesona sehingga mampu membetot perhatian pembaca. Dan dalam semua karyanya, Brown berhasil membuat pembacanya tersihir. Mengapa buku-bukunya tersebut menjadi mega best seller yang terjual dengan angka mengerikan – jutaan kopi?. Jawabannya simple.

read more

Ingin Tembus Penerbitan? Gampang! Perbaiki Sinopsismu

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 8:08 pm

Oleh : Diena Ulfaty

Apa alasan kamu membeli buku?. Judulnya?. Sinopsisnya?. Mutunya?. Atau apanya?. Kalau aku biasanya membeli buku karena sinopsisnya bagus. Aku mengetahui “ringan” tidaknya sebuah buku dari sinopsisnya dan pengarangnya (kalau sang pengarang sudah terkenal). Menurutku dari semua itu sinopsis lah yang terpenting (yang membuat aku memutuskan untuk membeli sebuah buku) karena dari sinopsis aku bisa meraba-raba isi buku, mengetahui bobotnya, bermutu tidaknya isi buku - (kecuali kalo pengarangnya berbohong dengan sinopsisnya). Tak semua buku yang berada di rak toko buku memiliki sinopsis yang bagus. Aku seringkali menemukan sebuah sinopsis yang dari sisi penulisan kurang menggigit, bahkan terkesan hambar. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya begitu, tetapi kehambaran itu membuat aku menyimpulkan kalau buku tersebut TIDAK LAYAK BACA. Jadi kukira, “nyawa” sebuah buku yang disegel terletak pada sinopsis. The Da Vinci Code, dan buku-buku best seller lainnya memiliki sinopsis yang bernyawa dan itulah salah satu sarana marketing yang membuat buku tersebut menjadi best seller. Lalu apa kaitannya sinopsis dengan lolos tidaknya sebuah naskah di penerbitan?. Oke, aku akan membahas itu tetapi kamu harus tahu dulu definisi sinopsis itu sendiri. Jangan sampai kita memiliki pandangan berbeda tentang hal ini.

Apa sih sinopsis itu?. Sinopsis merupakan bagian dasar dari sebuah tulisan, seperti ringkasan sebuah cerita yang panjang. Tetapi bukan sekedar ringkasan biasa, sebuah sinopsis harus memiliki kekuatan pendeskripsian tentang apa yang diceritakan.

Biasanya sebuah sinopsis dikelompokkan menjadi dua kategori umum : pendek dan panjang. Sinopsis pendek berisi tentang hal-hal yang menarik perhatian kita. Seperti yang kita lihat di kover bagian belakang dari sebuah novel best seller. Sebuah sinopsis juga bersifat argumentatif yang bisa menarik perhatian para agen atau penerbit ketika mendapatkan naskah baru dari seorang penulis. Pendek kata, sinopsis pendek itu yang akan menentukan apakah para pembaca akan tertarik pada cerita tersebut.

Berbeda dari sinopsis pendek, sinopsis panjang hampir mirip dengan sebuah rangkuman cerita namun menyimbolkan unsur-unsur penting supaya pembaca tertarik untuk membaca cerita secara keseluruhan.

Untuk lebih jelasnya aku akan memberikan contoh sinopsis pendek yang aku ambil dari novel The Testament (Surat Wasiat) karya John Grisham. Perhatikan contoh berikut.

Troy Phelan – miliader yang sukses berkat kerja keras seumur hidupnya, eksentrik, suka menyendiri, dan hidupnya terikat pada kursi roda- memilih mengakhiri riwayatnya dengan terjun dari lantai empat belas gedung perkantorannya. Keenam anaknya dari ketiga mantan istrinya sudah lama menunggu kematiannya bagai burung pemakan bangkai. Namun isi surat wasiatnya mengejutkan semua pihak, seluruh harta warisannya jatuh ke tangan ahli waris yang tak dikenal – anak di luar nikah yang tak diketahui keberadaannya.

Nate O’Riley – pengacara yang karir dan keluarganya berantakan karena ia kecanduan minuman keras dan obat-obatan terlarang – ditugaskan mencari si ahli waris untuk mendapatkan ketegasan mengenai status harta warisan itu. Kembali ke dunia nyata memang tidak mudah, nyawanya nyaris melayang menghadapi keganasan alam hutan Brasil dan godaan dari dalam dirinya.

__________________________________________

Apa yang kamu rasakan saat membaca sinopsis di atas?. Tertarik membaca lebih lanjut?. Itu poinnya. Sinopsis memang dibuat supaya pembaca penasaran terhadap cerita secara keseluruhan, dan ini bagian dari marketing supaya buku laris terjual. Bagi seorang penulis yang ingin naskahnya terbit sudah saatnya mempelajari cara penulisan sinopsis yang baik supaya bisa merayu penerbit. Tentunya di samping hal lain yang ikut berperan penting pada layak tidaknya naskah diterbitkan, seperti mutu naskah, cara penyampaian (gaya bahasa), pangsa pasar, dll.

Ada dua kunci yang harus kamu pegang ketika membuat sinopsis. Pertama, kamu harus tahu dan bisa menemukan hal yang menarik, menghebohkan, dan unsur pembangkit rasa ingin tahu pembaca dalam ceritamu, dan fokuskan dirimu pada hal tersebut. Jangan pernah berbohong tapi gunakanlah bahasa yang bisa membetot perhatian pembaca. Buat mereka penasaran.

Kunci kedua adalah kamu harus bisa mengidentifikasi kata emas yang menjadi bagian dari ceritamu. Memang hal itu sangat bergantung pada plot dan karakter tetapi tunjukkan pada pembaca nyawa dari ceritamu.

Dan Brown, adalah contoh seorang penulis yang piawai bermain kata dan tahu benar apa yang ingin diketahui oleh pembaca, itulah sebabnya novel-novelnya menjadi best seller. Sebagai contoh The DaVinci Code. Banyak sekali hal menarik yang diramu dengan gaya bahasa yang mempesona sehingga mampu membetot perhatian pembaca. Dan dalam semua karyanya, Brown berhasil membuat pembacanya tersihir. Mengapa buku-bukunya tersebut menjadi mega best seller yang terjual dengan angka mengerikan – jutaan kopi?. Jawabannya simple, Da Vinci Code misalnya merupakan karya yang sungguh berani karena mempertanyakan kebenaran dari sebuah agama. Nah inilah kuncinya. Banyak sekali orang yang tertarik mengetahui kalau ternyata sebuah agama besar yang dianut oleh jutaan orang seluruh dunia, dipertanyakan kebenarannya. Pasti ada banyak kritik yang diterima penulis, tapi tema yang diangkat tersebut memang mampu menarik perhatian publik. Poinnya terlihat jelas yang kemudian diramu dengan gaya bahasa yang mampu meyakinkan pembaca, tak peduli ceritanya benar apa tidak.

Nah ingin tembus penerbitan?. Perbaiki sinopsismu supaya penerbit mempertimbangkan karyamu, atau setidaknya mau membacanya dahulu sebelum memutuskan terbit tidaknya. Jangan sampai penerbit membuang naskah yang dari isinya sebenarnya bagus tapi sinopsisnya membosankan. Nah selamat mencoba!

Diena Ulfaty adalah penulis Inspiring Stories for Kids. Kisah-Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran dan Cinta. Insya Allah terbit September tahun ini.

http://dienaulfaty.wordpress.com

Juli 9, 2008

KRITIK, CARA AMPUH MEMBUNUH PENULIS

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 10:14 pm

KRITIK, CARA AMPUH MEMBUNUH PENULIS

Oleh Diena Ulfaty

Beberapa waktu lalu saya melihat perdebatan sengit di sebuah milis. Isi perdebatan tak lain adalah mengkritisi tema sebuah buku yang memang judulnya membuat beberapa orang menjadi senewen. Saya bahkan sempat berfikir, “wah untung saja bukan saya penulisnya.” Mungkin perdebatan itu akan membuat naskah menjadi laku keras, tetapi jika ini yang diinginkan maka urusannya selesai, tetapi bagaimana kalau hal itu menyentuh “area terlarangnya” sang penulis?. Efeknya bisa berbahaya bisa-bisa penulisnya jadi tidak mood menulis. Yah, untung kalau tidak moodnya cuma untuk tema yang membuat kontroversi saja tetapi bagaimana kalau sang penulis menjadi berhenti total dari karir kepenulisannya?. Meski saya yakin kalau hal seperti ini tidak akan menimpa penulis yang naskahnya sedang diperdebatkan di milis tersebut, tetapi saya mengkhawatirkan nasib penulis-penulis lain yang rentan kritik. Apakah saya ini terlalu mengada-ada, memangnya apa ada seorang penulis yang berhenti menulis gara-gara kritikan pembaca?. Kemungkinan itu selalu ada, itulah sebabnya tema seperti ini menarik minat perfilman Hollywood. Ingat Finding Forrester yang mengangkat kisah seorang penulis sukses yang menghentikan karirnya gara-gara kritikan pedas yang diterimanya?. Kisahnya begitu menyentuh dan saya rasa secara psikologis bisa diterima. Maksud saya, saya bisa menangkap sisi-sisi manusianya seorang penulis. Seorang penulis juga manusia biasa yang kerap melakukan kesalahan sehingga kalau seringkali dikritik lama-lama bisa jadi eneg. Coba Anda bayangkan kalau Anda sendiri dikritik tentang cara Anda makan, minum, bicara, atau segala perilaku Anda, maka lama-lama Anda akan jengkel sendiri. Karena sebagai manusia biasa setiap hari kita melakukan kesalahan. Mungkin secara tidak sengaja ada orang yang kita lukai, atau mungkin kita lupa mengucap basmallah saat makan, atau lupa mengucap salam saat bertemu kawan, atau bahkan melupakan Tuhan sehingga lupa sholat. “Oh man, I’m not an Angel so don’t treat me like that Ok?. I make mistake and that’s fine coz I’m a man. Just a man.

Semua orang akan merasa jengkel kalau segala perilakunya dikritik meski maksud sang pengkritik tadi baik. Tapi menyampaikan kritik harus mengikuti aturan dan memperhatikan kadarnya supaya tidak melukai yang dikritik, dan bersifat membangun tetunya. Kalau saja melupakan kritik pedas merupakan hal mudah maka urusannya selesai. Apa jadinya kalau sang pengkritik itu menggunakan kata-kata “vulgar” yang bisa melukai atau bahkan membunuh “karakter” sang penulis. Bagi yang bermental lemah, mungkin akan serta merta menghentikan karir kepenulisannya tetapi yang bermental baja justru akan bangkit dan berusaha membuktikan kalau sang pengkritik itu salah.

Kritik Positif Vs Kritik Negatif

Mungkin ada yang protes dengan judul di atas dengan dalih kalau selama ini kritik selalu dipandang membunuh lalu mengapa budaya kritik justru dikembangkan. Dan katanya kritik juga mencerdaskan bahkan banyak efek positif yang bisa didapat oleh penulis jika karyanya dikritik. Bahkan banyak penulis yang kemudian menjadi penulis top berangkat dari kritikan-kritikan pembaca.

Memang tidak semua kritik itu jelek, bahkan seorang penulis bisa berkembang dari kritik-kritik yang didapatnya. Bayangkan saja jika seorang penulis pemula atau anak SMP yang baru saja belajar menulis tetapi langsung dipuji-puji dan tidak pernah mendapat kritikan. Tentu saja dia akan merasa kalau tulisannya itu sempurna, lalu apanya yang perlu dirubah jika semuanya sudah sempurna?. Bukankah seseorang akan berubah kalau melihat adanya kekurangan pada dirinya?. Dan tentunya kita memerlukan seorang yang jujur dalam melihat kekurangan kita bukan?. Bukan dengan tujuan menjelek-jelekkan tetapi mengingatkan kalau ada yang kurang dengan tulisan kita. Lalu kritikan macam apa yang memiliki sifat destruktif dan punya potensi membunuh karakter penulis?

1. Jika kritik tersebut tidak membangun

Kritik yang tidak membangun adalah kritik yang sifatnya menghakimi atau menyalahkan penulis tanpa memberikan solusi terhadap karyanya. Biasanya kritik seperti ini hanya menyebutkan sisi jeleknya saja tanpa ada penghargaan sedikit pun. Efek yang ditimbulkannya sudah jelas, yaitu bukannya mengubah “mindset” penulis tetapi malah membuat penulisnya marah. Kritik semacam ini tidak akan memberikan manfaat sedikit pun bagi penulis atau pun orang lain yang membacanya bahkan akan cenderung membuat perdebatan sengit. Ingat, tidak ada seorang pun yang mau dihakimi meski dia itu orang bejat atau bahkan pembunuh sekalipun. So, kalau mau mengkritik, gunakan bahasa yang sopan, baik, dan tidak melukai orang lain. Akan lebih baik lagi kalau disertai solusi sehingga pihak yang dikritik mau mengadakan perubahan.

2. Jika kritik tersebut menyentuh area yang menentang prinsip penulis.

Kadang, seorang penulis tidak menyadari kalau tulisannya bisa berakibat jelek bagi para pembaca. Hal ini pernah dialami oleh seorang novelis terkemuka sekaligus filosof yang ketenarannya melampaui pimpinan Rusia waktu itu. Leo Tolstoy sama sekali tidak menyadari kalau tulisannya membawa arus kritik yang begitu tajam, meski juga banyak sanjungan yang didapatnya. Bahkan novelnya yang berjudul Anna Karenina mengundang arus protes penganut Kristen yang merasa dilecehkan. Apa tujuan Tolstoy menuliskan perselingkuhan yang menimpa seorang penganut agama yang taat? Kritik tersebut begitu mempengaruhi Tolstoy. Sehingga beberapa ahli menyimpulkan kalau Tolstoy mengalami depresi dan meninggalkan dunia penulisan novel karena tidak yakin dengan manfaat yang bisa ia berikan kepada orang lain. Bahkan dia beranggapan kalau sudah membuang banyak waktu hanya untuk menuliskan cerita fiksi yang bisa merusak pembaca (meski tak dipungkiri kalau banyak juga pembaca yang mendapat manfaat dari novelnya itu). Hidupnya tidak tenang karena merasa bersalah. Akhirnya dia berubah menjadi seorang filosof yang bahkan sampai akhir hayatnya mengaku tidak menemukan apa yang dia cari selama ini, yaitu arti kebahagiaan (ketenangan). Nah, selama kritik itu “menyentuh” prinsip penulis atau sang penulis sangat mengagungkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan dia akan menghentikan karirnya saat ada pembaca yang mengatakan kalau dia mendapatkan “celaka” gara-gara membaca buku karya sang penulis tersebut. Saya membicarakan kemungkinan yah, dan bukan kepastian, karena memang banyak sekali karakter penulis yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

3. Jika kritik tersebut tidak jujur dan bersifat menjatuhkan penulis

Tulisan Anda sampah dan tidak layak dibaca, adalah cotoh krtikan yang menjatuhkan penulis. Memang ada penulis yang “cuek” terhadap kritik dan tetap menulis meski ada yang menganggap tulisannya sampah. Yah, selama banyak tong sampah maka tulisan sampah akan laku keras. So, selama tujuan sang penulis adalah untuk meraup uang banyak, maka kritikan semacam ini tidak menjadi masalah. Tetapi kalau penulisnya adalah orang yang peduli terhadap nasib pembaca dan mempercayai perkataan pembaca maka sangat dimungkinkan kritikannya akan menghancurkan karakter sang penulis. Ingat, tidak ada seorang pun yang ingin dihakimi meskipun dia itu pendosa. Bukankah Rasulullah sendiri mengajarkan lemah lembut dalam berdakwah. Dakwah akan gagal jika dilakukan secara kasar begitu juga kritik.

Memang berat beban moral yang dibawa oleh seorang penulis kalau dia menyadari efek dahsyat yang bisa ditimbulkan oleh tulisannya. Kata adalah pedang, so hati-hati menggunakannya karena bisa membunuh seseorang tanpa kita sadari.

Salam penulis,

Regards,

Diena Ulfaty

http://dienaulfaty.wordpress.com

Diena Ulfaty adalah penulis buku Inspiring Stories for Kids. Kisah-Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran, dan Cinta. Insya Allah bukunya segera terbit dalam waktu dekat.

Mei 9, 2008

MENGARANG NOVEL ALA DAN BROWN

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 5:07 pm

MENGARANG NOVEL ALA DAN BROWN

SEBUAH TANTANGAN MATEMATIS

Oleh Diena Ulfaty

 

Pertama kali saya membaca buku Mengarang itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto terbesit pertanyaan dalam benak saya, “benarkah?”. Mengarang yang seperti apa?. Banyak sekali buku “Gampang” lainnya yang beredar di pasar yang membuat pembaca penasaran terhadap isinya. Meskipun pada kenyataannya tidak semudah yang ditulis. Fakta membuktikan banyak sekali penulis “junior” yang masih mengalami kesulitan untuk mengarang meski sudah belajar bertahun-tahun. Bahkan novelis sekaliber Stephen King dalam Stephen King on Writing baru bisa diakui sebagai pengarang setelah bertahun-tahun gagal. Dia harus berjuang selama lebih dari 10 tahun supaya naskahnya diterbitkan!. Tentunya King tidak berpendapat kalau mengarang itu gampang kan tetapi mengarang menjadi gampang kalau sudah tahu jurus-jurusnya. Baca saja kaidah-kaidah penulisan cerita dalam memoarnya yang spektakuler itu, begitu menggugah dan cerdas, serta menunjukkan betapa detilnya King dalam merumuskan kiat-kiat penulisan yang bagus. Tulisannya itu membuat saya sadar kalau mengarang memerlukan imajinasi yang kuat dan pemahaman tentang manusia supaya karangan kita tidak “aneh”. Banyak sekali novel-novel (dalam negeri) yang beredar di pasar memiliki kekurangan dari sisi kekuatan karakter tokoh-tokohnya dan deskripsi keadaan (yang kurang imajinatif). Ini membuktikan kalau mengarang atau menulis cerita diperlukan sebuah keahlian khusus yang didapat dari banyak membaca dan menulis.

Dulu sewaktu saya masih aktif menulis artikel-artikel tentang sains saya menganggap mengarang itu gampang, seperti Arswendo bilang. Saya pikir mengarang itu ibarat orang sedang maaf “berak”. Asal sudah kenyang makan (input) maka secara otomatis tubuh dengan mudah akan mengeluarkan isi perut (output) kecuali orang tersebut sembelit he he…. Makanan saya samakan dengan pengalaman hidup (semua orang pasti punya pengalaman (input)) yang bisa digarap menjadi sebuah karya (output). Artinya semua orang punya potensi untuk menjadi penulis cerita. Mengenai menarik tidaknya itu bergantung pada seberapa unik dan mengesankannya pengalaman itu. Waktu itu saya sama sekali tidak menyadari kalau menulis cerita itu memerlukan teknik-teknik tertentu. Saya kira hanya dengan menekankan perasaan sewaktu menulis cerita itu sudah cukup. Rumusnya simple saja “Gunakan perasaan ketika menulis dan lupakan pikiranmu” maka segalanya akan berjalan sempurna. Ternyata rumus yang diajarkan oleh William Forrester itu itu tidak selamanya benar. Memang kalau kita menuliskan segala sesuatu dengan perasaan (bukan dengan pikiran) maka hasinya tulisan tersebut akan “bernyawa” atau hidup dan bisa mengaduk-aduk emosi pembacanya. Tetapi kalau menginginkan hasil sempurna seperti karya-karya penulis best seller internasional maka rumusan itu masih harus dilengkapi lagi. Mengarang tidak semudah menulis diari, mungkin semua orang bisa menulis diari tentang kisah hidupnya tetapi tidak semua orang bisa menjadi pengarang yang bagus. Sekali lagi saya tekankan kalau menulis cerita memerlukan keahlian khusus yang harus dipelajari dengan serius.

Bagi saya mengarang itu seperti mengerjakan soal hitung-hitungan. Kegairahan saya dalam berhitung sama dengan ketika saya sedang mengarang. Saya begitu menyukai keduanya karena sama-sama melibatkan imajinasi. Dan memang untuk menghasilkan karya yang bagus, seorang pengarang harus memiliki imajinasi yang kuat begitu juga dengan Matematikawan. Tidak percaya?. Pernah mengerjakan soal matematika tentang pembuktian rumus?. Saya kira semua orang yang pernah mengenyam pendidikan di SMA pernah mendapat soal dari guru untuk membuktikan rumus tertentu. Kalau imajinasi siswa tidak kuat, alhasil bukan jawaban yang didapat tetapi sederetan angka dan rumus yang terus mengembang sampai tidak berujung. Beruntung kalau siswa itu menyadari pembuktiannya salah sehingga harus dihentikan, bagaimana kalau tidak?. Hal ini menandakan kalau untuk mengerjakan soal pembuktian diperlukan imajinasi yang kuat terhadap rumus. Imajinasi yang rendah membuat kita kesulitan melihat “masa depan” jawaban dan tersesat dalam rimba angka dan rumus yang ruwet.   

Nah mengarang juga begitu, bagaimana membuat tulisan yang bagus dan tidak membosankan?. Imajinasi kita harus kuat. Ini sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh seorang penulis cerita. Beberapa novel yang saya temui di pasaran memiliki alur yang begitu lambat, dan deskripsi keadaan yang membosankan. Misalnya seorang penulis hendak menuliskan keadaan sebuah kamar kuno. Supaya deskripsinya menarik dia harus bisa mengelompokkan mana benda-benda yang mencerminkan kekunoan dan unik (tidak sama dengan kamar-kamar pada umumnya). Sungguh membosankan kalau penulis harus menceritakan keadaan bantal, selimut dan bentuk ruangan yang pesergi bila benda-benda tersebut tidak memiliki keunikan. Karangan yang terlalu dipenuhi detil-detil yang tidak perlu membuat pembaca ingin segera tidur saat membaca kalimat awalnya, dan ini bencana. Di sinilah letak tantangan pengarang tatkala harus memutuskan bagian mana yang akan diceritakan secara detil dan mana yang tidak. Karena kesalahan dalam pendiskripsian akan membuat cerita nampak membosankan. Jadi seorang penulis harus tahu rumusan yang akan dipakai dan tidak sembarangan menentukan detil-detil mana yang perlu diceritakan supaya “kesegaran” cerita tetap terjaga.

Tingkat menarik tidaknya sebuah cerita juga dipengaruhi oleh kecepatan penceritaan (disamping tema dan bobot ceritanya tentunya). Tak bisa dipungkiri, untuk membuat tulisan dengan kecepatan sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat) memang merupakan sebuah tantangan besar, begitu yang dikatakan King. Banyak sekali penulis cerita yang terjebak di sini, ada yang menuliskan ceritanya dengan alur yang sangat lambat yang membuat pembacanya terkantuk-kantuk, ada pula yang terlalu cepat sehingga pembaca dibuat berfikir terus-terusan. Untuk persoalan kecepatan penulisan saya kira Dan Brown ahlinya. Dan Brown, tak hanya sukses dengan The Da Vinci Codenya, novel-novel karangannya yang lain juga menjadi best seller internasional. Angka penjualan novelnya pun tak tanggung-tanggung, The da Vinci Code misalnya terjual hingga jutaan kopi. Brown memang layak mendapat penghargaan karena disamping novelnya berbobot, gaya bahasa dan kecepatan penceritaannya begitu selaras sehingga menghasilkan cerita yang menawan. Novel-novel Brown memiliki kecepatan sedang yang menandakan kalau Brown benar-benar tahu dan bisa menjaga kecepatan ceritanya sehingga pembaca bisa dibuat penasaran terus sampai buku habis terbaca. Saya pernah menyelesaikan novel Dan Brown setebal 630 halaman dalam waktu 2 malam!. Hmm…kadang-kadang saya berfikir jangan-jangan Brown sudah terbiasa berfikir ala matematikawan sehingga dia tidak pernah tersesat dalam rimba kata-kata yang membosankan dan tak terumuskan. Pantaslah kalau dia disebut-sebut sebagai penulis novel terlaris abad ini. Dan Brown memang jenius!!.

 

Diena Ulfaty adalah penulis Inspiring Stories for Kids, Kisah – Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran dan Cinta. Bukunya Insya Allah akan terbit dalam waktu dekat. Diena bisa dihubungi di dienaulfa@aol.com.  

You can read this article on http://dienaulfaty.wordpress.com and another article in the same genre. Visit my blog then you’ll get another “writing tips”, top stories, writing competitions, and another interesting stuffs. If you need critics for your works, I’ll help you the best I can. No doubt about it. You can contact me privately on my e-mail address dienaulfa@aol.com. See you.

Regards,

Diena Ulfaty

April 17, 2008

Alasan Aku Tidak Menerbitkan Novel-Novelku

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 2:13 pm

Manusia bisa saja berubah tak peduli seberapa kuat ia memegang prinsipnya. Itulah yang kualami. Tahun 2002 ketika aku baru saja lulus kuliah, aku menghabiskan waktu di laboratorium Fisika ITB untuk meneliti bahan superkonduktor. Waktu itu, duniaku serba serius, aku tidak mau membaca cerita seperti novel, cerpen, dan tetek bengek yang kuanggap tidak serius. Maksudku tidak serius adalah isi yang disajikan benar-benar tidak menohok pikiran. Aku suka sekali berfikir, makanya aku baca-baca buku Carl Sagan dan dulu sekali aku suka berdebat tentang teori-teori Harun Yahya. Namun naskah-naskahku (yang mendebat teori Harun Yahya) terkena Trojan horse sehingga tidak bisa aku tampilkan di blogku. Di antara naskahku yang paling ringan dan tidak terkena Trojan horse adalah SISI LAIN DUNIA PENGILMIAHAN AL QUR’AN, yang bisa kamu baca di sini. Tapi sekarang aku sudah tidak suka dengan dunia perdebatan – sudah tobat dan tidak mau diajak debat.

Tapi segalanya segera berubah ketika aku menemukan pengumuman lomba novel DKJ 2003 di internet. Hadiahnya besar sekali kalau gak salah totalnya mencapai 100 juta. Wow, tunggu apa lagi, aku ikutan ah. Teman-teman di lab. aku suruh ikutan semua, benar-benar gila duit he he he. Meski aku benci banget nulis cerita, apalagi baca novel, uuugghh rasanya seperti buang-buang waktu saja. Tapi aku tergiur dengan hadiahnya. Akhirnya aku ikutan lomba tersebut dan di luar dugaan aku masuk finalis lomba tersebut. Ini sebuah miracle yang tak pernah aku sangka-sangka.

Seorang teman di lab bilang, “Diena kamu ini bakat nulis novel juga. Daripada jadi peneliti mending jadi novelis aja, enak bisa terkenal lho.”

“Apa?,” aku kaget. “Mana mungkin aku jadi novelis?. Baca novel aja malesnya minta ampun. Toh kalau bisa jadi finalis itu merupakan sebuah keberuntungan bukan bakat. Lagian aku ini kan orang serius, malu ah sama temen-temen kalo sampe ketahuan nulis novel.”

Tapi sepulang dari lab. aku mikir terus, akhirnya sampailah aku di rumah kos teman jurusan Fisika yang kebetulan menggandrungi novel sains fiksi. Aku baca buku-bukunya. Dan wow, ternyata orang-orang serius Amerika banyak sekali yang jadi novelis, waktu itu aku baru tahu kalo novelis itu pekerjaan keren. Contohnya Michael Crichton (lulusan Fisika Harvard Summa Cum Laude), Carl Sagan (Kosmolog keren), John Grisham (mantan pengacara), dan Cannon Doyle (mantan dokter). Dari orang-orang ini akhirnya aku terinspirasi untuk menjadi novelis (aku tidak malu lagi nulis novel dan dianggap sebagai seorang yang “tidak serius” sama temen-temen). Aku ingin jadi diri sendiri.

Ternyata menulis cerita itu lebih sulit daripada menulis artikel (tidak seperti dugaanku selama ini). Aku pelajari seluk beluk tentang penulisan cerita dari Stephen King (Stephen King on Writing). Wah luar biasa, aku baru sadar kalau menulis cerita itu memerlukan imajinasi yang kuat. Stephen King memang hebat. Aku mencoba menulis seperti dia, sekali, dua kali, tiga kali…sepuluh kali, gagal terus. Gaya penulisannya susah diikuti, begitu detil hingga aku tak sanggup mengikutinya. Akhirnya aku banting setir (karena capek belajar nulis akhirnya jadi banyak-banyak baca novel). Aku baca Sherlock Holmes, novel-novel Agatha Cristie, John Grisham, Stephen King, JK Rowling, dll. Dan terakhir aku begitu terpesona dengan gaya penulisan Dan Brown (The Da Vinci Code, dll.) dan aku coba mengikutinya. Setelah 6 tahun belajar cara menulis cerita dari orang-orang yang kukagumi tersebut akhirnya gaya penulisanku mengalami peningkatan yang begitu signifikan.

Tapi ketika aku begitu mencintai dunia ini, tiba-tiba ada seseorang yang memberitahuku kalau menulis fiksi itu haram. Rasanya susah dipercaya, ketika aku begitu tergoda untuk menulis fiksi lalu dengan tiba-tiba aku harus meninggalkan dunia itu. Alasan orang itu mengatakan haram karena cerita fiksi adalah cerita bohong, tidak ada realitanya, meskipun banyak orang yang tidak keberatan dibohongi karena sangat menikmati ceritanya tetapi bagaimana dengan Allah?. Allah tidak suka kebohongan. Kamu pilih mana, Allah ridho kepadamu atau manusia ridho kepadamu?. Dan bagaimana tanggung jawabmu di hadapan Allah nanti tentang kebohongan yang kamu buat di dalam bukumu?. Tentu saja pertanyaan itu membuatku gemetar. Dan akhirnya aku terpaksa menghentikan hobi menulis fiksi. Padahal waktu itu aku baru saja selesai menulis 2 novel baru (tahun 2005) tapi semuanya tidak pernah kukirimkan ke penerbit. Bahkan seorang teman yang bekerja di Global TV yang tak sengaja menemukan naskahku yang berjudul LATIFA, memintaku untuk menulis skenario film. “Tulisanmu bagus,” katanya, “aku perlu bahan untuk film so please kirimi aku cerita-cerita lainnya yang bisa diadaptasi ke film. Aku perlu orang seperti kamu.” Temenku yang satu ini bener-bener getol kirim sms ke aku dan minta cerpen. “Mana cerpennya kok gak dikirim-kirim?,” tanyanya. Tapi aku selalu saja memberikan alasan sibuk dan sibuk, harus nyelesain ini dan itu. Sampai hampir setahun dia nunggu naskahku tapi aku tidak pernah mengirimkannya.

Bukannya aku tak tergiur tawaran itu, tapi apa daya aku tak bisa berbohong pada diri sendiri. Aku tidak mau menulis fiksi lagi. Sudah cukup. Tapi aku tak pernah menceritakan alasanku kepada teman-temanku, sampai detik ini. Aku tiba-tiba menghilang dari rimba penulisan cerita dalam waktu yang cukup lama, merenung, sedih, bingung, pusing. Ternyata mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi keridhoan Allah itu sulit sekali. Aku benar-benar harus melawan diriku sendiri. Benar-benar menyedihkan.

Suatu saat tanpa kusengaja aku menemukan buku Richard Feynmann (nobelis Fisika) yang masih dalam bahasa Inggris, tapi aku lupa judulnya. Buku itu ditujukan untuk Prof. Said D. Jennie (ketua BPPT sekaligus dosen penerbangan ITB). Prof. Sa’id memberikan buku tersebut kepada suamiku dan sampailah buku itu ke tanganku. Di situ aku baru tahu kalau Richard Feynmann itu Yahudi yang murtad karena sewaktu usianya 7 tahun dia menemukan kebohongan yang dilakukan oleh pendeta di sekolah minggunya. Feynmann berkata, “jadi selama ini aku di sini hanya untuk mendengar cerita bualan yang tidak ada ujungnya?. Bagaimana mungkin agama ini didasarkan pada cerita-cerita bualan semacam ini?. Aku tidak akan datang ke sekolah minggu lagi!

Dalam kisahnya Feynman kecewa gara-gara sang pendeta seringkali memberinya kisah-kisah teladan tentang perjuangan seorang Yahudi demi membela agamanya yang ternyata semua cerita itu adalah fiksi. Dari situ aku baru sadar bahayanya menulis fiksi untuk dakwah . Hal ini benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

Itulah yang menguatkan alasanku untuk tidak menerbitkan Bukan Jules Verne (yang menjadi finalis lomba novel DKJ 2003) dan novel-novelku lainnya seperti Madamma Butterfly dan Latifa (meskipun dengan beraaat hati). Padahal waktu itu (tahun 2006) aku sudah mengontak sebuah penerbit dan novelku sedang ditunggu, tetapi….., dengan berat aku membatalkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis cerita nonfiksi saja dan melupakan 3 novel fiksiku. Tantangan yang kuhadapi cukup berat juga, ternyata sulit cari sumber cerita nonfiksi meski akhirnya dapat juga. Contoh naskah cerpen non fiksiku adalah Sang Marinir yang Sakit Jiwa, dan aku pun menulis buku cerita anak yang semuanya kisah nyata (baca cuplikannya yah!) di sini.

Oya, aku bahkan sempat masuk rumah sakit gara-gara meninggalkan hobiku menulis fiksi. Bahkan tak tanggung-tanggung, aku sakit satu bulan tanpa diketahui penyebabnya. Dokternya pusing, dan memberikan kesimpulan akhir “aku dinyatakan stres berat/tertekan”. Keluargaku pun menyarankan aku untuk kembali menulis fiksi. Tapi apa daya rasa takutku kepada Allah membuatku tak sanggup melakukannya. Bagaimana pun merupakan hal yang sulit melawan diri sendiri dan melakukan sesuatu yang kita yakini itu salah.

Ternyata perjuangan paling sulit dalam hidupku adalah ketika aku harus melawan diriku sendiri hiks…hiks…hiks.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.