KOMENTAR JK. ROWLING MENGENAI FIKSI DAN NON FIKSI
Oleh Diena Ulfaty
Pernahkah kamu bertanya, seberapa efektifkah kisah non fiksi dalam membentuk karakter anak dibanding fiksi?. Apakah kamu juga memiliki kecenderungan untuk membaca kisah-kisah non fiksi yang memiliki nilai-nilai inspiratif dibanding kisah fiksi dengan tema yang sama ?. Kenapa?
Pertanyaan itulah yang sering saya lontarkan kepada diri saya sendiri ketika berada di toko buku dengan uang saku mepet. Saya seringkali dihadapkan pada pilihan yang sulit ketika menemukan buku bagus yang berisi kisah inspiratif (non fiksi) dan fiksi (peraih pernghargaan tertentu). Saya tahu dua-duanya bagus tapi saya harus memilih satu di antara keduanya. Akhirnya setelah melewati pemikiran yang panjang, jatuhlah pilihan saya pada buku non fiksi.
Kenapa saya lebih memilih yang non fiksi? Karena pastinya kisah non fiksi menghadirkan tokoh yang memiliki karakter manusiawi (yang memiliki banyak ketidaksempurnaan seperti layaknya saya). Namun dengan keterbatasan itu dia mampu menyelesaikan masalah yang dinilai berat oleh rata-rata manusia. Berbeda dengan kisah fiksi, biasanya tokoh fiksi memiliki karakter yang hampir sempurna. Sebagai contohnya, saya selalu terkagum-kagum dengan karakter Sherlock Holmes yang menurut saya lebih hebat dari polisi atau detektif lain di dunia (karena di novelnya, Holmes seringkali menggambarkan kalau polisi atau detektif lain itu kelihatan bodoh atau kurang cermat dalam membuat deduksi, yang membuat saya yakin bahwa mungkin saja rata-rata polisi seperti itu, hehe). Dan tentu saja, sulit untuk meniru karakternya yang nyaris sempurna itu. Perasaan skeptis bahwa saya tidak mungkin bisa menirunya (dan memang saya tidak akan menirunya), dan berbagai alasan seperti alur cerita yang sudah diplot sedemikian rupa oleh penulisnya, membuat saya skeptis kalau memang ada tokoh seperti dia di dunia ini. Saya lebih terinspirasi oleh tokoh Sheila yang bisa keluar dari masalahnya yang berat, atau Ellisabeth Gilbert yang mampu mengalahkan depresinya. Karena saya pikir, kalau mereka bisa, saya atau pembaca lain juga pasti bisa. Semangat itu muncul karena saya tahu mereka hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak ketidaksempurnaan, tetapi mereka bisa mengatasi persoalan yang dianggap oleh rata-rata manusia sebagai masalah berat. Mereka bisa melewati takdir hidup yang ditetapkan Tuhan, bukan plot cerita yang dibuat oleh mereka sendiri. Itulah yang membuat saya salut pada mereka dan ingin mengetahui pengalaman dan cara mereka mengatasi masalahnya.
Saya benar-benar tidak menyangka kalau JK Rowling, penulis Harry Potter ternyata memiliki pandangan yang sama dengan saya. Dalam sebuah wawancara dengan situs yang berbasis di Amerika – accio-quote.org, Rowling menyebutkan kalau kisah non fiksi lebih efektif dijadikan inspirasi dibanding kisah fiksi. Meskipun begitu Rowling tetap memilih jalur menulis fiksi. Karena dengan menulis fiksi dia bisa bebas menggunakan imajinasinya. Menurut Rowling, cerita fiksi bisa lebih memberi kesan yang susah dilupakan dibanding non fiksi. Sebagai contohnya, tokoh superman lebih popular dibanding Albert Einstein?. Tak banyak anak atau bahkan orang dewasa yang tahu kisah hidup Einstein meski namanya tercatat sebagai orang genius pencipta formula bom atom, tapi siapa yang tak kenal superman?. Superman begitu berkesan dan popular karena memiliki sifat-sifat hebat yang tak dimiliki manusia umumnya, seperti bisa terbang, dll. Anak-anak begitu mengidolakannya. Tapi sayang dari sisi moral kisah superman tidak dapat menginspirasi anak-anak untuk bertingkah laku baik, sebaliknya mereka malah menyukai atau meniru adegan kekerasan yang ada dalam film itu, untuk menunjukkan kehebatan atau “kejantanan”nya di depan anak-anak lain.
Seperti halnya kisah Harry Potter yang menurut kabarnya memicu aksi bunuh diri seorang anak di Jepang, dan efek negative lain yang tidak pernah diduga oleh penulisnya. Kisah-kisah fiktif lain juga seringkali memiliki efek negatif dan positif. Seperti halnya Rowling yang sejak awal menulis bukan untuk memberi inspirasi anak-anak supaya bisa seperti Harry Potter. Atau mempengaruhi mereka supaya menyukai Harry Potter. “Jika kemudian anak-anak mengidolakan Harry, aku senang,” kata Rowling, “aku juga menyukai Harry, karena karakternya sangat menyenangkan. Tetapi terlepas dari semua itu, aku menciptakan tokoh Harry bukan untuk memberi teladan kepada anak-anak. Aku hanya menulisnya kemudian anak-anak suka.”
Sama seperti Rowling, tahun 2003 ketika saya menulis novel fiksi ilmiah berjudul Bukan Jules Verne yang menjadi finalis lomba novel tingkat nasional yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta 2003. Saya sama sekali tidak memikirkan efek samping dari cerita yang saya buat. Atau menjadikan tokoh Thales yang jenius dikagumi oleh pembaca. Saya hanya menulis karakter yang saya suka dan saya kenal, dan saya senang ketika pembaca menyukai Thales.
Namun meskipun begitu, saya berhenti menulis fiksi dan memilih jalur penulisan non fiksi. Memang dari segi tantangan, menulis fiksi jauh lebih menantang dibanding non fiksi. Tapi dari sisi idealisme saya lebih nyaman menulis non fiksi. Setelah berhenti menulis cerita selama 7 tahun, saya akhirnya memutuskan untuk menulis kisah non fiksi yang berjudul Inspiring Stories for Kids dengan harapan supaya anak-anak mengenal tokoh-tokoh mengagumkan yang nama-namanya tercatat dalam sejarah, dan meneldani sifat-sifat baik mereka. Pun karena saya sependapat dengan Rowling kalau kisah non fiksi lebih efektif untuk dijadikan sumber inspirasi dibanding cerita fiksi.
Nah kalau JK. Rowling dan saya merasa yakin dengan keefektifan kisah non fiksi dalam merubah karakter anak (menginspirasi anak supaya meneladani sifat-sifat sang tokoh). Bagaimana dengan kamu?.
Diena Ulfaty
Penulis Inspiring Stories for Kids. Kisah-Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran, dan Cinta. Buku dapat diperoleh di TB Gramedia, dll, juga bisa pesan langsung ke penulisnya



