Coretanku

Juli 9, 2008

KRITIK, CARA AMPUH MEMBUNUH PENULIS

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 10:14 pm

KRITIK, CARA AMPUH MEMBUNUH PENULIS

Oleh Diena Ulfaty

Beberapa waktu lalu saya melihat perdebatan sengit di sebuah milis. Isi perdebatan tak lain adalah mengkritisi tema sebuah buku yang memang judulnya membuat beberapa orang menjadi senewen. Saya bahkan sempat berfikir, “wah untung saja bukan saya penulisnya.” Mungkin perdebatan itu akan membuat naskah menjadi laku keras, tetapi jika ini yang diinginkan maka urusannya selesai, tetapi bagaimana kalau hal itu menyentuh “area terlarangnya” sang penulis?. Efeknya bisa berbahaya bisa-bisa penulisnya jadi tidak mood menulis. Yah, untung kalau tidak moodnya cuma untuk tema yang membuat kontroversi saja tetapi bagaimana kalau sang penulis menjadi berhenti total dari karir kepenulisannya?. Meski saya yakin kalau hal seperti ini tidak akan menimpa penulis yang naskahnya sedang diperdebatkan di milis tersebut, tetapi saya mengkhawatirkan nasib penulis-penulis lain yang rentan kritik. Apakah saya ini terlalu mengada-ada, memangnya apa ada seorang penulis yang berhenti menulis gara-gara kritikan pembaca?. Kemungkinan itu selalu ada, itulah sebabnya tema seperti ini menarik minat perfilman Hollywood. Ingat Finding Forrester yang mengangkat kisah seorang penulis sukses yang menghentikan karirnya gara-gara kritikan pedas yang diterimanya?. Kisahnya begitu menyentuh dan saya rasa secara psikologis bisa diterima. Maksud saya, saya bisa menangkap sisi-sisi manusianya seorang penulis. Seorang penulis juga manusia biasa yang kerap melakukan kesalahan sehingga kalau seringkali dikritik lama-lama bisa jadi eneg. Coba Anda bayangkan kalau Anda sendiri dikritik tentang cara Anda makan, minum, bicara, atau segala perilaku Anda, maka lama-lama Anda akan jengkel sendiri. Karena sebagai manusia biasa setiap hari kita melakukan kesalahan. Mungkin secara tidak sengaja ada orang yang kita lukai, atau mungkin kita lupa mengucap basmallah saat makan, atau lupa mengucap salam saat bertemu kawan, atau bahkan melupakan Tuhan sehingga lupa sholat. “Oh man, I’m not an Angel so don’t treat me like that Ok?. I make mistake and that’s fine coz I’m a man. Just a man.

Semua orang akan merasa jengkel kalau segala perilakunya dikritik meski maksud sang pengkritik tadi baik. Tapi menyampaikan kritik harus mengikuti aturan dan memperhatikan kadarnya supaya tidak melukai yang dikritik, dan bersifat membangun tetunya. Kalau saja melupakan kritik pedas merupakan hal mudah maka urusannya selesai. Apa jadinya kalau sang pengkritik itu menggunakan kata-kata “vulgar” yang bisa melukai atau bahkan membunuh “karakter” sang penulis. Bagi yang bermental lemah, mungkin akan serta merta menghentikan karir kepenulisannya tetapi yang bermental baja justru akan bangkit dan berusaha membuktikan kalau sang pengkritik itu salah.

Kritik Positif Vs Kritik Negatif

Mungkin ada yang protes dengan judul di atas dengan dalih kalau selama ini kritik selalu dipandang membunuh lalu mengapa budaya kritik justru dikembangkan. Dan katanya kritik juga mencerdaskan bahkan banyak efek positif yang bisa didapat oleh penulis jika karyanya dikritik. Bahkan banyak penulis yang kemudian menjadi penulis top berangkat dari kritikan-kritikan pembaca.

Memang tidak semua kritik itu jelek, bahkan seorang penulis bisa berkembang dari kritik-kritik yang didapatnya. Bayangkan saja jika seorang penulis pemula atau anak SMP yang baru saja belajar menulis tetapi langsung dipuji-puji dan tidak pernah mendapat kritikan. Tentu saja dia akan merasa kalau tulisannya itu sempurna, lalu apanya yang perlu dirubah jika semuanya sudah sempurna?. Bukankah seseorang akan berubah kalau melihat adanya kekurangan pada dirinya?. Dan tentunya kita memerlukan seorang yang jujur dalam melihat kekurangan kita bukan?. Bukan dengan tujuan menjelek-jelekkan tetapi mengingatkan kalau ada yang kurang dengan tulisan kita. Lalu kritikan macam apa yang memiliki sifat destruktif dan punya potensi membunuh karakter penulis?

1. Jika kritik tersebut tidak membangun

Kritik yang tidak membangun adalah kritik yang sifatnya menghakimi atau menyalahkan penulis tanpa memberikan solusi terhadap karyanya. Biasanya kritik seperti ini hanya menyebutkan sisi jeleknya saja tanpa ada penghargaan sedikit pun. Efek yang ditimbulkannya sudah jelas, yaitu bukannya mengubah “mindset” penulis tetapi malah membuat penulisnya marah. Kritik semacam ini tidak akan memberikan manfaat sedikit pun bagi penulis atau pun orang lain yang membacanya bahkan akan cenderung membuat perdebatan sengit. Ingat, tidak ada seorang pun yang mau dihakimi meski dia itu orang bejat atau bahkan pembunuh sekalipun. So, kalau mau mengkritik, gunakan bahasa yang sopan, baik, dan tidak melukai orang lain. Akan lebih baik lagi kalau disertai solusi sehingga pihak yang dikritik mau mengadakan perubahan.

2. Jika kritik tersebut menyentuh area yang menentang prinsip penulis.

Kadang, seorang penulis tidak menyadari kalau tulisannya bisa berakibat jelek bagi para pembaca. Hal ini pernah dialami oleh seorang novelis terkemuka sekaligus filosof yang ketenarannya melampaui pimpinan Rusia waktu itu. Leo Tolstoy sama sekali tidak menyadari kalau tulisannya membawa arus kritik yang begitu tajam, meski juga banyak sanjungan yang didapatnya. Bahkan novelnya yang berjudul Anna Karenina mengundang arus protes penganut Kristen yang merasa dilecehkan. Apa tujuan Tolstoy menuliskan perselingkuhan yang menimpa seorang penganut agama yang taat? Kritik tersebut begitu mempengaruhi Tolstoy. Sehingga beberapa ahli menyimpulkan kalau Tolstoy mengalami depresi dan meninggalkan dunia penulisan novel karena tidak yakin dengan manfaat yang bisa ia berikan kepada orang lain. Bahkan dia beranggapan kalau sudah membuang banyak waktu hanya untuk menuliskan cerita fiksi yang bisa merusak pembaca (meski tak dipungkiri kalau banyak juga pembaca yang mendapat manfaat dari novelnya itu). Hidupnya tidak tenang karena merasa bersalah. Akhirnya dia berubah menjadi seorang filosof yang bahkan sampai akhir hayatnya mengaku tidak menemukan apa yang dia cari selama ini, yaitu arti kebahagiaan (ketenangan). Nah, selama kritik itu “menyentuh” prinsip penulis atau sang penulis sangat mengagungkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan dia akan menghentikan karirnya saat ada pembaca yang mengatakan kalau dia mendapatkan “celaka” gara-gara membaca buku karya sang penulis tersebut. Saya membicarakan kemungkinan yah, dan bukan kepastian, karena memang banyak sekali karakter penulis yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

3. Jika kritik tersebut tidak jujur dan bersifat menjatuhkan penulis

Tulisan Anda sampah dan tidak layak dibaca, adalah cotoh krtikan yang menjatuhkan penulis. Memang ada penulis yang “cuek” terhadap kritik dan tetap menulis meski ada yang menganggap tulisannya sampah. Yah, selama banyak tong sampah maka tulisan sampah akan laku keras. So, selama tujuan sang penulis adalah untuk meraup uang banyak, maka kritikan semacam ini tidak menjadi masalah. Tetapi kalau penulisnya adalah orang yang peduli terhadap nasib pembaca dan mempercayai perkataan pembaca maka sangat dimungkinkan kritikannya akan menghancurkan karakter sang penulis. Ingat, tidak ada seorang pun yang ingin dihakimi meskipun dia itu pendosa. Bukankah Rasulullah sendiri mengajarkan lemah lembut dalam berdakwah. Dakwah akan gagal jika dilakukan secara kasar begitu juga kritik.

Memang berat beban moral yang dibawa oleh seorang penulis kalau dia menyadari efek dahsyat yang bisa ditimbulkan oleh tulisannya. Kata adalah pedang, so hati-hati menggunakannya karena bisa membunuh seseorang tanpa kita sadari.

Salam penulis,

Regards,

Diena Ulfaty

http://dienaulfaty.wordpress.com

Diena Ulfaty adalah penulis buku Inspiring Stories for Kids. Kisah-Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran, dan Cinta. Insya Allah bukunya segera terbit dalam waktu dekat.

Blog pada WordPress.com.