Coretanku

Mei 13, 2008

MARINIR YANG SAKIT JIWA (bagian 3)

Diarsipkan di bawah: Novel, Cerpen, dan Bukuku — Diena @ 4:48 pm

Di bulan Mei yang sendu, Charlie dan istrinya mendatangi Dr. Jan D. Cochrun yang langsung memberinya Valium dan menyarankan Charlie untuk menemui Psikiater yang bernama Dr. Maurice Dean Haethly. Ketika bertemu Charlie, Heatly memiliki pandangan kalau Charlie mirip dengan hampir semua laki-laki Amerika, bedanya adalah Charlie menaruh sikap permusuhan dan memendam kebencian pada ayahnya. Ia berbicara tentang keberhasilannya dulu dan kehancurannya sekarang karena kegagalannya memperoleh beasiswa lagi, serta amarahnya terhadap ayahnya yang sudah tidak terbendung. Dengan mimik wajah yang nampak kurang serius Charlie mengatakan kalau dia suka berfantasi membunuh orang-orang dari atas menara Universitasnya dengan senapan berburu. Namun Heatly mengira kalau itu hanya kelakar Charlie saja atau semacam gertak sambal karena dari penampilan lelaki ini masih nampak waras dan cara bicaranya tidak meledak – ledak. Selain Charlie banyak sekali pasiennya yang mengatakan kata-kata serupa tapi tak ada satu pun yang menjadi kenyataan. Mungkin keinginan itu tidak begitu kuat, seolah Heatly yakin kalau Charlie cukup pintar mengendalikan dirinya sendiri. Charlie juga mengatakan kalau dia ingin bunuh diri dan akan memberikan catatannya kepada Heatly. Akhirnya pertemuan itu berakhir dengan permintaan Heatly untuk datang minggu depan. Sebelum Charlie pergi Heatly memberinya Dexederin.

Charlie menemui Leduc dengan kesedihan yang menumpuk-numpuk. Kini Charlie dalam kondisi terendah karena ia bahkan telah kehilangan imannya dan ingin keluar dari Katolik. Namun meskipun begitu, Charlie masih ingin mengembalikan hidupnya supaya tidak berantakan, kalau seandainya bisa, dia akan mengusahakan semaksimal mungkin supaya segalanya lebih baik. Meski takut berharap akan berhasil, Charlie berusaha bangkit sedikit demi sedikit.

Musim panas telah tiba dan Charlie harus beraktivitas lagi, selain kuliah ia bekerja sebagai asisten peneliti yang bergantung pada Ampetamin Dexedrin. Saking ingin mengembalikan hidupnya yang berantakan, Charlie berusaha keras untuk berperilaku benar, mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, belajar, dan bereksperimen untuk menyelesaikan berbagai macam proyek. Namun karena pengaruh Dexedrin ia tidak bisa memenuhi target pekerjaannya. Siang malam ia bekerja hingga kurang tidur tapi obat itu membuat Charlie tidak maksimal betapapun ia berusaha keras. Karena sering gagal, Charlie kehilangan rasa percaya dirinya dan tentu saja ia semakin terpuruk dalam keputus asaan. Akhirnya ia menyerah. Depresinya semakin parah dan ia makin tenggelam dalam fantasinya untuk membunuh orang.

 

Tumor di Otak Charlie

Bulan Juli segalanya nampak lebih baik ketika Charlie mengantarkan Kathy bekerja di Southwestern Bell untuk mengisi musim panas. Dia sempat mengajak Kathy dan Margaret nonton bioskop dan makan siang di kantin. Ketika Frans Morgan menemui Charlie, lelaki itu nampak baik-baik saja dan tidak nampak seperti sedang terkena masalah. Ketika menjelang malam, saat Charlie sendirian ia menuliskan sebuah pesan bunuh diri yang ditujukan untuk Kathy.

Aku benar benar tidak mengerti kenapa aku begitu ingin menulis surat ini, tulisnya. Mungkin semua ini kulakukan untuk mengurangi rasa bersalahku atas kelakuan kasarku selama ini. Aku ini hanyalah korban dari kebiadaban ayahku dan berbagai macam pikiran gila yang selalu menggangguku. Itulah sebabnya aku menemui Heatly untuk meminta pertolongan. Tetapi pengobatan yang kuharapkan gagal. Heatly sama sekali tidak memahami persoalanku dan malah memberiku Dexederin. Aku ingin ketika aku mati nanti tubuhku diotopsi untuk mengecek apa yang salah dengan otakku sehingga aku menjadi kurang waras seperti ini. Bukankahi terlalu berlebihan bila aku menyusun rencana untuk membunuh istriku malam ini setelah aku menjemputnya dari tempatnya bekerja. Alasanku melakukannya adalah karena aku tidak ingin membiarkan Kathy sendirian menghadapi dunia yang keras ini, dan aku akan menyiapkan kematianku sendiri, alasan itulah yang membuatku ingin membunuh ibuku juga.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, Charlie menghentikan acaranya menulis surat kematian. Dia membuka pintu dan menemukan dua wajah yang tidak asing lagi. Larry dan Eileen Fuess adalah pasangan yang sudah mengenal Charlie. Charlie nampak baik-baik saja bahkan kelihatan senang ketika Fuess bertemu dengannya. Pertemuan itu berakhir pukul setengah sembilan malam.

Charlie membunuh ibunya dan istrinya malam itu juga, kemudian menyiapkan rencana pembunuhan di atas menara Texas keesokan harinya. Namun di saat tak terduga, ketika Charlie sedang mengamati keadaan polisi yang mengepungnya di bawah menara, tiba-tiba beberapa butir peluru melesat mengenai tubuhnya. Charlie mati seperti yang diharapkan, dan polisi yang menembaknya melambaikan handuk hijau sebagai tanda kalau sang marinir yang sakit jiwa itu sudah tewas. Tubuh Charlie yang diselimuti jaket hijau dan noda darah itu diseret ke ruang otopsi. Tim dokter datang untuk mengotopsi otaknya seperti yang tertulis dalam surat kematian. Di luar dugaan, tim dokter menemukan kanker di bagian otak Charlie yaitu di hipotalamusnya. Beberapa ahli mulai berteori kalau kanker itulah yang menyebabkan Charlie berperilaku agresif karena daerah yang terkena kanker letaknya sangat dekat dengan amigdala ¾ sebuah daerah yang mempengaruhi emosi negatifnya. Charlie mati dengan meninggalkan catatan sejarah yang suram bagi Amerika.

 

Referensi  : “Charles Whitman”, www.rotten.com

                        Chaplain Leduc (PDF),

                        “Charles Whitman” from Wikipedia free encyclopedia

                        dan sumber lain.           

ditulis oleh Diena Ulfaty

 

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.