<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: MENGARANG NOVEL ALA DAN BROWN</title>
	<atom:link href="http://dienaulfaty.wordpress.com/2008/05/09/mengarang-novel-ala-dan-brown/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dienaulfaty.wordpress.com/2008/05/09/mengarang-novel-ala-dan-brown/</link>
	<description>Corat Coret yang Aku Suka</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Oct 2009 05:42:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Diena</title>
		<link>http://dienaulfaty.wordpress.com/2008/05/09/mengarang-novel-ala-dan-brown/#comment-149</link>
		<dc:creator>Diena</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 04:23:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dienaulfaty.wordpress.com/?p=61#comment-149</guid>
		<description>Trims sudah berkunjung ke blog saya. Masalah menerbitkan novel memang susah-susah gampang. Rata-rata penulis harus &quot;babak belur&quot; dulu sebelum akhirnya novel atau karyanya lolos terbit. Nah supaya proses tersebut nggak terlalu panjang, sebelum mengirimkan naskah Anda harus survei mengenai jenis novel semacamapa yang diterbitkan oleh penerbit yang Anda tuju. MisAl penerbit Gramedia, biasanya menerbitkan nove teenlit, dll. Perhatikan gaya bahasanya juga, dan yang terpenting yang harus diketahui oleh para penulis adalah penerbit adalah sebuah industri. Jadi biasanya mereka akan menerbitkan naskah-naskah yang diminati pasar. Jadi kadang ada naskah bagus tapi pasar kurang minat sehingga naskah tersebut jadi ditolak. Jangan lupa juga sertakan proposal naskah Anda, lengkapi dengan apa keunggulannya dibanding naskah serupa di pasar, siapa pangsa pasarnya, kira-kira berapa eksemplar yang bisa terjual dalam waktu 1 tahun. Oya satu lagi, sertakan juga usaha Anda dalam memasarkan buku tersebut misal dengan mengadakan launching buku, meminta endorsment (komentar) ke penulis senior yang sekiranya bisa mengangkat penjualan novel Anda. Ini salah satu faktor penting supaya naskah lolos terbit. Siapa yang mengedit? Tentunya editor yang ada di penerbit tersebut. Oke, selamat mencoba.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Trims sudah berkunjung ke blog saya. Masalah menerbitkan novel memang susah-susah gampang. Rata-rata penulis harus &#8220;babak belur&#8221; dulu sebelum akhirnya novel atau karyanya lolos terbit. Nah supaya proses tersebut nggak terlalu panjang, sebelum mengirimkan naskah Anda harus survei mengenai jenis novel semacamapa yang diterbitkan oleh penerbit yang Anda tuju. MisAl penerbit Gramedia, biasanya menerbitkan nove teenlit, dll. Perhatikan gaya bahasanya juga, dan yang terpenting yang harus diketahui oleh para penulis adalah penerbit adalah sebuah industri. Jadi biasanya mereka akan menerbitkan naskah-naskah yang diminati pasar. Jadi kadang ada naskah bagus tapi pasar kurang minat sehingga naskah tersebut jadi ditolak. Jangan lupa juga sertakan proposal naskah Anda, lengkapi dengan apa keunggulannya dibanding naskah serupa di pasar, siapa pangsa pasarnya, kira-kira berapa eksemplar yang bisa terjual dalam waktu 1 tahun. Oya satu lagi, sertakan juga usaha Anda dalam memasarkan buku tersebut misal dengan mengadakan launching buku, meminta endorsment (komentar) ke penulis senior yang sekiranya bisa mengangkat penjualan novel Anda. Ini salah satu faktor penting supaya naskah lolos terbit. Siapa yang mengedit? Tentunya editor yang ada di penerbit tersebut. Oke, selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Prasetya Utama</title>
		<link>http://dienaulfaty.wordpress.com/2008/05/09/mengarang-novel-ala-dan-brown/#comment-148</link>
		<dc:creator>Prasetya Utama</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 02:39:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dienaulfaty.wordpress.com/?p=61#comment-148</guid>
		<description>emm, memang begitu, saya sedang mengarang novel, siapa yang mau mengedit kalau sudah jadi naskahnya.Kedua,trus siapa yang mau menerbitkan. Cukup sekian dulu, terimakasih. Artikel ini cukup menggugah. mengukur kecepatan itu bagaimana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>emm, memang begitu, saya sedang mengarang novel, siapa yang mau mengedit kalau sudah jadi naskahnya.Kedua,trus siapa yang mau menerbitkan. Cukup sekian dulu, terimakasih. Artikel ini cukup menggugah. mengukur kecepatan itu bagaimana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: jafis</title>
		<link>http://dienaulfaty.wordpress.com/2008/05/09/mengarang-novel-ala-dan-brown/#comment-108</link>
		<dc:creator>jafis</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 07:18:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dienaulfaty.wordpress.com/?p=61#comment-108</guid>
		<description>nice post..

emm..jadi pingin belajar lebih banyak..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nice post..</p>
<p>emm..jadi pingin belajar lebih banyak..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Diena</title>
		<link>http://dienaulfaty.wordpress.com/2008/05/09/mengarang-novel-ala-dan-brown/#comment-40</link>
		<dc:creator>Diena</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 23:53:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dienaulfaty.wordpress.com/?p=61#comment-40</guid>
		<description>Makasih sudah memberi komentar di blog ini. Maaf kalo telat balasnya. Begini mbak Vina, hal yang dialami mbak juga dialami oleh penulis yang profesional sekalipun. Kadang membuat kalimat awal yang enak dibaca dan dirasa ternyata susah, padahal pembaca biasanya memutuskan untuk membeli buku atau melanjutkan membaca buku bergantung pada kalimat awal. Jika membosankan pasti proses membaca langsung dihentikan. Tetapi bukan berarti harus nunggu perefect dulu untuk mengawali proses menulis. Tulis saja apa yang mbak rasakan, tuliskan dengan jujur. Biasanya tulisan jujur (keluar dari dalam hati) bisa menyentuh orang lain. Setelah itu baru diedit kalo &quot;sense&quot; bahasanya kurang. Nah, kesulitan kebanyakan penulis pemula adalah kurang bisa mengolah &quot;tulisan yang dianggap jujur tadi&quot;. Atau bahkan tidak tahu itu jujur apa tidak. Kalimat jujur dalam sebuah dialog sama seperti ketika mbak berbicara sama orang lain &quot;tanpa diedit&quot; tapi mengalir dari apa yang mbak rasakan. Tapi sayangnya biasanya penulis pemula malah membuat-buat kalimat sedemikian ruPA SEHINGGA &quot;tidak nampak nyata&quot;. Sebagai contoh ketika ada orang asing, terus mbak mau kenalan , mungkinkah mbak mengatakan, &quot;Halo, kenalkan nama saya Vina, nama kamu siapa?&quot;  Kayaknya nggak mungkin deh mbak ngomong gitu. Terdengar garing dan &quot;nggak realistis&quot;. Mungkin awal pembicaaan dimulai dengan basa-basi lalu merembet ke hal yang sifatnya privat seperti nama, pekerjaan, dll. Kalo masih kesulitan mbak bisa kirim contoh tulisan ke diena.ulfaty@gmail.com, biar saya komentari. Oke selamat mencoba</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makasih sudah memberi komentar di blog ini. Maaf kalo telat balasnya. Begini mbak Vina, hal yang dialami mbak juga dialami oleh penulis yang profesional sekalipun. Kadang membuat kalimat awal yang enak dibaca dan dirasa ternyata susah, padahal pembaca biasanya memutuskan untuk membeli buku atau melanjutkan membaca buku bergantung pada kalimat awal. Jika membosankan pasti proses membaca langsung dihentikan. Tetapi bukan berarti harus nunggu perefect dulu untuk mengawali proses menulis. Tulis saja apa yang mbak rasakan, tuliskan dengan jujur. Biasanya tulisan jujur (keluar dari dalam hati) bisa menyentuh orang lain. Setelah itu baru diedit kalo &#8220;sense&#8221; bahasanya kurang. Nah, kesulitan kebanyakan penulis pemula adalah kurang bisa mengolah &#8220;tulisan yang dianggap jujur tadi&#8221;. Atau bahkan tidak tahu itu jujur apa tidak. Kalimat jujur dalam sebuah dialog sama seperti ketika mbak berbicara sama orang lain &#8220;tanpa diedit&#8221; tapi mengalir dari apa yang mbak rasakan. Tapi sayangnya biasanya penulis pemula malah membuat-buat kalimat sedemikian ruPA SEHINGGA &#8220;tidak nampak nyata&#8221;. Sebagai contoh ketika ada orang asing, terus mbak mau kenalan , mungkinkah mbak mengatakan, &#8220;Halo, kenalkan nama saya Vina, nama kamu siapa?&#8221;  Kayaknya nggak mungkin deh mbak ngomong gitu. Terdengar garing dan &#8220;nggak realistis&#8221;. Mungkin awal pembicaaan dimulai dengan basa-basi lalu merembet ke hal yang sifatnya privat seperti nama, pekerjaan, dll. Kalo masih kesulitan mbak bisa kirim contoh tulisan ke <a href="mailto:diena.ulfaty@gmail.com">diena.ulfaty@gmail.com</a>, biar saya komentari. Oke selamat mencoba</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
