Coretanku

Mei 9, 2008

MENGARANG NOVEL ALA DAN BROWN

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 5:07 pm

MENGARANG NOVEL ALA DAN BROWN

SEBUAH TANTANGAN MATEMATIS

Oleh Diena Ulfaty

 

Pertama kali saya membaca buku Mengarang itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto terbesit pertanyaan dalam benak saya, “benarkah?”. Mengarang yang seperti apa?. Banyak sekali buku “Gampang” lainnya yang beredar di pasar yang membuat pembaca penasaran terhadap isinya. Meskipun pada kenyataannya tidak semudah yang ditulis. Fakta membuktikan banyak sekali penulis “junior” yang masih mengalami kesulitan untuk mengarang meski sudah belajar bertahun-tahun. Bahkan novelis sekaliber Stephen King dalam Stephen King on Writing baru bisa diakui sebagai pengarang setelah bertahun-tahun gagal. Dia harus berjuang selama lebih dari 10 tahun supaya naskahnya diterbitkan!. Tentunya King tidak berpendapat kalau mengarang itu gampang kan tetapi mengarang menjadi gampang kalau sudah tahu jurus-jurusnya. Baca saja kaidah-kaidah penulisan cerita dalam memoarnya yang spektakuler itu, begitu menggugah dan cerdas, serta menunjukkan betapa detilnya King dalam merumuskan kiat-kiat penulisan yang bagus. Tulisannya itu membuat saya sadar kalau mengarang memerlukan imajinasi yang kuat dan pemahaman tentang manusia supaya karangan kita tidak “aneh”. Banyak sekali novel-novel (dalam negeri) yang beredar di pasar memiliki kekurangan dari sisi kekuatan karakter tokoh-tokohnya dan deskripsi keadaan (yang kurang imajinatif). Ini membuktikan kalau mengarang atau menulis cerita diperlukan sebuah keahlian khusus yang didapat dari banyak membaca dan menulis.

Dulu sewaktu saya masih aktif menulis artikel-artikel tentang sains saya menganggap mengarang itu gampang, seperti Arswendo bilang. Saya pikir mengarang itu ibarat orang sedang maaf “berak”. Asal sudah kenyang makan (input) maka secara otomatis tubuh dengan mudah akan mengeluarkan isi perut (output) kecuali orang tersebut sembelit he he…. Makanan saya samakan dengan pengalaman hidup (semua orang pasti punya pengalaman (input)) yang bisa digarap menjadi sebuah karya (output). Artinya semua orang punya potensi untuk menjadi penulis cerita. Mengenai menarik tidaknya itu bergantung pada seberapa unik dan mengesankannya pengalaman itu. Waktu itu saya sama sekali tidak menyadari kalau menulis cerita itu memerlukan teknik-teknik tertentu. Saya kira hanya dengan menekankan perasaan sewaktu menulis cerita itu sudah cukup. Rumusnya simple saja “Gunakan perasaan ketika menulis dan lupakan pikiranmu” maka segalanya akan berjalan sempurna. Ternyata rumus yang diajarkan oleh William Forrester itu itu tidak selamanya benar. Memang kalau kita menuliskan segala sesuatu dengan perasaan (bukan dengan pikiran) maka hasinya tulisan tersebut akan “bernyawa” atau hidup dan bisa mengaduk-aduk emosi pembacanya. Tetapi kalau menginginkan hasil sempurna seperti karya-karya penulis best seller internasional maka rumusan itu masih harus dilengkapi lagi. Mengarang tidak semudah menulis diari, mungkin semua orang bisa menulis diari tentang kisah hidupnya tetapi tidak semua orang bisa menjadi pengarang yang bagus. Sekali lagi saya tekankan kalau menulis cerita memerlukan keahlian khusus yang harus dipelajari dengan serius.

Bagi saya mengarang itu seperti mengerjakan soal hitung-hitungan. Kegairahan saya dalam berhitung sama dengan ketika saya sedang mengarang. Saya begitu menyukai keduanya karena sama-sama melibatkan imajinasi. Dan memang untuk menghasilkan karya yang bagus, seorang pengarang harus memiliki imajinasi yang kuat begitu juga dengan Matematikawan. Tidak percaya?. Pernah mengerjakan soal matematika tentang pembuktian rumus?. Saya kira semua orang yang pernah mengenyam pendidikan di SMA pernah mendapat soal dari guru untuk membuktikan rumus tertentu. Kalau imajinasi siswa tidak kuat, alhasil bukan jawaban yang didapat tetapi sederetan angka dan rumus yang terus mengembang sampai tidak berujung. Beruntung kalau siswa itu menyadari pembuktiannya salah sehingga harus dihentikan, bagaimana kalau tidak?. Hal ini menandakan kalau untuk mengerjakan soal pembuktian diperlukan imajinasi yang kuat terhadap rumus. Imajinasi yang rendah membuat kita kesulitan melihat “masa depan” jawaban dan tersesat dalam rimba angka dan rumus yang ruwet.   

Nah mengarang juga begitu, bagaimana membuat tulisan yang bagus dan tidak membosankan?. Imajinasi kita harus kuat. Ini sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh seorang penulis cerita. Beberapa novel yang saya temui di pasaran memiliki alur yang begitu lambat, dan deskripsi keadaan yang membosankan. Misalnya seorang penulis hendak menuliskan keadaan sebuah kamar kuno. Supaya deskripsinya menarik dia harus bisa mengelompokkan mana benda-benda yang mencerminkan kekunoan dan unik (tidak sama dengan kamar-kamar pada umumnya). Sungguh membosankan kalau penulis harus menceritakan keadaan bantal, selimut dan bentuk ruangan yang pesergi bila benda-benda tersebut tidak memiliki keunikan. Karangan yang terlalu dipenuhi detil-detil yang tidak perlu membuat pembaca ingin segera tidur saat membaca kalimat awalnya, dan ini bencana. Di sinilah letak tantangan pengarang tatkala harus memutuskan bagian mana yang akan diceritakan secara detil dan mana yang tidak. Karena kesalahan dalam pendiskripsian akan membuat cerita nampak membosankan. Jadi seorang penulis harus tahu rumusan yang akan dipakai dan tidak sembarangan menentukan detil-detil mana yang perlu diceritakan supaya “kesegaran” cerita tetap terjaga.

Tingkat menarik tidaknya sebuah cerita juga dipengaruhi oleh kecepatan penceritaan (disamping tema dan bobot ceritanya tentunya). Tak bisa dipungkiri, untuk membuat tulisan dengan kecepatan sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat) memang merupakan sebuah tantangan besar, begitu yang dikatakan King. Banyak sekali penulis cerita yang terjebak di sini, ada yang menuliskan ceritanya dengan alur yang sangat lambat yang membuat pembacanya terkantuk-kantuk, ada pula yang terlalu cepat sehingga pembaca dibuat berfikir terus-terusan. Untuk persoalan kecepatan penulisan saya kira Dan Brown ahlinya. Dan Brown, tak hanya sukses dengan The Da Vinci Codenya, novel-novel karangannya yang lain juga menjadi best seller internasional. Angka penjualan novelnya pun tak tanggung-tanggung, The da Vinci Code misalnya terjual hingga jutaan kopi. Brown memang layak mendapat penghargaan karena disamping novelnya berbobot, gaya bahasa dan kecepatan penceritaannya begitu selaras sehingga menghasilkan cerita yang menawan. Novel-novel Brown memiliki kecepatan sedang yang menandakan kalau Brown benar-benar tahu dan bisa menjaga kecepatan ceritanya sehingga pembaca bisa dibuat penasaran terus sampai buku habis terbaca. Saya pernah menyelesaikan novel Dan Brown setebal 630 halaman dalam waktu 2 malam!. Hmm…kadang-kadang saya berfikir jangan-jangan Brown sudah terbiasa berfikir ala matematikawan sehingga dia tidak pernah tersesat dalam rimba kata-kata yang membosankan dan tak terumuskan. Pantaslah kalau dia disebut-sebut sebagai penulis novel terlaris abad ini. Dan Brown memang jenius!!.

 

Diena Ulfaty adalah penulis Inspiring Stories for Kids, Kisah – Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran dan Cinta. Bukunya Insya Allah akan terbit dalam waktu dekat. Diena bisa dihubungi di dienaulfa@aol.com.  

You can read this article on http://dienaulfaty.wordpress.com and another article in the same genre. Visit my blog then you’ll get another “writing tips”, top stories, writing competitions, and another interesting stuffs. If you need critics for your works, I’ll help you the best I can. No doubt about it. You can contact me privately on my e-mail address dienaulfa@aol.com. See you.

Regards,

Diena Ulfaty

& Komentar »

  1. wow. jadi adakah tips tertentu yang sistematis tentang bagaimana cara menulis yang tidak dengan hati, namun tetap bisa menggugah pembaca untuk terus membaca tulisan kita?

    Komentar oleh Icha — Mei 10, 2008 @ 9:42 pm

  2. bener banget
    sekarang aja , kayaknya hampir kehilangan semangat buat nulis
    tapi demi impian menerbitkan buku , lagi mencoba bersabar mencari ilmu

    Komentar oleh realylife — Mei 11, 2008 @ 7:02 pm

  3. Kalo untuk menulis cerita, tanpa hati yah sulit sekali mbak Icha. Forrester saja mengajarkan pengarang untuk mengedepankan perasaan ketika menulis supaya tulisannya hidup dan mengalir apa adanya. Kalo pakai pikiran kadang penulis jadi macet saat akan menuliskan kalimat awalnya. Pernah nggak mengalami kemacetan pada saat mau menulis?. Dan muncul pertanyaan apa yang mau ditulis yah?. Nah untuk mengatasi hambatan semacam itu, tulislah apa yang kau rasakan saat itu maka ide akan terus mengalir seiring dengan yang kita rasakan.Kalo hanya pakai pikiran (tanpa hati) hmmm…mungkin untuk nulis artikel kesehatan, sains, dll kali yah baru bisa he he..bukan untuk nulis cerita.

    Komentar oleh Diena — Mei 12, 2008 @ 5:54 am

  4. Semangat nulis yang kadang padam kadang muncul dialami oleh siapa saja yang hobi nulis sekalipun. Tp jangan patah semangat, Stephen King aja harus berjuang lebih dari 10 tahun?. Belajar terus supaya tulisan yang kita hasilkan bagus dan bermutu. Semua pengarang awalnya juga dari nol, ditolak penerbit maju terus, ditolak lagi maju terus, dst. Ok, don’t give up!!

    Komentar oleh Diena — Mei 12, 2008 @ 6:05 am

  5. y..niE bAntu bGt bWt aq yG mSh pREmieR..
    tp bLeh g kLo aq miNta yg y..dbkin lBh rinCi lg…
    sPerti gMN qt mEsti mEmuLai sBh cRIta..
    kdg q bingug mEsti muLAi dr mna dn kt apa yg hRs aq tuLIs..

    Komentar oleh viNa akmaLA diEny — Agustus 2, 2008 @ 8:33 pm

  6. Makasih sudah memberi komentar di blog ini. Maaf kalo telat balasnya. Begini mbak Vina, hal yang dialami mbak juga dialami oleh penulis yang profesional sekalipun. Kadang membuat kalimat awal yang enak dibaca dan dirasa ternyata susah, padahal pembaca biasanya memutuskan untuk membeli buku atau melanjutkan membaca buku bergantung pada kalimat awal. Jika membosankan pasti proses membaca langsung dihentikan. Tetapi bukan berarti harus nunggu perefect dulu untuk mengawali proses menulis. Tulis saja apa yang mbak rasakan, tuliskan dengan jujur. Biasanya tulisan jujur (keluar dari dalam hati) bisa menyentuh orang lain. Setelah itu baru diedit kalo “sense” bahasanya kurang. Nah, kesulitan kebanyakan penulis pemula adalah kurang bisa mengolah “tulisan yang dianggap jujur tadi”. Atau bahkan tidak tahu itu jujur apa tidak. Kalimat jujur dalam sebuah dialog sama seperti ketika mbak berbicara sama orang lain “tanpa diedit” tapi mengalir dari apa yang mbak rasakan. Tapi sayangnya biasanya penulis pemula malah membuat-buat kalimat sedemikian ruPA SEHINGGA “tidak nampak nyata”. Sebagai contoh ketika ada orang asing, terus mbak mau kenalan , mungkinkah mbak mengatakan, “Halo, kenalkan nama saya Vina, nama kamu siapa?” Kayaknya nggak mungkin deh mbak ngomong gitu. Terdengar garing dan “nggak realistis”. Mungkin awal pembicaaan dimulai dengan basa-basi lalu merembet ke hal yang sifatnya privat seperti nama, pekerjaan, dll. Kalo masih kesulitan mbak bisa kirim contoh tulisan ke diena.ulfaty@gmail.com, biar saya komentari. Oke selamat mencoba

    Komentar oleh Diena — Agustus 5, 2008 @ 6:53 am

  7. nice post..

    emm..jadi pingin belajar lebih banyak..

    Komentar oleh jafis — Januari 15, 2009 @ 2:18 pm

  8. emm, memang begitu, saya sedang mengarang novel, siapa yang mau mengedit kalau sudah jadi naskahnya.Kedua,trus siapa yang mau menerbitkan. Cukup sekian dulu, terimakasih. Artikel ini cukup menggugah. mengukur kecepatan itu bagaimana?

    Komentar oleh Prasetya Utama — April 22, 2009 @ 9:39 am

  9. Trims sudah berkunjung ke blog saya. Masalah menerbitkan novel memang susah-susah gampang. Rata-rata penulis harus “babak belur” dulu sebelum akhirnya novel atau karyanya lolos terbit. Nah supaya proses tersebut nggak terlalu panjang, sebelum mengirimkan naskah Anda harus survei mengenai jenis novel semacamapa yang diterbitkan oleh penerbit yang Anda tuju. MisAl penerbit Gramedia, biasanya menerbitkan nove teenlit, dll. Perhatikan gaya bahasanya juga, dan yang terpenting yang harus diketahui oleh para penulis adalah penerbit adalah sebuah industri. Jadi biasanya mereka akan menerbitkan naskah-naskah yang diminati pasar. Jadi kadang ada naskah bagus tapi pasar kurang minat sehingga naskah tersebut jadi ditolak. Jangan lupa juga sertakan proposal naskah Anda, lengkapi dengan apa keunggulannya dibanding naskah serupa di pasar, siapa pangsa pasarnya, kira-kira berapa eksemplar yang bisa terjual dalam waktu 1 tahun. Oya satu lagi, sertakan juga usaha Anda dalam memasarkan buku tersebut misal dengan mengadakan launching buku, meminta endorsment (komentar) ke penulis senior yang sekiranya bisa mengangkat penjualan novel Anda. Ini salah satu faktor penting supaya naskah lolos terbit. Siapa yang mengedit? Tentunya editor yang ada di penerbit tersebut. Oke, selamat mencoba.

    Komentar oleh Diena — April 22, 2009 @ 11:23 am


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.