Suatu ketika amarah C. A Whitman kembali meledak. Ia memukul, dan membentak – bentak istrinya. “Aku tahu kalau kelakuanku memang sangat keterlaluan,” kata ayah Charlie menyadari buruknya sikapnya terhadap Margaret, “tapi aku tak kuasa mengontrol emosiku. Lagipula salah siapa kalau aku jadi ingin memukulnya, dia memang layak dipukul karena sifat keras kepalanya itu. Sudah tahu kalau watakku keras tapi dia masih juga berani menentang kemauanku.”
Dalam sebuah pertengkaran C. A Whitman memukul Charlie hingga jatuh terhuyung-huyung lalu tercebur ke kolam renang. Charlie nampak begitu kesakitan saat menemui Fr Leduc, di tubuhnya terdapat bekas pukulan sang ayah. Dalam kondisi yang mengenaskan itu ia membeberkan kekejian ayahnya kepada ketua paduan suara gereja yang hubungannya dengan Charlie lumayan dekat. Leduc sedih mendengar kabar kalau ayah Charlie belum juga berubah sikap sehingga dia pun merasa tak berdaya untuk menolong Charlie. Akhirnya Charlie pulang dalam keadaan mabuk. Dirundung perasaan sedih dan frustasi, Charlie mulai minum arak hingga berminggu-minggu setelah pemukulan itu. Diam-diam dia ingin balas dendam kepada ayahnya.
Sebagai lelaki yang cerdas dengan IQ 138 dan seabreg penghargaan, Charlie mulai menyusun rencana untuk melancarkan misi balas dendamnya. Ketika usianya menginjak 18 tahun, tanpa sepengetahuan ayahnya, Charlie mendaftarkan dirinya ke Korps Marinir untuk amunisi di Parris Island. Ketika ia menaiki kereta menuju Parris Island, ayahnya menelpon cabang pemerintah federal dan meminta mereka menggagalkan pendaftaran Charlie sebagai murid di sana namun permintaannya ditolak.
Akhirnya Charlie lulus seleksi. Dia berangkat ke Guantanamo Naval Base untuk menjalankan tugas pertamanya sebagai marinir. Dia belajar keras supaya mendapatkan hasil terbaik dalam ujian. Dengan kecerdasan dan keuletannya, Charlie bisa mewujudkan impiannya itu. Dia mendapatkan medali perak, medali ekspedisi korps marinir, dan lencana sniper karena kepiawaiannya menembak target bergerak dengan nilai nyaris sempurna. Sehingga membuat semua orang di korps Marinir kagum bahkan yakin kalau Charlie akan menjadi warga negara yang baik.
Sebenarnya Charlie tidak benar-benar ingin mendapatkan sanjungan atas prestasinya itu karena dia melakukan semua itu supaya bisa balas dendam kepada ayahnya. Kalau saja ia memiliki keahlian menembak pasti dengan mudah ia bisa membunuh orang yang diinginkannya tepat sasaran. Mungkin orang lain mengira kalau Charlie adalah lelaki yang sempurna, ganteng, kaya, cerdas, dan memiliki prestasi luar biasa. Tapi sayangnya, anggapan itu salah. Setahun telah berlalu sementara Charlie masih belajar sebagai marinir. Kini C. A Whitman tak lagi bisa semena-mena terhadap Charlie. Namun Charlie masih ingin belajar lebih banyak lagi dengan mengajukan permohonan beasiswa NESEP (The Naval Enlisted Science Education Program), sebuah beasiswa yang didesain untuk melatih seorang insinyur menjadi marinir. Charlie merasa bangga ketika lulus ujian ketat untuk mendapatkan beasiswa yang memberinya uang 250 USD setiap bulannya.
Setahun berlalu ketika Charlie sudah menjadi mahasiswa di Universitas Texas. Charlie mulai berulah setelah menempuh kehidupan yang penuh dengan kedisiplinan di rumah dan menghadapi aturan yang ribet di kampusnya. Charlie dan teman-temannya menembak kijang, menyeretnya ke asrama, lalu mengulitinya dengan shower di kamar mandi. Kejadian sadis itu membuat Charlie kehilangan beasiswanya karena tiba-tiba mereka menghentikan aliran dana untuk kuliah Charlie. Ketika Charlie menikahi teman kampusnya sendiri di tahun 1963 yang bernama Kathleen Frances Leissner ia mulai memperbaiki tingkah lakunya dan kembali melakukan kewajibannya sebagai seorang marinir yang dikirim North Carolina. Dalam perjalanan ke sana Jeep yang dikendarai Charlie mengguling dan masuk ke tambak. Charlie yang nampak terkejut dan tentu saja kesakitan itu menolong teman-temannya yang terjepit di dalam Jeep lalu dia diopname di rumah sakit selama 10 hari.
Rupanya Charlie tidak tahan dengan aturan yang berlaku di militer yang penuh disiplin dan keras. Sementara Kathy¾istri Charlie tidak bersamanya karena harus melanjutkan kuliahnya di Texas, Charlie merasa kesepian. Meski telah berusaha untuk mendapatkan kembali beasiswanya tetapi semuanya nampak sia-sia. Seberapa keras pun usahanya dia tidak bisa meraih beasiswa itu lagi karena daftar kriminal yang dilakukan Charlie. Dia mulai mengkoleksi pistol ilegal karena kebenciannya kepada Korps Marinir. Tingkah laku Charlie mulai tidak terkontrol. Di bulan November Charlie mulai berjudi, memiliki simpanan senjata ilegal, dan menjadi rentenir dengan harapan uangnya akan cepat berkembang. Dia suka mengancam marinir lain dan menakut-nakuti mereka dengan kekerasan. Charlie akhirnya turun jabatan menjadi prajurit biasa dengan mendapat kurungan penjara selama 30 hari dan 90 hari sebagai romusa setelah kelakuan bejatnya terbongkar. Charlie menghubungi ayahnya untuk meminta pertolongan tapi ayahnya tidak lagi peduli terhadapnya. Ketika Charlie merasa sangat tertekan, tiba-tiba Korps Marinir mengeluarkan surat pemecatan. Charlie marah tapi tak bisa melakukan apa-apa, dia juga merasa malu dan dipermalukan.
Depresi
Pada bulan Desember 1964 Charlie akhirnya dipecat dengan tidak hormat dari Korps Marinir dan kembali mendaftar ke Universitas Texas untuk jurusan arsitektur. Charlie harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri sebagai penagih hutang untuk perusahaan yang bergerak di bidang perbankan selama kira-kira setahun. Sementara Charlie gonta ganti pekerjaan, Kathy ¾ istrinya menekuni profesinya sebagai guru di Lannier High School. Kehidupan rumah tangga Charlie berangsur-angsur berantakan. Charlie menjadi mudah marah dan suka menyiksa istrinya. Meski begitu ia tidak lupa minta maaf kepada Kathy atas kelakuan kasarnya dan mengatakan kalau dirinya tidak bisa mengendalikan diri. Namun seperti lingkaran setan, Charlie terkungkung dalam kepribadian ayahnya yang suka melakukan kekerasan. Tobatnya tidak sungguh-sungguh meski dia telah bersumpah tidak akan menyiksa Kathy lagi karena baginya hal itu sungguh tidak manusiawi. Dia marah karena dia benci kekerasan, dia marah karena harus melakukan hal yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya, dia marah karena harus hidup dalam bayang-bayang sang ayah. Padahal dia mengetahui hak-hak Kathy sebagai istrinya, seperti saat hendak menikahinya Charlie bersumpah akan memperlakukan Kathy dengan baik, menafkahi lahir dan batinnya, dan bersumpah tidak akan meniru kelakuan ayahnya yang bejat itu. Tapi sekarang ia bahkan begitu khawatir dengan uang yang dia berikan ke Kathy, ia khawatir kalau Kathy membelanjakan uang lebih banyak daripada Charlie.
Kathy mulai tidak tahan dengan sikap Charlie yang mudah meledak, dia mengancam untuk bercerai tapi Charlie tidak setuju. Mulai saat itu kegilaan Charlie memuncak, dia suka menulis tentang sikap – sikap yang harus dia lakukan terhadap Kathy lalu mempraktekkannya. Kalau gagal dia menyumpahi dirinya untuk tidak mengulangi lagi. Dia sering mengingatkan dirinya untuk menghormati Kathy. Kata-katanya seringkali tak terkontrol, bahwa dia harus begini dan begitu supaya Kathy senang, bahwa seorang suami yang baik adalah yang mengormati istrinya. Charlie berubah menjadi robot yang menakutkan hingga dia harus menulis semua yang akan dilakukannya. Besok harus begini, kalau tidak begini maka begitu. Charlie semakin terbenam dalam keputusasaan. Dia makin membenci dirinya karena perubahan yang memalukan itu. Lelaki yang dulunya rajin, cerdas dengan segudang prestasi lagi sangat menyayangi sang istri, menghormatinya dan begitu baik telah berubah menjadi monster yang mengerikan. Di saat itu dia sudah kehilangan semangat hidup dan ingin sekali bunuh diri.
Telpon berdering. Charlie bangkit lalu mengangkatnya. Terdengar suara ayahnya di seberang sana, lagi – lagi dia minta Charlie untuk membujuk ibunya supaya mau kembali. Charlie marah. Dia bersumpah tidak akan membiarkan ibunya disiksa lagi dan ia menjamin kalau ibunya akan baik-baik saja tanpa ayahnya. Telpon diputus ketika amarah Charlie kembali memuncak.
C. A Whitman sudah kehabisan akal sehingga dia harus minta bantuan Charlie supaya Margaret mau kembali padanya. Dia bahkan rela bersujud di depan istrinya dengan air mata bercucuran tapi hati Margaret telah beku. Berulangkali C. A Whitman melakukan hal yang seperti itu tapi yang namanya watak keras itu susah berubah. Pemukulan itu pasti akan terjadi lagi seperti yang sudah sudah. Jadi perceraian adalah jalan terbaik supaya Margaret tidak mengalami kekerasan lagi.
Menemui Psikiater
Charlie nampak begitu membosankan pagi itu ketika Kathy pulang ke rumah dan menemukan suaminya dalam keadaan awut-awutan. Charlie nampak gemuk yang menandakan bahwa dia tidak bisa mengontrol nafsu makannya, mukanya mengerikan seperti tidak terurus. Kathy mendatanginya, lalu pelan-pelan membujuk Charlie untuk menemui psikiater karena kegelisahan dan depresi yang dialami Charlie semakin parah. Charlie menyetujui saran istrinya.
Bersambung….



