Coretanku

April 17, 2008

Alasan Aku Tidak Menerbitkan Novel-Novelku

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 2:13 pm

Manusia bisa saja berubah tak peduli seberapa kuat ia memegang prinsipnya. Itulah yang kualami. Tahun 2002 ketika aku baru saja lulus kuliah, aku menghabiskan waktu di laboratorium Fisika ITB untuk meneliti bahan superkonduktor. Waktu itu, duniaku serba serius, aku tidak mau membaca cerita seperti novel, cerpen, dan tetek bengek yang kuanggap tidak serius. Maksudku tidak serius adalah isi yang disajikan benar-benar tidak menohok pikiran. Aku suka sekali berfikir, makanya aku baca-baca buku Carl Sagan dan dulu sekali aku suka berdebat tentang teori-teori Harun Yahya. Namun naskah-naskahku (yang mendebat teori Harun Yahya) terkena Trojan horse sehingga tidak bisa aku tampilkan di blogku. Di antara naskahku yang paling ringan dan tidak terkena Trojan horse adalah SISI LAIN DUNIA PENGILMIAHAN AL QUR’AN, yang bisa kamu baca di sini. Tapi sekarang aku sudah tidak suka dengan dunia perdebatan – sudah tobat dan tidak mau diajak debat.

Tapi segalanya segera berubah ketika aku menemukan pengumuman lomba novel DKJ 2003 di internet. Hadiahnya besar sekali kalau gak salah totalnya mencapai 100 juta. Wow, tunggu apa lagi, aku ikutan ah. Teman-teman di lab. aku suruh ikutan semua, benar-benar gila duit he he he. Meski aku benci banget nulis cerita, apalagi baca novel, uuugghh rasanya seperti buang-buang waktu saja. Tapi aku tergiur dengan hadiahnya. Akhirnya aku ikutan lomba tersebut dan di luar dugaan aku masuk finalis lomba tersebut. Ini sebuah miracle yang tak pernah aku sangka-sangka.

Seorang teman di lab bilang, “Diena kamu ini bakat nulis novel juga. Daripada jadi peneliti mending jadi novelis aja, enak bisa terkenal lho.”

“Apa?,” aku kaget. “Mana mungkin aku jadi novelis?. Baca novel aja malesnya minta ampun. Toh kalau bisa jadi finalis itu merupakan sebuah keberuntungan bukan bakat. Lagian aku ini kan orang serius, malu ah sama temen-temen kalo sampe ketahuan nulis novel.”

Tapi sepulang dari lab. aku mikir terus, akhirnya sampailah aku di rumah kos teman jurusan Fisika yang kebetulan menggandrungi novel sains fiksi. Aku baca buku-bukunya. Dan wow, ternyata orang-orang serius Amerika banyak sekali yang jadi novelis, waktu itu aku baru tahu kalo novelis itu pekerjaan keren. Contohnya Michael Crichton (lulusan Fisika Harvard Summa Cum Laude), Carl Sagan (Kosmolog keren), John Grisham (mantan pengacara), dan Cannon Doyle (mantan dokter). Dari orang-orang ini akhirnya aku terinspirasi untuk menjadi novelis (aku tidak malu lagi nulis novel dan dianggap sebagai seorang yang “tidak serius” sama temen-temen). Aku ingin jadi diri sendiri.

Ternyata menulis cerita itu lebih sulit daripada menulis artikel (tidak seperti dugaanku selama ini). Aku pelajari seluk beluk tentang penulisan cerita dari Stephen King (Stephen King on Writing). Wah luar biasa, aku baru sadar kalau menulis cerita itu memerlukan imajinasi yang kuat. Stephen King memang hebat. Aku mencoba menulis seperti dia, sekali, dua kali, tiga kali…sepuluh kali, gagal terus. Gaya penulisannya susah diikuti, begitu detil hingga aku tak sanggup mengikutinya. Akhirnya aku banting setir (karena capek belajar nulis akhirnya jadi banyak-banyak baca novel). Aku baca Sherlock Holmes, novel-novel Agatha Cristie, John Grisham, Stephen King, JK Rowling, dll. Dan terakhir aku begitu terpesona dengan gaya penulisan Dan Brown (The Da Vinci Code, dll.) dan aku coba mengikutinya. Setelah 6 tahun belajar cara menulis cerita dari orang-orang yang kukagumi tersebut akhirnya gaya penulisanku mengalami peningkatan yang begitu signifikan.

Tapi ketika aku begitu mencintai dunia ini, tiba-tiba ada seseorang yang memberitahuku kalau menulis fiksi itu haram. Rasanya susah dipercaya, ketika aku begitu tergoda untuk menulis fiksi lalu dengan tiba-tiba aku harus meninggalkan dunia itu. Alasan orang itu mengatakan haram karena cerita fiksi adalah cerita bohong, tidak ada realitanya, meskipun banyak orang yang tidak keberatan dibohongi karena sangat menikmati ceritanya tetapi bagaimana dengan Allah?. Allah tidak suka kebohongan. Kamu pilih mana, Allah ridho kepadamu atau manusia ridho kepadamu?. Dan bagaimana tanggung jawabmu di hadapan Allah nanti tentang kebohongan yang kamu buat di dalam bukumu?. Tentu saja pertanyaan itu membuatku gemetar. Dan akhirnya aku terpaksa menghentikan hobi menulis fiksi. Padahal waktu itu aku baru saja selesai menulis 2 novel baru (tahun 2005) tapi semuanya tidak pernah kukirimkan ke penerbit. Bahkan seorang teman yang bekerja di Global TV yang tak sengaja menemukan naskahku yang berjudul LATIFA, memintaku untuk menulis skenario film. “Tulisanmu bagus,” katanya, “aku perlu bahan untuk film so please kirimi aku cerita-cerita lainnya yang bisa diadaptasi ke film. Aku perlu orang seperti kamu.” Temenku yang satu ini bener-bener getol kirim sms ke aku dan minta cerpen. “Mana cerpennya kok gak dikirim-kirim?,” tanyanya. Tapi aku selalu saja memberikan alasan sibuk dan sibuk, harus nyelesain ini dan itu. Sampai hampir setahun dia nunggu naskahku tapi aku tidak pernah mengirimkannya.

Bukannya aku tak tergiur tawaran itu, tapi apa daya aku tak bisa berbohong pada diri sendiri. Aku tidak mau menulis fiksi lagi. Sudah cukup. Tapi aku tak pernah menceritakan alasanku kepada teman-temanku, sampai detik ini. Aku tiba-tiba menghilang dari rimba penulisan cerita dalam waktu yang cukup lama, merenung, sedih, bingung, pusing. Ternyata mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi keridhoan Allah itu sulit sekali. Aku benar-benar harus melawan diriku sendiri. Benar-benar menyedihkan.

Suatu saat tanpa kusengaja aku menemukan buku Richard Feynmann (nobelis Fisika) yang masih dalam bahasa Inggris, tapi aku lupa judulnya. Buku itu ditujukan untuk Prof. Said D. Jennie (ketua BPPT sekaligus dosen penerbangan ITB). Prof. Sa’id memberikan buku tersebut kepada suamiku dan sampailah buku itu ke tanganku. Di situ aku baru tahu kalau Richard Feynmann itu Yahudi yang murtad karena sewaktu usianya 7 tahun dia menemukan kebohongan yang dilakukan oleh pendeta di sekolah minggunya. Feynmann berkata, “jadi selama ini aku di sini hanya untuk mendengar cerita bualan yang tidak ada ujungnya?. Bagaimana mungkin agama ini didasarkan pada cerita-cerita bualan semacam ini?. Aku tidak akan datang ke sekolah minggu lagi!

Dalam kisahnya Feynman kecewa gara-gara sang pendeta seringkali memberinya kisah-kisah teladan tentang perjuangan seorang Yahudi demi membela agamanya yang ternyata semua cerita itu adalah fiksi. Dari situ aku baru sadar bahayanya menulis fiksi untuk dakwah . Hal ini benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

Itulah yang menguatkan alasanku untuk tidak menerbitkan Bukan Jules Verne (yang menjadi finalis lomba novel DKJ 2003) dan novel-novelku lainnya seperti Madamma Butterfly dan Latifa (meskipun dengan beraaat hati). Padahal waktu itu (tahun 2006) aku sudah mengontak sebuah penerbit dan novelku sedang ditunggu, tetapi….., dengan berat aku membatalkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis cerita nonfiksi saja dan melupakan 3 novel fiksiku. Tantangan yang kuhadapi cukup berat juga, ternyata sulit cari sumber cerita nonfiksi meski akhirnya dapat juga. Contoh naskah cerpen non fiksiku adalah Sang Marinir yang Sakit Jiwa, dan aku pun menulis buku cerita anak yang semuanya kisah nyata (baca cuplikannya yah!) di sini.

Oya, aku bahkan sempat masuk rumah sakit gara-gara meninggalkan hobiku menulis fiksi. Bahkan tak tanggung-tanggung, aku sakit satu bulan tanpa diketahui penyebabnya. Dokternya pusing, dan memberikan kesimpulan akhir “aku dinyatakan stres berat/tertekan”. Keluargaku pun menyarankan aku untuk kembali menulis fiksi. Tapi apa daya rasa takutku kepada Allah membuatku tak sanggup melakukannya. Bagaimana pun merupakan hal yang sulit melawan diri sendiri dan melakukan sesuatu yang kita yakini itu salah.

Ternyata perjuangan paling sulit dalam hidupku adalah ketika aku harus melawan diriku sendiri hiks…hiks…hiks.

Penulis, Jangan Gagap Marketing Dong!

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 1:32 pm

oleh Diena Ulfaty

Saya pernah berdialog via email dengan Pak Edy Zaqeus, seorang penulis best seller, konsultan dan publisher. Saya senang sekali beliau ini mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang kelihatan sepele mengenai distributor buku, cara menghubungi mereka, dan mekanisme self publishing. Nah dalam dialog tersebut saya juga menanyakan tentang judul buku saya Inspiring Stories for Kids, Kisah-Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran dan Cinta. Apakah judul tersebut memiliki potensi untuk bestseller?. Beliau menjawabnya, “judul tersebut Oke tetapi untuk menjadi best seller Anda harus melakukan beberapa hal yang sudah saya bahas di dalam buku saya.” Saya terkaget-kaget mendengar jawaban ini. Ooh jadi supaya best seller, menulis cerita yang bagus saja ternyata tidak cukup, ada beberapa hal yang perlu diketahui penulis supaya bukunya bestseller. Hal yang saya maksudkan di sini adalah yang berkaitan dengan marketing.

Masalah marketing memang kurang menjadi perhatian bagi para penulis, apalagi penulis pemula yang sibuk memikirkan bagaimana supaya naskahnya bisa tembus ke penerbit. Beberapa penulis senior malah disibukkan oleh kontrak kerjasama penerbit yang merugikan penulis (banyak penulis yang komplain kalau karya mereka tidak dihargai sepantasnya). Ketika mendapat jawaban dari Pak Edy, saya teringat dengan kasus penulis yang nasibnya terkatung-katung gara-gara dikibuli penerbit tapi masih tetap mau menulis dan setia dengan penerbit itu. Aneh juga yah. Dalam benak saya timbul pertanyaan, kenapa juga mereka ini tidak memulai self publishing dan mencari seluk beluk tentang marketingnya.

Ketika saya mau menerbitkan Inspiring Stories for Kids saya mencari tahu hal-hal apa saja yang perlu saya ketahui supaya naskah saya bisa laku keras. Meski saya sendiri juga masih relatif baru di dunia publishing dan tertarik untuk mengabaikan pasar karena sebagai penulis yang baru pertama kali menerbitkan naskahnya kenapa juga berfikir untuk best seller?. Naskah terbit sudah merupakan hal yang bagus dan menyenangkan dan tidak perlu berfikir keras lagi mengenai bagaimana pemasarannya. Tapi saya selalu tergelitik untuk tahu kenapa sih sebuah buku bisa best seller?. Saya akan bagikan informasi yang saya ketahui mengenai marketing. Sebagian besar saya ambil dari ebook gratisnya Scott Jeffrey tentang 60 Effective Strategies for Selling more Books. A Best Seller Marketing Apoproach. Kenapa saya tekankan marketing di sini?. karena semakin banyak orang tahu tentang kualitas buku Anda tentunya semakin besar peluang buku tersebut akan dibeli orang. Saya saja tertarik membeli buku The Da Vinci Code karena tanpa sengaja saya menemukan resensi buku tersebut di Republika, resensinya oke banget. Untuk orang-orang seperti saya yang sulit sekali pergi ke toko buku (karena tempat yang jauh sekali dan kurangnya waktu), peran media seperti itu sangat penting untuk memasarkan sebuah karya. Selain resensi tentunya banyak metode lain yang bisa ditempuh untuk memasarkan buku.

Berikut ini hal-hal yang perlu diketahui oleh penulis tentang marketing:

1. Anda harus tahu dengan jelas target pasar yang Anda tuju. Siapa saja yang kira-kira menyukai karya Anda?

2. Anda harus tahu dimana Anda bisa menemukan konsumen buku-buku Anda

3. Anda harus bisa mengindetifikasi kompetisi. Buatlah sebuah riset mengenai buku genre apa yang best seller di pasaran?. Siapa ahlinya?. Mana websitenya?. Carilah situs-situs yang terkait dan bacalah buku-buku mereka dan tandai.

4. Lengkapi dengan statemen mengenai diri Anda di akhir karya. Statemen biasanya berupa kalimat lengkap yang memberitahukan tentang apa yang Anda lakukan?, Apa yang Anda tawarkan dan Mengapa Anda begitu berbeda dari penulis lain.

5. Bangunlah sebuah strategi. Carilah target yang cocok untuk memasarkan buku Anda seperti majalah, koran, situs, ahli, event-event tertentu, dll. Mintalah peresensi buku untuk meresensi karya Anda dan menyebarkannya ke media massa, atau jika Anda seorang dosen yang sering mengadakan seminar sudah selayaknya Anda memanfaatkan event-event ini untuk memasarkan buku Anda, dll.

Untuk mengetahui dengan jelas keinginan pasar Anda harus menanyakan beberapa hal berikut :

  1. Apa yang mereka butuhkan?
  2. Bagaimana mereka bisa memperoleh buku Anda dan apa servis Anda terhadap pembaca?
  3. Apa yang membuat buku Anda begitu unik dan berbeda dari kebanyakan buku di pasar?
  4. Solusi apa yang Anda tawarkan?
  5. Cara apa yang paling bagus untuk mengemasnya?
  6. Dengan siapa Anda bisa mengkomunikasikan ide tersebut?

Cara di atas hanyalah ringkasan dari pendekatan market yang perlu dilakukan, selengkapnya Anda bisa membaca sendiri karya Scott Jefrey yang bisa didownload di blog saya.

———————————————————————————-

Kalau kamu punya ide atau saran lain tentang marketing bagi-bagi dong. Komen kamu sangat dibutuhkan supaya yang lainnya pada melek marketing. Oke, semangat menulis!!!

Diena bisa dihubungi di dienaulfa@aol.com.

Hal-Hal yang Membuat Karir Publishing Hancur

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing — Diena @ 1:23 pm

Oleh CF Jackson

Diterjemahkan oleh Diena Ulfaty (dienaulfa@aol.com)

Pasar perbukuan begitu menggairahkan, sampai-sampai ada sekitar 175000 buku yang dipublikasikan tahun 2005. Tentu saja hal tersebut diiringi dengan pertambahan jumlah self-publishing yang sangat tajam dan laju permintaan cetak buku yang terus meningkat namun pada kenyataannya banyak juga penerbit-penerbit yang mati dalam waktu singkat.

Memang untuk mendirikan sebuah penerbitan memerlukan resiko yang besar. Apakah Anda termasuk seorang yang berani mengambil resiko?. Apapun yang Anda lakukan, apakah Anda ingin menerbitkan novel atau yang lainnya, sudah waktunya Anda mengisi beberapa porsi intreprener di dalam otak Anda.

Namun kebanyakan pebisnis ini tidak mempedulikan hasil karena motivasi mereka untuk sukses sangat tinggi. Bahkan beberapa penulis tetap nyaman untuk meningkatkan kreativitasnya meskipun karyanya dihargai rendah. Apa yang membuat idelogi semacam ini begitu merugikan? Padahal karya-karya para penulis merupakan investasi yang harus dikelola dengan baik. Jika Anda seorang penulis, selain Anda memiliki karya untuk dibaca dan dikritik oleh banyak orang, Anda harus memikirkan juga apa yang membuat diri Anda begitu unik di antara ratusan penulis lainnya. Dan kalau Anda yakin dengan kemampuan menulis yang Anda miliki dan kualitas karya yang Anda hasilkan, kenapa Anda tidak mencoba mengambil resiko untuk menerbitkan karya Anda sendiri?

Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan jika Anda ingin memulai sebuah bisnis :

  1. Anda harus gigih, tekun, ulet
  2. Anda harus kreatif
  3. Anda harus sabar

Selain hal di atas yang tak kalah pentingnya adalah Anda harus tahu seluk beluk mengenai bisnis yang Anda geluti. Tidak jarang pebisnis yang bangkrut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka mengenai bisnis yang mereka jalankan. Tak ada seorang pebisnis yang sukses menjalankan bisnisnya kalau tidak mengetahui seluk beluk bisnis mereka. Sebagai contoh Oprah Winfrey, Donald Trump dan Bill Gates.

Supaya bisa sukses dalam bisnis penerbitan, Anda harus faham benar tentang dunia sastra (perbukuan). Jika tidak, Anda seperti seorang yang membeli mobil tapi tidak tahu arah yang jelas akan kemana Anda pergi dengan mobil baru Anda. Nah supaya Anda paham dengan bisnis yang Anda geluti, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan :

1. Bertanya kepada pakarnya

2. Melakukan riset untuk beberapa waktu

3. Anda harus yakin dengan pengetahuan Anda tersebut

Terakhir dan yang tak kalah pentingnya adalah marketing. Sungguh mengherankan kalau banyak sekali fakta yang menunjukkan kalau sebagian besar penulis tidak paham sama sekali tentang marketing. Kebanyakan di antara mereka meyakini kalau penerbit (yang menerbitkan buku mereka) akan membantu promosi dan memasarkan buku yang mereka tulis. Tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Ini adalah bisnis Anda wahai penulis dan penerbit tersebut sudah menginvestasikan dananya untukmu seperti biaya percetakan, promosi, dll. Pekerjaan penulis selanjutnya adalah mempunyai website, menciptakan tulisan-tulisan baru, melakukan interview, dll.

Banyak sekali penulis yang telah mempublikasikan naskahnya yang akhirnya gagal. Banyak yang menyangka kalau penulis yang menerbitkan karyanya sendiri harus mau bersusah payah memasarkannya dan promosi gencar-gencaran. Saya harus memberitahu Anda kalau anggapan Anda itu salah. Semua penulis yang karyanya dipublikasikan (baik sendiri atau oleh sebuah penerbitan) harus bisa memasarkan karyanya sendiri. Mana mungkin Anda menulis sebuah karya yang akan sampai ke pembaca tanpa memasarkannya?.

Untuk memasarkannya Anda harus melakukan hal-hal berikut ini :

1. Berfikirlah luas.

2. Pasarkan tiap hari dengan level tertentu

3. Beri keterangan jelas tentang kelebihan-kelebihan bukumu

4. Anda harus punya website yang user friendly

Lakukan hal-hal yang bermanfaat supaya karya Anda bisa tersebar luas dan hindari hal-hal yang bisa menghancurkan karir publishing Anda. Ini merupakan sebuah tantangan yang memerlukan banyak energi dan kesabaran. Nikmatilah proses ini supaya Anda tidak merasa kelelahan. Sebagai seorang penulis Anda harus multi dimentional dan memiliki wawasan intreprener.

C.F. Jackson adalah penulis e-book The Self Publisher’s Little Black Book : The Resource Book to Self Publishing for Writers, Authors and Poets. This author has been nominated Atlanta Daily Worlds Reader’s Choice for Author of The Year 2005 for the suspense fiction novel, Won’t be denied. Visit http://www.cfjackson.us to learn more about this author and or contact.

Blog pada WordPress.com.