SANG MARINIR YANG SAKIT JIWA
(based on true story)
oleh Diena Ulfaty
Margaret Whitman nampak begitu riang saat bertemu dengan seorang lelaki berbadan kekar sekokoh menara Texas dan berambut pirang dengan potongan ala mariner di lobi apartemennya, The Penthouse pada tengah malam yang tenang. Janda yang baru saja bercerai dari suaminya itu langsung mempersilahkan lelaki yang nampak dikenalnya dengan baik itu. Memang sebelumnya dia mengadakan perjanjian dengan lelaki itu sehingga dia tidak terkejut dengan kedatangannya. Margaret sama sekali tidak menduga kalau malam itu hidupnya akan berakhir.
Charles Whitman, lelaki berumur 25 tahun dan sangat mencintai ibunya sendiri— Margaret Whitman, tiba-tiba mencekik leher wanita tua yang malang itu sesaat setelah ia menutup pintu apartemen. Dia mencekik Margaret dari belakang dengan selang karet, menusuk dadanya dengan pisau, dan memukul bagian belakang kepalanya dengan benda keras seperti pistol. Ibunya tewas pukul 00.30 ketika Charlie —panggilan akrab Charles duduk termenung dengan raut wajah sedih. Ia mengambil pena untuk menuliskan sebuah catatan. “Aku baru saja membunuh ibuku,” tulisnya. “Aku sangat sedih dan menyesal karena telah menghabisi nyawanya. Tapi aku tak punya pilihan.Kupikir dengan begini ibu akan tenang di alam sana dan tidak merasakan penderitaan lagi.” Charlie bangkit, mendekati mayat ibunya, mengangkatnya, meletakkannya di atas kasur, lalu menyelimutinya. Ia kembali menuliskan sebuah pesan yang ditujukan untuk pelayan apartemen yang diletakkan di pintu apartemen 505. Pesan itu berbunyi Roy, aku tidak bisa bekerja hari ini dan tadi malam aku telat pulang ke apartemen, jadi aku ingin istirahat. Tolong jangan ganggu aku ya. Terima kasih. Nyonya Whitman.
Charlie meninggalkan The Penthouse sekitar pukul 1.30 dini hari dan cepat-cepat kembali lagi ke apartemen. Ia memberitahu kepada penjaga pintu apartemen kalau dia adalah putra nyonya Whitman. Dia bilang kalau ibunya sedang memerlukan obat dan dia berjanji untuk menebuskan resepnya. Penjaga pintu itu membiarkan Charlie masuk ke apartemen dengan sebotol Dexederine dan keluar dengan botol obat yang sudah kosong. Dia berhasil meninggalkan Penthouse pukul 2 dini hari lalu pulang ke rumahnya.
Sesampai di rumah, ia menemukan Kathy Whitman—istrinya sedang tertidur lelap. Charlie mendekati istrinya lalu dengan cepat ia menekan tubuh istrinya hingga ranjangnya berderit, lalu ia menusuk dada Kathy dengan pisau sebanyak 5 kali. Kathy langsung tewas dan tidak sempat terbangun. Dengan perasaan kesal karena tidak bisa menguasai dirinya Charlie kembali menulis. Ia mengambil pena lalu menuliskan alasan kenapa ia membunuh dua orang yang dicintainya. Tulisan yang nampak seperti cakar ayam dan menggunakan tinta biru itu berbunyi kini istri dan ibuku telah mati. Semua ini gara-gara ayah. Aku benar-benar marah padanya. Aku tak mungkin menghabisi nyawa kedua orang yang sangat kucintai dengan brutal kalau ayah tidak pernah memperlakukan aku dengan kejam. Charlie menuliskan beberapa pesan singkat untuk ayah dan saudaranya. Dia meninggalkan pesan itu di akhir film yang ia buat dengan kameranya. Dalam pesan itu ia mengatakan kalau anjing milik Kathy ia serahkan kepada orangtuanya. Sejenak ia meneliti diarinya, menyoroti hal-hal penting tentang kebaikan-kebaikan sang istri lalu ia menyusun rencana pembunuhan yang akan dilakukannya di atas menara Texas.
Keesokan harinya Charlie menelpon supervisor Kathy dan memberitahukan kalau Kathy sedang sakit sehingga tidak bisa masuk kerja. Lima jam kemudian, ia menelpon majikan Margaret untuk memberitahukan hal yang sama. Charlie memiliki rencana besar untuk menyembuhkan amarahnya di atas menara Texas. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang ada di kepalanya waktu itu. Tapi yang jelas Charlie tidak puas dengan kematian Kathy dan Margaret, ia masih ingin mencari korban yang ia pikir akan mengobati luka hatinya. Setelah menyewa mobil pengangkut barang dari Austin Rental Company sebesar 250 US dolar dia membeli M1 Carbine dan menjelaskan kepada sang penjual kalau senjata itu akan digunakan untuk berburu babi hutan. Dia juga pergi ke suatu tempat untuk membeli senapan jenis lain beserta petinya. Sambil mengasah laras senapan Charlie mengobrol dengan seorang tukang pos bernama Chester Arrington. Beberapa saat kemudian ia mulai mengepak senapan yang baru diasahnya dengan senapan jenis Remington 700, M1 Carbine, tiga buah pistol, dan beberapa jenis peralatan yang ia selundupkan di antara peti kayu dan koper besi. Sebelum menaiki menara Texas Charlie meletakkan kain di atas kemeja dan celana jeansnya. Ia mengenakan jaket hijau sehingga keberadaan kain itu agak tersamarkan. Ketika sampai di atas menara, ia mengenakan jubah dengan pita penahan keringat berwarna putih.
Sebuah mobil pengangkut barang memasuki gedung universitas Texas, melewati pos satpam. Seorang pria berjaket hijau keluar menemui Jack Rodman seorang satpam di pintu masuk dan memperoleh karcis parkir. Sambil menunjukkan kartu identitas sebagai asisten peneliti di universitas Texas, Charlie menjelaskan kepada Jack kalau ia baru saja mendapat pesanan barang dan harus segera dikirim. Sekitar pukul 11.30 Charlie menerobos masuk ke gedung utama universitas dan mendapati elevator di tempat itu mogok. Seorang pegawai bernama Vera Palmer mendatanginya sambil menghidupkan elevator yang memang baru saja dimatikan. Charlie membungkukkan badannya untuk mengucapkan terima kasih lalu menaiki tangga elevator menuju lantai menara paling atas, tepat di bawah jam dinding raksasa.
Sesampainya di atas Charlie kemudian membawa peti menuju tangga nomer tiga di ruang observasi dan bertemu dengan seorang resepsionis bernama Edna Townsley. Tanpa basa basi Charlie langsung memukul Edna dengan ujung senapannya, lalu menyembunyikan tubuhnya di belakang meja. Edna nampak tak sadarkan diri dan beberapa saat kemudian ia tewas. Sementara itu Cheryl Botts dan Don Walden yang baru saja melihat-lihat geladak tak sengaja bertemu dengan Charlie dengan kedua tangan memegang senjata. Charlie pun berdalih kalau dia menggunakan senjata untuk menembak merpati. Namun Charlie tidak mampu menutupi noda darah yang tececer di lantai, ia tak menjelaskan apapun mengenai noda merah itu dan Cheryl maupun Don tidak berfikir macam-macam mengenai bercak merah yang mereka temukan di lantai. Mereka langsung pergi setelah berbincang-bincang sebentar dengan Charlie. Setelah kedua orang itu pergi, Charlie cepat-cepat menyusun penghalang di pintu masuk ruang observasi supaya tidak seorang pun masuk ke ruangan itu.
Tak lama kemudian beberapa turis yang ingin berkunjung ke ruang observasi nampak susah payah menghilangkan penghalang yang baru saja dibuat Charlie. Michael Gabour ingin melihat apa yang ada di balik penghalang itu ketika Charlie dengan brutal menembakkan peluru ke segala penjuru. Ia terus memuntahkan peluru dari senapannya ketika Michael dan keluarganya berusaha menuruni tangga untuk menghindari tembakan. Michael dan ibunya selamat meski menderita luka berat yang menyebabkan cacat permanen sementara bibinya meninggal dalam serangan itu.
Penembak dari atas Menara
Sekitar pukul 11.48 terdengar suara tembakan dari atas menara. Seorang profesor sejarah yang melihat beberapa mahasiswa berjatuhan di jalanan langsung menelpon Austin Police Department meskipun beberapa orang menolak melaporkan kejadian itu karena mereka tidak menyangka kalau telah terjadi penembakan. Tak lama kemudian suasana yang sebelumnya tenang berubah mencekam, beberapa orang berteriak panik sambil berlari tak tentu arah. Polisi akhirnya datang untuk meredam kepanikan. Mereka mengepung kampus untuk mencari lokasi yang menguntungkan supaya bisa menangkap Charlie.
Beberapa polisi nampak keluar dari mobil dan berlari ke arah tertentu. Charlie melongok ke bawah dan melihat polisi sudah mengepung. Beberapa saat kemudian terdengar suara peluru berdesing seperti suara petasan yang diledakkan ramai-ramai. Dengan tenang Charlie menyalakan pipa penyemprot air yang mampu menyemburkan air bertekanan tinggi untuk “menghilangkan” jejaknya. Para polisi pun kebingungan dan tidak menyadari kalau Charlie sedang menembaki mereka dari balik semburan air. Satu per satu polisi bergelimpangan. Warga setempat yang menyaksikan kejadian itu mengambil senjata dan ikut menembaki Charlie.
Beberapa saat kemudian terdengar suara helikopter menderu-deru di udara. Terlihat Jim Boutwell, sang pilot heli membawa Marion Lee — seorang letnan polisi sekaligus sniper (ahli tembak). Bersama helikopternya Lee mengelilingi menara sambil menembaki Charlie tetapi turbulensi dari helikopternya membuatnya kesulitan untuk menembak sasaran dengan tepat. Lee berteriak kepada sang pilot, “mundur! jangan terlalu dekat. Aku tak bisa melihatnya.” Helikopter yang sudah terkena tembakan sebanyak tiga belas kali itu mulai agak menjauh dan mengambil sudut yang tepat supaya Charlie nampak jelas.
Sementara itu banyak sekali korban berjatuhan di Guadalupe Street yang letaknya berdampingan dengan kampus. Terdengar suara sirene ambulan mengaung-ngaung ketika Morris Hohmann— sang sopir mengaduh kesakitan. Tiba-tiba sebuah peluru melesat mengenai nadi di kaki kanannya yang membuat dia menghentikan mobil ambulannya. Akhirnya, ia gagal untuk menolong korban penembakan karena tanpa diduga sang sniper gila itu juga menembaknya. Ambulan lainnya yang datang bersamaan dengan ambulan yang dikendarai Hohmann segera memberi pertolongan pertama. Mobil berlapis baja pun dikerahkan untuk menolong korban.
Ramiro Martinez, Houston MacCoy dan Jerry Day berhasil menerobos masuk ke ruang observasi tempat Charlie menjalankan misi gilanya itu. Setelah melihat ruangan itu kosong, Martinez dan MacCoy keluar dari ruang observasi dan berjalan menuju ke ruangan di sebelah timurnya. Dengan menggenggam senapan berburu dan revolver 3.8 mereka mencari Charlie dan tanpa diduga mereka menemukan Charlie sedang duduk di lantai sudut ruangan itu sambil menatap ke tenggara untuk melihat tanda-tanda dari polisi. MacCoy menyemburkan peluru dari senapannya sebanyak dua kali ke arah Charlie di saat Martinez menekan pelatuk revolvernya sebanyak enam kali. Charlie tertembak. Badannya terhuyung ke depan sebelum akhirnya menumbuk lantai. Mereka mendakati tubuh Charlie, memeriksa nadinya lalu bangkit sambil melambaikan handuk warna hijau ke polisi yang ada di bawah sebagai tanda kalau Charlie telah tewas. Tragedi berdarah pun berakhir dengan terbunuhnya Charlie—sang sniper gila dan 14 orang lainnya serta melukai 31 orang.
Masa Lalu yang Suram
Di sebuah rumah elite di kawasan Lake Worth Florida Charlie nampak begitu tertekan mendengar bentakan C. A Whitman ¾ ayahnya terhadap ibunya. Ayah Charlie yang bekerja sebagai penguasaha profesional itu memiliki watak keras dan otoriter. Dengan emosi yang gampang meledak, ia menekan istri dan anak-anaknya hingga membuat mereka ketakutan. C. A Whitman sering memukul Charlie dan yang lainnya dengan sabuk dan tongkat supaya mereka menuruti keinginannya.(continue) bersambung ….



