Kerjasama Perwakilan Sekolah Kehidupan Republik Arab Mesir dengan Milis Word-Smart@Yahoogroups.Com
Pelajar dan Mahasiswa/i Indonesia Mesir adalah aset umat Islam sekaligus bangsa Indonesia. Waritsatu al-Anbiyaa yang berjumlah 5083 orang dan berasal dari berbagai propinsi seluruh nusantara itu, mayoritas belajar di Universitas Al-Azhar, mulai dari tingkat dasar dan menengah 199 orang, S1 4602 orang, S2 336 orang, sampai S3 26 orang. Sedangkan mahasiswa baru 2007/2008 ada 453 orang. Mereka tinggal di kota yang berbeda, Cairo 3.985 orang, Zaqaziq 80 orang, Manshoura 70 orang, Tanta 75 orang, Tafahna 120 orang, Damanhur 6 orang, Dimyath 15 orang dan di kota Alexandria berjumlah 5 orang. Selain berperan sebagai penuntut ilmu, terkadang mereka juga berperan sebagai aktifis, suami-isteri, ayah-ibu, bahkan bisnismen.
Tentu saja keaneragaman asal daerah, asal sekolah/pesantren, strata pendidikan, spesialisasi, tempat tinggal, aktifitas dan jenis kerja itu, memiliki pengalaman, kisah, dan cerita yang berbeda pula. Dalam waktu yang sama, sebagai pelajar dan mahasiswa/i mereka dituntut untuk belajar mengartikulasikan pengalamannnya, baik lewat lisan maupun tulisan. Lebih jauh lagi, harus mengimbangi perkembangan informasi, teknologi, dan komunikasi.
Berangkat dari latar belakang di atas, maka Perwakilan Sekolah Kehidupan Republik Arab Mesir (Eska Mesir) dan Milis Word-Smart@Yahoogroups.Com bekerjasama menggelar acara Lomba Menulis Kisah Nyata sebagai sarana berlatih menulis, berbagi pengalaman, sarana dakwah, dan mendokumentasikan kisah hidup agar menjadi renungan, motivasi, dan inspirasi bagi siapa saja.
TEMA:
• Pengalaman sebagai pelajar atau mahasiswa/i, (proses pemberangkatan, saat studi di Mesir, atau detik-detik pulang ke Indonesia);
• Pengalaman sebagai aktivis (baik almamater, kekeluargaan, PPMI, senat, ormas, orpol, dst);
• Pengalaman sebagai suami-isteri (proses menemukan jodoh, aqad nikah, walimahan, mencari nafkah, kehidupan rumah tangga, dst);
• Pengalaman sebagai ibu-ayah (saat hamil, melahirkan, mendidik anak, dst).
PERSYARATAN PESERTA:
1. Berdomisili di Republik Arab Mesir;
2. Mahasiswa/i (S1, S2, atau S3);
3. Melampirkan biodata singkat, telpon/Hp, e-mail, dan alamat blog (bagi yang punya, baik multiply, blogspot, wordpress, maupun yang lainnya).
PELAKSANAAN LOMBA:
1. Pengiriman tulisan dari tanggal 8 Maret 2008 s/d 1 Juli 2008;
2. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan diumumkan pada hari Jum’at, 15 Agustus 2008 di milis eska_mesir@yahoogroups.com dan word-smart@yahoogroups.com sekaligus di http://eskamesir.multiply.com/ dan http://wordsmartmedia.multiply.com/
3. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada acara Pelatihan Menulis Eska Mesir yang akan diselenggarakan pada akhir bulan Agustus 2008;
4. 20 naskah terbaik (termasuk tiga juara) insya Allah akan diterbitkan di Indonesia dan royaltinya disumbangkan untuk kegiatan sosial Eska Mesir dan milis word-smart@yahoogroups.com.
TATA CARA PENGIRIMAN TULISAN:
1. Peserta lomba dapat mengirimkan lebih dari satu naskah;
2. Panjang Esai 10-15 halaman, ukuran kertas A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12;
3. Naskah dan biodata dikirim dalam soft file ke e-mail: eska_mesir@yahoo.com dan di-cc-kan ke cerdaskata@yahoo.com.
KRITERIA PENILAIAN:
1. Tulisan harus kisah nyata, baik kisah pribadi maupun orang lain;
2. Tulisan memiliki nilai manfaat, unik, berkesan, inspiratif, dan memberikan motivasi untuk senantiasa belajar ditulis dalam bentuk cerpen atau chicken soup for the soul;
3. Tulisan harus asli bukan saduran atau terjemahan;
4. Tulisan belum pernah/tidak sedang dilombakan;
5. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun;
6. Tulisan yang masuk menjadi milik penyelenggara lomba;
7. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat (e-mail).
HADIAH:
1. Juara I: Le. 300 (Tiga Ratus Pound), piagam, paket buku
2. Juara II: Le. 200 (Dua Ratus Pound), piagam, dan paket buku
3. Juara III: Le. 100 (Seratus Pound), piagam, dan paket buku
4. 20 pemenang hiburan akan mendapatkan piagam, mengikuti Pelatihan Menulis, dan paket buku
JURI:
1. Tim Seleksi sekaligus juri dari Panitia;
2. Pipiet Senja (Penulis Senior dan Penerbit Jendela)
3. Nursalam Abdurrahman (Ketua Umum Sekolah Kehidupan Pusat Periode 2007-2008)
PUSAT INFORMASI:
• Udo Yamin Majdi (Hp. 0100380728/ Telp. 24484236, E-mail. udoyamin_majdi@yahoo.com)
• Teguh Hudaya (Hp. 0103770437/ Telp. 24708427, E-mail. teguhudaya@yahoo.com
• Agus Sholahudin (Telp. 24484237, E-mail elgaruti@yahoo.com)
April 30, 2008
Lomba menulis kisah nyata
April 28, 2008
Sang Marinir yang Sakit Jiwa (bagian 2)
Suatu ketika amarah C. A Whitman kembali meledak. Ia memukul, dan membentak – bentak istrinya. “Aku tahu kalau kelakuanku memang sangat keterlaluan,” kata ayah Charlie menyadari buruknya sikapnya terhadap Margaret, “tapi aku tak kuasa mengontrol emosiku. Lagipula salah siapa kalau aku jadi ingin memukulnya, dia memang layak dipukul karena sifat keras kepalanya itu. Sudah tahu kalau watakku keras tapi dia masih juga berani menentang kemauanku.”
Dalam sebuah pertengkaran C. A Whitman memukul Charlie hingga jatuh terhuyung-huyung lalu tercebur ke kolam renang. Charlie nampak begitu kesakitan saat menemui Fr Leduc, di tubuhnya terdapat bekas pukulan sang ayah. Dalam kondisi yang mengenaskan itu ia membeberkan kekejian ayahnya kepada ketua paduan suara gereja yang hubungannya dengan Charlie lumayan dekat. Leduc sedih mendengar kabar kalau ayah Charlie belum juga berubah sikap sehingga dia pun merasa tak berdaya untuk menolong Charlie. Akhirnya Charlie pulang dalam keadaan mabuk. Dirundung perasaan sedih dan frustasi, Charlie mulai minum arak hingga berminggu-minggu setelah pemukulan itu. Diam-diam dia ingin balas dendam kepada ayahnya.
Sebagai lelaki yang cerdas dengan IQ 138 dan seabreg penghargaan, Charlie mulai menyusun rencana untuk melancarkan misi balas dendamnya. Ketika usianya menginjak 18 tahun, tanpa sepengetahuan ayahnya, Charlie mendaftarkan dirinya ke Korps Marinir untuk amunisi di Parris Island. Ketika ia menaiki kereta menuju Parris Island, ayahnya menelpon cabang pemerintah federal dan meminta mereka menggagalkan pendaftaran Charlie sebagai murid di sana namun permintaannya ditolak.
Akhirnya Charlie lulus seleksi. Dia berangkat ke Guantanamo Naval Base untuk menjalankan tugas pertamanya sebagai marinir. Dia belajar keras supaya mendapatkan hasil terbaik dalam ujian. Dengan kecerdasan dan keuletannya, Charlie bisa mewujudkan impiannya itu. Dia mendapatkan medali perak, medali ekspedisi korps marinir, dan lencana sniper karena kepiawaiannya menembak target bergerak dengan nilai nyaris sempurna. Sehingga membuat semua orang di korps Marinir kagum bahkan yakin kalau Charlie akan menjadi warga negara yang baik.
Sebenarnya Charlie tidak benar-benar ingin mendapatkan sanjungan atas prestasinya itu karena dia melakukan semua itu supaya bisa balas dendam kepada ayahnya. Kalau saja ia memiliki keahlian menembak pasti dengan mudah ia bisa membunuh orang yang diinginkannya tepat sasaran. Mungkin orang lain mengira kalau Charlie adalah lelaki yang sempurna, ganteng, kaya, cerdas, dan memiliki prestasi luar biasa. Tapi sayangnya, anggapan itu salah. Setahun telah berlalu sementara Charlie masih belajar sebagai marinir. Kini C. A Whitman tak lagi bisa semena-mena terhadap Charlie. Namun Charlie masih ingin belajar lebih banyak lagi dengan mengajukan permohonan beasiswa NESEP (The Naval Enlisted Science Education Program), sebuah beasiswa yang didesain untuk melatih seorang insinyur menjadi marinir. Charlie merasa bangga ketika lulus ujian ketat untuk mendapatkan beasiswa yang memberinya uang 250 USD setiap bulannya.
Setahun berlalu ketika Charlie sudah menjadi mahasiswa di Universitas Texas. Charlie mulai berulah setelah menempuh kehidupan yang penuh dengan kedisiplinan di rumah dan menghadapi aturan yang ribet di kampusnya. Charlie dan teman-temannya menembak kijang, menyeretnya ke asrama, lalu mengulitinya dengan shower di kamar mandi. Kejadian sadis itu membuat Charlie kehilangan beasiswanya karena tiba-tiba mereka menghentikan aliran dana untuk kuliah Charlie. Ketika Charlie menikahi teman kampusnya sendiri di tahun 1963 yang bernama Kathleen Frances Leissner ia mulai memperbaiki tingkah lakunya dan kembali melakukan kewajibannya sebagai seorang marinir yang dikirim North Carolina. Dalam perjalanan ke sana Jeep yang dikendarai Charlie mengguling dan masuk ke tambak. Charlie yang nampak terkejut dan tentu saja kesakitan itu menolong teman-temannya yang terjepit di dalam Jeep lalu dia diopname di rumah sakit selama 10 hari.
Rupanya Charlie tidak tahan dengan aturan yang berlaku di militer yang penuh disiplin dan keras. Sementara Kathy¾istri Charlie tidak bersamanya karena harus melanjutkan kuliahnya di Texas, Charlie merasa kesepian. Meski telah berusaha untuk mendapatkan kembali beasiswanya tetapi semuanya nampak sia-sia. Seberapa keras pun usahanya dia tidak bisa meraih beasiswa itu lagi karena daftar kriminal yang dilakukan Charlie. Dia mulai mengkoleksi pistol ilegal karena kebenciannya kepada Korps Marinir. Tingkah laku Charlie mulai tidak terkontrol. Di bulan November Charlie mulai berjudi, memiliki simpanan senjata ilegal, dan menjadi rentenir dengan harapan uangnya akan cepat berkembang. Dia suka mengancam marinir lain dan menakut-nakuti mereka dengan kekerasan. Charlie akhirnya turun jabatan menjadi prajurit biasa dengan mendapat kurungan penjara selama 30 hari dan 90 hari sebagai romusa setelah kelakuan bejatnya terbongkar. Charlie menghubungi ayahnya untuk meminta pertolongan tapi ayahnya tidak lagi peduli terhadapnya. Ketika Charlie merasa sangat tertekan, tiba-tiba Korps Marinir mengeluarkan surat pemecatan. Charlie marah tapi tak bisa melakukan apa-apa, dia juga merasa malu dan dipermalukan.
Depresi
Pada bulan Desember 1964 Charlie akhirnya dipecat dengan tidak hormat dari Korps Marinir dan kembali mendaftar ke Universitas Texas untuk jurusan arsitektur. Charlie harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri sebagai penagih hutang untuk perusahaan yang bergerak di bidang perbankan selama kira-kira setahun. Sementara Charlie gonta ganti pekerjaan, Kathy ¾ istrinya menekuni profesinya sebagai guru di Lannier High School. Kehidupan rumah tangga Charlie berangsur-angsur berantakan. Charlie menjadi mudah marah dan suka menyiksa istrinya. Meski begitu ia tidak lupa minta maaf kepada Kathy atas kelakuan kasarnya dan mengatakan kalau dirinya tidak bisa mengendalikan diri. Namun seperti lingkaran setan, Charlie terkungkung dalam kepribadian ayahnya yang suka melakukan kekerasan. Tobatnya tidak sungguh-sungguh meski dia telah bersumpah tidak akan menyiksa Kathy lagi karena baginya hal itu sungguh tidak manusiawi. Dia marah karena dia benci kekerasan, dia marah karena harus melakukan hal yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya, dia marah karena harus hidup dalam bayang-bayang sang ayah. Padahal dia mengetahui hak-hak Kathy sebagai istrinya, seperti saat hendak menikahinya Charlie bersumpah akan memperlakukan Kathy dengan baik, menafkahi lahir dan batinnya, dan bersumpah tidak akan meniru kelakuan ayahnya yang bejat itu. Tapi sekarang ia bahkan begitu khawatir dengan uang yang dia berikan ke Kathy, ia khawatir kalau Kathy membelanjakan uang lebih banyak daripada Charlie.
Kathy mulai tidak tahan dengan sikap Charlie yang mudah meledak, dia mengancam untuk bercerai tapi Charlie tidak setuju. Mulai saat itu kegilaan Charlie memuncak, dia suka menulis tentang sikap – sikap yang harus dia lakukan terhadap Kathy lalu mempraktekkannya. Kalau gagal dia menyumpahi dirinya untuk tidak mengulangi lagi. Dia sering mengingatkan dirinya untuk menghormati Kathy. Kata-katanya seringkali tak terkontrol, bahwa dia harus begini dan begitu supaya Kathy senang, bahwa seorang suami yang baik adalah yang mengormati istrinya. Charlie berubah menjadi robot yang menakutkan hingga dia harus menulis semua yang akan dilakukannya. Besok harus begini, kalau tidak begini maka begitu. Charlie semakin terbenam dalam keputusasaan. Dia makin membenci dirinya karena perubahan yang memalukan itu. Lelaki yang dulunya rajin, cerdas dengan segudang prestasi lagi sangat menyayangi sang istri, menghormatinya dan begitu baik telah berubah menjadi monster yang mengerikan. Di saat itu dia sudah kehilangan semangat hidup dan ingin sekali bunuh diri.
Telpon berdering. Charlie bangkit lalu mengangkatnya. Terdengar suara ayahnya di seberang sana, lagi – lagi dia minta Charlie untuk membujuk ibunya supaya mau kembali. Charlie marah. Dia bersumpah tidak akan membiarkan ibunya disiksa lagi dan ia menjamin kalau ibunya akan baik-baik saja tanpa ayahnya. Telpon diputus ketika amarah Charlie kembali memuncak.
C. A Whitman sudah kehabisan akal sehingga dia harus minta bantuan Charlie supaya Margaret mau kembali padanya. Dia bahkan rela bersujud di depan istrinya dengan air mata bercucuran tapi hati Margaret telah beku. Berulangkali C. A Whitman melakukan hal yang seperti itu tapi yang namanya watak keras itu susah berubah. Pemukulan itu pasti akan terjadi lagi seperti yang sudah sudah. Jadi perceraian adalah jalan terbaik supaya Margaret tidak mengalami kekerasan lagi.
Menemui Psikiater
Charlie nampak begitu membosankan pagi itu ketika Kathy pulang ke rumah dan menemukan suaminya dalam keadaan awut-awutan. Charlie nampak gemuk yang menandakan bahwa dia tidak bisa mengontrol nafsu makannya, mukanya mengerikan seperti tidak terurus. Kathy mendatanginya, lalu pelan-pelan membujuk Charlie untuk menemui psikiater karena kegelisahan dan depresi yang dialami Charlie semakin parah. Charlie menyetujui saran istrinya.
Bersambung….
April 17, 2008
Alasan Aku Tidak Menerbitkan Novel-Novelku
Manusia bisa saja berubah tak peduli seberapa kuat ia memegang prinsipnya. Itulah yang kualami. Tahun 2002 ketika aku baru saja lulus kuliah, aku menghabiskan waktu di laboratorium Fisika ITB untuk meneliti bahan superkonduktor. Waktu itu, duniaku serba serius, aku tidak mau membaca cerita seperti novel, cerpen, dan tetek bengek yang kuanggap tidak serius. Maksudku tidak serius adalah isi yang disajikan benar-benar tidak menohok pikiran. Aku suka sekali berfikir, makanya aku baca-baca buku Carl Sagan dan dulu sekali aku suka berdebat tentang teori-teori Harun Yahya. Namun naskah-naskahku (yang mendebat teori Harun Yahya) terkena Trojan horse sehingga tidak bisa aku tampilkan di blogku. Di antara naskahku yang paling ringan dan tidak terkena Trojan horse adalah SISI LAIN DUNIA PENGILMIAHAN AL QUR’AN, yang bisa kamu baca di sini. Tapi sekarang aku sudah tidak suka dengan dunia perdebatan – sudah tobat dan tidak mau diajak debat.
Tapi segalanya segera berubah ketika aku menemukan pengumuman lomba novel DKJ 2003 di internet. Hadiahnya besar sekali kalau gak salah totalnya mencapai 100 juta. Wow, tunggu apa lagi, aku ikutan ah. Teman-teman di lab. aku suruh ikutan semua, benar-benar gila duit he he he. Meski aku benci banget nulis cerita, apalagi baca novel, uuugghh rasanya seperti buang-buang waktu saja. Tapi aku tergiur dengan hadiahnya. Akhirnya aku ikutan lomba tersebut dan di luar dugaan aku masuk finalis lomba tersebut. Ini sebuah miracle yang tak pernah aku sangka-sangka.
Seorang teman di lab bilang, “Diena kamu ini bakat nulis novel juga. Daripada jadi peneliti mending jadi novelis aja, enak bisa terkenal lho.”
“Apa?,” aku kaget. “Mana mungkin aku jadi novelis?. Baca novel aja malesnya minta ampun. Toh kalau bisa jadi finalis itu merupakan sebuah keberuntungan bukan bakat. Lagian aku ini kan orang serius, malu ah sama temen-temen kalo sampe ketahuan nulis novel.”
Tapi sepulang dari lab. aku mikir terus, akhirnya sampailah aku di rumah kos teman jurusan Fisika yang kebetulan menggandrungi novel sains fiksi. Aku baca buku-bukunya. Dan wow, ternyata orang-orang serius Amerika banyak sekali yang jadi novelis, waktu itu aku baru tahu kalo novelis itu pekerjaan keren. Contohnya Michael Crichton (lulusan Fisika Harvard Summa Cum Laude), Carl Sagan (Kosmolog keren), John Grisham (mantan pengacara), dan Cannon Doyle (mantan dokter). Dari orang-orang ini akhirnya aku terinspirasi untuk menjadi novelis (aku tidak malu lagi nulis novel dan dianggap sebagai seorang yang “tidak serius” sama temen-temen). Aku ingin jadi diri sendiri.
Ternyata menulis cerita itu lebih sulit daripada menulis artikel (tidak seperti dugaanku selama ini). Aku pelajari seluk beluk tentang penulisan cerita dari Stephen King (Stephen King on Writing). Wah luar biasa, aku baru sadar kalau menulis cerita itu memerlukan imajinasi yang kuat. Stephen King memang hebat. Aku mencoba menulis seperti dia, sekali, dua kali, tiga kali…sepuluh kali, gagal terus. Gaya penulisannya susah diikuti, begitu detil hingga aku tak sanggup mengikutinya. Akhirnya aku banting setir (karena capek belajar nulis akhirnya jadi banyak-banyak baca novel). Aku baca Sherlock Holmes, novel-novel Agatha Cristie, John Grisham, Stephen King, JK Rowling, dll. Dan terakhir aku begitu terpesona dengan gaya penulisan Dan Brown (The Da Vinci Code, dll.) dan aku coba mengikutinya. Setelah 6 tahun belajar cara menulis cerita dari orang-orang yang kukagumi tersebut akhirnya gaya penulisanku mengalami peningkatan yang begitu signifikan.
Tapi ketika aku begitu mencintai dunia ini, tiba-tiba ada seseorang yang memberitahuku kalau menulis fiksi itu haram. Rasanya susah dipercaya, ketika aku begitu tergoda untuk menulis fiksi lalu dengan tiba-tiba aku harus meninggalkan dunia itu. Alasan orang itu mengatakan haram karena cerita fiksi adalah cerita bohong, tidak ada realitanya, meskipun banyak orang yang tidak keberatan dibohongi karena sangat menikmati ceritanya tetapi bagaimana dengan Allah?. Allah tidak suka kebohongan. Kamu pilih mana, Allah ridho kepadamu atau manusia ridho kepadamu?. Dan bagaimana tanggung jawabmu di hadapan Allah nanti tentang kebohongan yang kamu buat di dalam bukumu?. Tentu saja pertanyaan itu membuatku gemetar. Dan akhirnya aku terpaksa menghentikan hobi menulis fiksi. Padahal waktu itu aku baru saja selesai menulis 2 novel baru (tahun 2005) tapi semuanya tidak pernah kukirimkan ke penerbit. Bahkan seorang teman yang bekerja di Global TV yang tak sengaja menemukan naskahku yang berjudul LATIFA, memintaku untuk menulis skenario film. “Tulisanmu bagus,” katanya, “aku perlu bahan untuk film so please kirimi aku cerita-cerita lainnya yang bisa diadaptasi ke film. Aku perlu orang seperti kamu.” Temenku yang satu ini bener-bener getol kirim sms ke aku dan minta cerpen. “Mana cerpennya kok gak dikirim-kirim?,” tanyanya. Tapi aku selalu saja memberikan alasan sibuk dan sibuk, harus nyelesain ini dan itu. Sampai hampir setahun dia nunggu naskahku tapi aku tidak pernah mengirimkannya.
Bukannya aku tak tergiur tawaran itu, tapi apa daya aku tak bisa berbohong pada diri sendiri. Aku tidak mau menulis fiksi lagi. Sudah cukup. Tapi aku tak pernah menceritakan alasanku kepada teman-temanku, sampai detik ini. Aku tiba-tiba menghilang dari rimba penulisan cerita dalam waktu yang cukup lama, merenung, sedih, bingung, pusing. Ternyata mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi keridhoan Allah itu sulit sekali. Aku benar-benar harus melawan diriku sendiri. Benar-benar menyedihkan.
Suatu saat tanpa kusengaja aku menemukan buku Richard Feynmann (nobelis Fisika) yang masih dalam bahasa Inggris, tapi aku lupa judulnya. Buku itu ditujukan untuk Prof. Said D. Jennie (ketua BPPT sekaligus dosen penerbangan ITB). Prof. Sa’id memberikan buku tersebut kepada suamiku dan sampailah buku itu ke tanganku. Di situ aku baru tahu kalau Richard Feynmann itu Yahudi yang murtad karena sewaktu usianya 7 tahun dia menemukan kebohongan yang dilakukan oleh pendeta di sekolah minggunya. Feynmann berkata, “jadi selama ini aku di sini hanya untuk mendengar cerita bualan yang tidak ada ujungnya?. Bagaimana mungkin agama ini didasarkan pada cerita-cerita bualan semacam ini?. Aku tidak akan datang ke sekolah minggu lagi!“
Dalam kisahnya Feynman kecewa gara-gara sang pendeta seringkali memberinya kisah-kisah teladan tentang perjuangan seorang Yahudi demi membela agamanya yang ternyata semua cerita itu adalah fiksi. Dari situ aku baru sadar bahayanya menulis fiksi untuk dakwah . Hal ini benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.
Itulah yang menguatkan alasanku untuk tidak menerbitkan Bukan Jules Verne (yang menjadi finalis lomba novel DKJ 2003) dan novel-novelku lainnya seperti Madamma Butterfly dan Latifa (meskipun dengan beraaat hati). Padahal waktu itu (tahun 2006) aku sudah mengontak sebuah penerbit dan novelku sedang ditunggu, tetapi….., dengan berat aku membatalkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis cerita nonfiksi saja dan melupakan 3 novel fiksiku. Tantangan yang kuhadapi cukup berat juga, ternyata sulit cari sumber cerita nonfiksi meski akhirnya dapat juga. Contoh naskah cerpen non fiksiku adalah Sang Marinir yang Sakit Jiwa, dan aku pun menulis buku cerita anak yang semuanya kisah nyata (baca cuplikannya yah!) di sini.
Oya, aku bahkan sempat masuk rumah sakit gara-gara meninggalkan hobiku menulis fiksi. Bahkan tak tanggung-tanggung, aku sakit satu bulan tanpa diketahui penyebabnya. Dokternya pusing, dan memberikan kesimpulan akhir “aku dinyatakan stres berat/tertekan”. Keluargaku pun menyarankan aku untuk kembali menulis fiksi. Tapi apa daya rasa takutku kepada Allah membuatku tak sanggup melakukannya. Bagaimana pun merupakan hal yang sulit melawan diri sendiri dan melakukan sesuatu yang kita yakini itu salah.
Ternyata perjuangan paling sulit dalam hidupku adalah ketika aku harus melawan diriku sendiri hiks…hiks…hiks.
Penulis, Jangan Gagap Marketing Dong!
oleh Diena Ulfaty
Saya pernah berdialog via email dengan Pak Edy Zaqeus, seorang penulis best seller, konsultan dan publisher. Saya senang sekali beliau ini mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang kelihatan sepele mengenai distributor buku, cara menghubungi mereka, dan mekanisme self publishing. Nah dalam dialog tersebut saya juga menanyakan tentang judul buku saya Inspiring Stories for Kids, Kisah-Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran dan Cinta. Apakah judul tersebut memiliki potensi untuk bestseller?. Beliau menjawabnya, “judul tersebut Oke tetapi untuk menjadi best seller Anda harus melakukan beberapa hal yang sudah saya bahas di dalam buku saya.” Saya terkaget-kaget mendengar jawaban ini. Ooh jadi supaya best seller, menulis cerita yang bagus saja ternyata tidak cukup, ada beberapa hal yang perlu diketahui penulis supaya bukunya bestseller. Hal yang saya maksudkan di sini adalah yang berkaitan dengan marketing.
Masalah marketing memang kurang menjadi perhatian bagi para penulis, apalagi penulis pemula yang sibuk memikirkan bagaimana supaya naskahnya bisa tembus ke penerbit. Beberapa penulis senior malah disibukkan oleh kontrak kerjasama penerbit yang merugikan penulis (banyak penulis yang komplain kalau karya mereka tidak dihargai sepantasnya). Ketika mendapat jawaban dari Pak Edy, saya teringat dengan kasus penulis yang nasibnya terkatung-katung gara-gara dikibuli penerbit tapi masih tetap mau menulis dan setia dengan penerbit itu. Aneh juga yah. Dalam benak saya timbul pertanyaan, kenapa juga mereka ini tidak memulai self publishing dan mencari seluk beluk tentang marketingnya.
Ketika saya mau menerbitkan Inspiring Stories for Kids saya mencari tahu hal-hal apa saja yang perlu saya ketahui supaya naskah saya bisa laku keras. Meski saya sendiri juga masih relatif baru di dunia publishing dan tertarik untuk mengabaikan pasar karena sebagai penulis yang baru pertama kali menerbitkan naskahnya kenapa juga berfikir untuk best seller?. Naskah terbit sudah merupakan hal yang bagus dan menyenangkan dan tidak perlu berfikir keras lagi mengenai bagaimana pemasarannya. Tapi saya selalu tergelitik untuk tahu kenapa sih sebuah buku bisa best seller?. Saya akan bagikan informasi yang saya ketahui mengenai marketing. Sebagian besar saya ambil dari ebook gratisnya Scott Jeffrey tentang 60 Effective Strategies for Selling more Books. A Best Seller Marketing Apoproach. Kenapa saya tekankan marketing di sini?. karena semakin banyak orang tahu tentang kualitas buku Anda tentunya semakin besar peluang buku tersebut akan dibeli orang. Saya saja tertarik membeli buku The Da Vinci Code karena tanpa sengaja saya menemukan resensi buku tersebut di Republika, resensinya oke banget. Untuk orang-orang seperti saya yang sulit sekali pergi ke toko buku (karena tempat yang jauh sekali dan kurangnya waktu), peran media seperti itu sangat penting untuk memasarkan sebuah karya. Selain resensi tentunya banyak metode lain yang bisa ditempuh untuk memasarkan buku.
Berikut ini hal-hal yang perlu diketahui oleh penulis tentang marketing:
1. Anda harus tahu dengan jelas target pasar yang Anda tuju. Siapa saja yang kira-kira menyukai karya Anda?
2. Anda harus tahu dimana Anda bisa menemukan konsumen buku-buku Anda
3. Anda harus bisa mengindetifikasi kompetisi. Buatlah sebuah riset mengenai buku genre apa yang best seller di pasaran?. Siapa ahlinya?. Mana websitenya?. Carilah situs-situs yang terkait dan bacalah buku-buku mereka dan tandai.
4. Lengkapi dengan statemen mengenai diri Anda di akhir karya. Statemen biasanya berupa kalimat lengkap yang memberitahukan tentang apa yang Anda lakukan?, Apa yang Anda tawarkan dan Mengapa Anda begitu berbeda dari penulis lain.
5. Bangunlah sebuah strategi. Carilah target yang cocok untuk memasarkan buku Anda seperti majalah, koran, situs, ahli, event-event tertentu, dll. Mintalah peresensi buku untuk meresensi karya Anda dan menyebarkannya ke media massa, atau jika Anda seorang dosen yang sering mengadakan seminar sudah selayaknya Anda memanfaatkan event-event ini untuk memasarkan buku Anda, dll.
Untuk mengetahui dengan jelas keinginan pasar Anda harus menanyakan beberapa hal berikut :
- Apa yang mereka butuhkan?
- Bagaimana mereka bisa memperoleh buku Anda dan apa servis Anda terhadap pembaca?
- Apa yang membuat buku Anda begitu unik dan berbeda dari kebanyakan buku di pasar?
- Solusi apa yang Anda tawarkan?
- Cara apa yang paling bagus untuk mengemasnya?
- Dengan siapa Anda bisa mengkomunikasikan ide tersebut?
Cara di atas hanyalah ringkasan dari pendekatan market yang perlu dilakukan, selengkapnya Anda bisa membaca sendiri karya Scott Jefrey yang bisa didownload di blog saya.
———————————————————————————-
Kalau kamu punya ide atau saran lain tentang marketing bagi-bagi dong. Komen kamu sangat dibutuhkan supaya yang lainnya pada melek marketing. Oke, semangat menulis!!!
Diena bisa dihubungi di dienaulfa@aol.com.
Hal-Hal yang Membuat Karir Publishing Hancur
Oleh CF Jackson
Diterjemahkan oleh Diena Ulfaty (dienaulfa@aol.com)
Pasar perbukuan begitu menggairahkan, sampai-sampai ada sekitar 175000 buku yang dipublikasikan tahun 2005. Tentu saja hal tersebut diiringi dengan pertambahan jumlah self-publishing yang sangat tajam dan laju permintaan cetak buku yang terus meningkat namun pada kenyataannya banyak juga penerbit-penerbit yang mati dalam waktu singkat.
Memang untuk mendirikan sebuah penerbitan memerlukan resiko yang besar. Apakah Anda termasuk seorang yang berani mengambil resiko?. Apapun yang Anda lakukan, apakah Anda ingin menerbitkan novel atau yang lainnya, sudah waktunya Anda mengisi beberapa porsi intreprener di dalam otak Anda.
Namun kebanyakan pebisnis ini tidak mempedulikan hasil karena motivasi mereka untuk sukses sangat tinggi. Bahkan beberapa penulis tetap nyaman untuk meningkatkan kreativitasnya meskipun karyanya dihargai rendah. Apa yang membuat idelogi semacam ini begitu merugikan? Padahal karya-karya para penulis merupakan investasi yang harus dikelola dengan baik. Jika Anda seorang penulis, selain Anda memiliki karya untuk dibaca dan dikritik oleh banyak orang, Anda harus memikirkan juga apa yang membuat diri Anda begitu unik di antara ratusan penulis lainnya. Dan kalau Anda yakin dengan kemampuan menulis yang Anda miliki dan kualitas karya yang Anda hasilkan, kenapa Anda tidak mencoba mengambil resiko untuk menerbitkan karya Anda sendiri?
Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan jika Anda ingin memulai sebuah bisnis :
- Anda harus gigih, tekun, ulet
- Anda harus kreatif
- Anda harus sabar
Selain hal di atas yang tak kalah pentingnya adalah Anda harus tahu seluk beluk mengenai bisnis yang Anda geluti. Tidak jarang pebisnis yang bangkrut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka mengenai bisnis yang mereka jalankan. Tak ada seorang pebisnis yang sukses menjalankan bisnisnya kalau tidak mengetahui seluk beluk bisnis mereka. Sebagai contoh Oprah Winfrey, Donald Trump dan Bill Gates.
Supaya bisa sukses dalam bisnis penerbitan, Anda harus faham benar tentang dunia sastra (perbukuan). Jika tidak, Anda seperti seorang yang membeli mobil tapi tidak tahu arah yang jelas akan kemana Anda pergi dengan mobil baru Anda. Nah supaya Anda paham dengan bisnis yang Anda geluti, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan :
1. Bertanya kepada pakarnya
2. Melakukan riset untuk beberapa waktu
3. Anda harus yakin dengan pengetahuan Anda tersebut
Terakhir dan yang tak kalah pentingnya adalah marketing. Sungguh mengherankan kalau banyak sekali fakta yang menunjukkan kalau sebagian besar penulis tidak paham sama sekali tentang marketing. Kebanyakan di antara mereka meyakini kalau penerbit (yang menerbitkan buku mereka) akan membantu promosi dan memasarkan buku yang mereka tulis. Tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Ini adalah bisnis Anda wahai penulis dan penerbit tersebut sudah menginvestasikan dananya untukmu seperti biaya percetakan, promosi, dll. Pekerjaan penulis selanjutnya adalah mempunyai website, menciptakan tulisan-tulisan baru, melakukan interview, dll.
Banyak sekali penulis yang telah mempublikasikan naskahnya yang akhirnya gagal. Banyak yang menyangka kalau penulis yang menerbitkan karyanya sendiri harus mau bersusah payah memasarkannya dan promosi gencar-gencaran. Saya harus memberitahu Anda kalau anggapan Anda itu salah. Semua penulis yang karyanya dipublikasikan (baik sendiri atau oleh sebuah penerbitan) harus bisa memasarkan karyanya sendiri. Mana mungkin Anda menulis sebuah karya yang akan sampai ke pembaca tanpa memasarkannya?.
Untuk memasarkannya Anda harus melakukan hal-hal berikut ini :
1. Berfikirlah luas.
2. Pasarkan tiap hari dengan level tertentu
3. Beri keterangan jelas tentang kelebihan-kelebihan bukumu
4. Anda harus punya website yang user friendly
Lakukan hal-hal yang bermanfaat supaya karya Anda bisa tersebar luas dan hindari hal-hal yang bisa menghancurkan karir publishing Anda. Ini merupakan sebuah tantangan yang memerlukan banyak energi dan kesabaran. Nikmatilah proses ini supaya Anda tidak merasa kelelahan. Sebagai seorang penulis Anda harus multi dimentional dan memiliki wawasan intreprener.
C.F. Jackson adalah penulis e-book The Self Publisher’s Little Black Book : The Resource Book to Self Publishing for Writers, Authors and Poets. This author has been nominated Atlanta Daily Worlds Reader’s Choice for Author of The Year 2005 for the suspense fiction novel, Won’t be denied. Visit http://www.cfjackson.us to learn more about this author and or contact.



