Seorang ibu rumah tangga bercerita kalau bayinya yang berumur satu bulan mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Ia mencoba beberapa diaper dari yang murah hingga yang mahal (produk impor) tapi hasilnya tetap sama, daerah di sekitar pantat bayi menjadi kemerahan dan nampak lecet. Ia berpikir kalau disposable diaper akan membuat bayinya tetap kering seperti yang diiklankan di televisi, dan terhindar dari ruam popok. Tapi nyatanya?. Bayi mungilnya tak urung sembuh. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke popok kain. Memang pada awalnya, ia rela membayar mahal demi kenyamanan bayinya dengan popok modern. Namun setelah berpikir untung ruginya, ia menyadari kalau popok kain adalah pilihan terbaik untuk putranya. Lain halnya dengan ibu tadi yang hanya dipusingkan dengan masalah ruam popok, Consumer Protection Agency melaporkan masalah sehubungan dengan pemakaian disposable diaper, mulai dari pembakaran bahan kimia, pemakaian bahan kimia berbahaya dan bau insektisida sampai kelakuan bayi yang sering menarik dan meletakkan disposable diaper ke hidungnya atau mulutnya.
Menurut laporan Journal of Pediatrics terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Dalam artikel yang berjudul Disposable Diapers : Potential Health Hazards, Cathy Allison menyatakan kalau Procter & Gamble (produsen Pampers dan Huggies) melalui penelitiannya memperoleh data mencengangkan. Angka ruam popok pada bayi yang menggunakan disposable diaper meningkat dari 7,1% hingga 61%. Sementara itu Mark Fearer dalam artikelnya yang berjudul Diaper Debate-Not Over Yet menyatakan beberapa hasil studi medis menunjukkan angka peningkatan ruam popok dari 7% pada tahun 1955 sampai 78% pada tahun 1991.
Penyebaran ruam popok merupakan fenomena yang terjadi di permukaan disposable diaper. Hal itu disebabkan oleh alergi terhadap bahan kimia, kurangnya udara, temperatur tinggi karena dilapisi plastik yang sifatnya mempertahankan kalor (panas) di area popok, dan bayi jarang ganti karena mereka merasa kering meskipun pantat dalam keadaan lembab (basah).
Sebenarnya masalah ruam popok bisa diatasi dengan mengganti diaper sesering mungkin. Procter & Gamble melaporkan kalau rata-rata konsumen produk mereka mengganti diaper 5 kali sehari. Tapi beberapa peneliti dan ahli medis menyarankan agar mengganti diaper setiap 2 jam sekali. Jika masalahnya hanya ruam popok mungkin masih bisa dianggap enteng, orangtua hanya perlu membayar lebih mahal (dengan sering mengganti diaper) supaya bayinya bebas ruam popok. Tapi bagaimana dengan isu kanker dan kemandulan yang dikait-kaitkan dengan disposable diaper?
Pemicu Kanker dan Kemandulan
Pada tahun 2000 beberapa peneliti dari Universitas Kiel, Jerman melakukan sebuah riset mengenai Archives of Desease in Childhood yang dimuat dalam British Medical Journal. Penelitian yang melibatkan 48 bayi laki-laki itu dilakukan selama setahun untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh disposable diaper. Para peneliti yang melakukan studi tersebut melaporkan bahwa bayi laki-laki yang menggunakan disposable diaper temperatur skortumnya (kantung kemaluan) mengalami kenaikan beberapa derajat dibanding yang tidak memakai. Bagi seorang bayi laki-laki yang skortumnya sedang berkembang, hal tersebut merupakan perkara yang serius. Karena untuk memproduksi sperma dalam jumlah yang banyak, skortum harus bisa menjaga temperatur testis supaya suhunya lebih rendah dari suhu badan. Oleh sebab itu kenaikan satu derajat pun akan merusak kinerja skortum sebagai “mesin pendingin” testis. Tentu saja fenomena ini akan membuat produksi sperma terganggu, yang berarti kesuburan pria akan menurun. Peneliti yang melakukan studi tersebut menyatakan, “peningkatan temperatur skortum yang disebabkan oleh pemakaian disposable diaper akan mempengaruhi kualitas sperma bayi laki-laki dan meningkatkan angka terjadinya kanker testis di usia dewasa.” Mereka juga mengatakan kalau fisiologi mekanisme pendingin testis mengalami kerusakan secara signifikan.
Dalam melakukan studinya mereka juga meneliti pria Eropa yang lahir pada tahun 1975 (tidak lama setelah disposable diaper menjadi begitu populer dan digandrungi). Para peneliti itu terkejut dengan penemuannya, ternyata jumlah sperma pria Eropa mengalami penurunan hingga 25% dalam 25 tahun terakhir. Sekitar 27000 pria Inggris yang sudah menikah menjalani perawatan ketidaksuburan setiap tahunnya, dan angka kejadiannya meningkat hingga 55% pada tahun 1995. Tim Hedgley, ketua National Fertility Assosiation mengatakan, “penelitian ini begitu mengejutkan dan penting untuk diketahui.”
Sementara itu, Dr. Simon Fishel, direktur Centre of Assisted Reproduction (Nottingham, Inggris) mengatakan, “teori tersebut sangat masuk akal dan saya tidak terkejut dengan hasilnya. Bagaimana pun disposable diaper dapat meningkatkan temperatur skortum bayi laki-laki dan tentu saja hal itu merupakan masalah besar karena kinerja skortum akan terganggu.” Sayangnya produksi besar-besaran disposable diaper tidak disertai penelitian terlebih dahulu terhadap efek sampingnya. Sehingga ada kemungkinan angka kejadian akan terus meningkat seiring dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh pemakaian disposable diaper.
Bahan Kimia Berbahaya dalam Disposable Diaper
Isu kenyamanan yang digencarkan oleh produsen diaper selalu berkisar pada masalah daya serap tinggi yang membuat kulit bayi tetap kering. Yah, tentu saja, Sodium Polyacrylate memang bisa bekerja sebagai super absorbent yang hebat, bahan yang berbentuk serbuk sebelum dicampurkan pada lapisan dalam disposable diaper memiliki daya serap lebih dari 100 kali dari beratnya di dalam air. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai biang keladi iritasi kulit dan demam. Ketika disuntikkan pada tikus percobaan menimbulkan hemorhage, kegagalan kardivaskuler, bahkan kematian. Anak-anak bisa terbunuh jika menelan 5 gram Sodium Polycrylate. Selain itu, bahan ini juga merusak daya tahan tubuh dan menurunkan berat badan para pekerja pabrik yang memproduksinya.
Bahan kimia lain yang terkenal tingkat bahayanya adalah dioxin. Dioxin dihasilkan dari proses produksi pemutih kertas. Sementara itu proses produksi disposable diaper menggunakan dioxin dalam bentuk gas klorin. Dalam artikel yang berjudul “Whitewash; Exposing the health and environmental dangers of woman’s sanitary product and dsposable diaper – what you can do about it”, Liz Amstrong dan Adrienne Scott menyatakan kebanyakan industri kertas melakukan proses pemutihan dengan menggunakan pulp whiter daripada klorin. Penyebabnya tak lain adalah bahan kimia yang termasuk dalam organoklorin (termasuk di dalamnya dioxin) ini sangat beracun dan bersifat persisten (menetap dalam tubuh).
Tributyl Tin (TBT) juga termasuk bahan yang digunakan dalam produksi disposable diaper. Bahan kimia ini selain menyebabkan pencemaran lingkungan juga sangat beracun. Penyebarannya bisa melalui kulit, jadi bisa dibayangkan tingkat bahayanya kalau kulit bayi yang sensitif memakai diaper yang mengandung TBT. Karena saking beracunnya bahan kimia ini dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh. Tak tanggung-tanggung, orangtua yang memiliki bayi laki-laki perlu waspada karena bahan ini bisa menyebabkan kemandulan (pada bayi laki-laki). Ginny Caldwell dalam artikelnya yang berjudul Diapers. Disposable or Cotton?, menyatakan bahwa kerusakan dalam sistem saraf pusat, ginjal dan lever bisa disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam disposable diaper.
Pada tahun 1999 The Archive of Environtmental Health melaporkan sebuah studi yang dilakukan oleh Anderson Laboratories. Dalam studi tersebut mereka membuka kemasan diaper lalu meletakkannya di dekat tikus-tikus percobaan. Tikus-tikus yang terekspos diaper tersebut menderita bronchoconstriction yang menyerupai serangan asma Tak hanya itu, tikus-tikus tersebut juga mengalami iritasi mata, kulit dan tenggorokan. Di dalam sebuah ruangan yang luas sekalipun emisi dari disposable diaper cukup mampu membuat tikus-tikus ini terserang asma. Bahan kimia yang ditemukan dalam disposable diaper yang mampu menyebabkan iritasi tenggorokan antara lain tolune, xylene, ethylbenzene, styrene, dan isopropylbenzene.
Tentu saja berbeda dengan popok kain yang terkenal aman karena tidak mengandung bahan kimia. Tikus-tikus percobaan tidak mengalami gangguan pernafasan seperti tikus-tikus yang terkena emisi diaposable diaper. Jadi sekarang saatnya mempertimbangkan lagi penggunaan disposable diaper supaya bayi aman dari efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh disposable diaper.
written by Diena Ulfaty
Diena Ulfaty adalah alumni Fisika yang pernah terlibat dalam RUT IX di ITB tahun 2002 – 2004. Salah satu penelitiannya (mengenai superkonduktor) dipublikasikan dalam Jurnal Fisika Indonesia 2003. Sekarang Diena tinggal di Bandung dan menekuni dunia penulisan cerita.Bukunya yang berjudul Inspiring Stories for Kids yang berisi 20 Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran, dan Cinta telah diterbitkan pada akhir Nopember 2008. Reviewnya bisa dibaca selengkapnya di http://dienaulfaty.wordpress.com. Buku juga sudah bisa diperoleh di TB. Gramedia, dll, atau bisa pesan langsung ke penulisnya melalui diena.ulfaty@gmail.com




Anakku sejak umur 6 bulan pakai popok pampers. Sampai sekarang (14bulan) baru terlihat dikulit testisnya sering luka kesakitan dan duburnya kemerahan. Walau dulu-dulunya pernah sekali atau dua kali, tapi tidak tau.
Setelah membaca tulisan ini, aku jadi sangat kecewa sama popok modern yang ada selama ini.
Komentar oleh daeyath — Februari 6, 2009 @ 5:55 am
wah.. luar biasa banget mom..
aku copy artikelnya ya untuk komunitasku
Komentar oleh irene — Februari 26, 2009 @ 3:45 am
Salam kenal mbakIrene.
Ya boleh mengkopinya mbak Irene asalkan disertakan sumbernya. Soalnya banyak juga yang mengkopi artikel ini tapi sumbernya (http://dienaulfaty.wordpress.com) nggak ditulis. Saya sedih juga karena merasa kurang dihargai. Padahal saya menulisnya dengan susah payah.
Oya, Perlu diketahui artikel ini saya tulis karena teguran seorang ibu sewaktu saya berbelanja diaper di supermarket. Awalnya saya juga ragu, terus saya cari referensi dari artikel berbahasa Inggris (karena tak satupun artikel berbahasa Indonesia yang membahas masalah ini). Ketika saya menemukan fakta mengejutkan mengenai efekdiaper pada bayi, saya langsung menghentikan pamekaian diaper untuk anak saya, lalu saya pun menulis artikel ini. Semoga banyak manfaat yang bisa diperoleh dari tulisan saya ini.
Komentar oleh Diena — Februari 28, 2009 @ 7:10 am
wah…gawat banget…Pdhal 2 anakku (yg pertama berumur 2 tahun 10 bln, yg kedua 5 bln) biasa sy pakaikan pampers pd malam hr. Maksudnya sik biar bo2nya nyenyak gitu. Tapi, baca artikel di atas sy jd takut jg. Sy coba deh kurangin pemakaian pampersnya…tp kalo berhenti sm sekali kyaknya susah utk anakku yg ke 2…krn kalo pergi..kayaknya kalo gk pake pampers berabe deh..
Ada saran gk mom utk berhenti pemakaian pampers pd wkt pergi… mungkin dr pengalaman pribadi..
Komentar oleh nurul — Maret 5, 2009 @ 1:56 pm
Maaf baru sempat membalas komentarnya. Ibu Nurul yang baik, saya juga bisa merasakan kekhawatiran yang ibu rasakan. Sebagai seorang ibu, saya juga ingin yang terbaik untuk anak-anak saya. Dari pengalaman saya, setelah mengetahui efek diaper pada bayi, saya langsung mengganti diaper dengan popok plastik supaya kencing tidak berceceran dimana-mana (tapi popok plastik ini juga punya efekmandul jika dikenakan pada bayi laki-laki karena bisa menghambat pertumbuhan skortum (kantung kemaluan) disebabkan naiknya temperatur area kemaluan). Namun untuk bayi perempuan sepertinya merupakan langkah bagus untuk dicoba dengan syarat harus sering diganti (dicek) maksimal 2 jam sekali supaya tidak terjadi ruam popok dan infeksi. Pengalaman saya, putri saya baik-baik saja memakai popok plastik ini dan saya pun tidak terlalu kecapekan. Tapi jika bayi ibu laki-laki, mungkin sebaiknya kita yang berkorban waktu dan tenaga dengan menggunakan popok kain. Dan kalaupun terpaksa harus menggunakan disposable diaper terutama saat bepergian jauh,maka sesampainya di tempat tujuan harus segera diganti dengan popok kain. Hal ini untuk mengurangi efek berbahaya dari diaper. Tingkat kerusakan skortum ditentukan oleh seberapa seringnya kita memakaikan diaper pada bayi.
Komentar oleh Diena — Maret 10, 2009 @ 8:45 am
Hi mba.. salam kenal..
minta ijin untuk nge-link blog nya untuk artikel ini ya mba.. jadi ntar pengunjung blog saya, langsung ter-link dengan blog mba.. jadi pada tau deh siapa yang nulis..
makasih..
Komentar oleh ernie — Mei 4, 2009 @ 1:16 am
Ok mbak Ernie, salam kenal juga, boleh saja mengkopi tulisan ini untuk blognya mbak Ernie asal dicantumkan sumbernya dan penulisnya tentunya hehe…
Semoga bermanfaat
Komentar oleh Diena — Mei 8, 2009 @ 5:12 pm
Kalo mau ngopi link-nya aja juga boleh mbak Ernie, saya yang malah berterima kasih banyak kepada mbak. Karena semakin banyak yang tahu, maka semakin banyak bayi yang selamat dari kanker dan kemandulan diakibatkan oleh diaper.
Thanks alot yah…
Komentar oleh Diena — Mei 8, 2009 @ 5:16 pm
Mba Diena..wah saya kaget membacanya..
saya sering buka2 artikel ttg popok tapi belum pernah nemu yang membahas ttg ini…saya baru punya bayi perempuan umur 43 hari..saya sudah menggunakan popok merek pampers sejak dia berumur 14 hari..
saya jadi was-was deh pas baca artikel yang mba tulis..
bingung juga..karena memakai popok kain membuat kulit bayi saya iritasi..popok ‘praktis’ malah bisa beresiko kanker..serba salah juga…
Komentar oleh andina — Mei 19, 2009 @ 3:15 pm
wah repot jg ya. apa mba udah konsultasikan ke
dokter mgn kulit putri mba yg sgt sensitif. ato baca di the baby book karya DR. Sears terbitan serambi.di situ diulas mgn ruam popok dan penanganannya.tp yg jelas mrk tdk menyarankan penggunaan diaper krn efek negatif yg ditimbulkannya.
Komentar oleh Diena — Mei 20, 2009 @ 8:37 pm
Thanks infonya mbak, meski saya seorang bapak ‘wajib jg dunk peduli pd hal ini, dan sekarang Alhamdulillah sdh ada produk alternatif yang aman buat bayi kita, namanya popok serapan, celana sistem lampin, ataupun celana sistem serap…kebetulan produk asli Anak Negeri (made in Indonesia).
Dan ternyata ibu-ibu juga perlu waspada, karena proses pembuatan diapers relatif sama persis dengan proses pembuatan pembalut biasa…so bahayanya jg nggak kalah menakutkan.
Komentar oleh Agil Siswo Heksanto — Juli 17, 2009 @ 6:10 am
mbak, saya jg izin untuk share link di fb ya..
terima kasih info nya ..
Komentar oleh mei — Oktober 14, 2009 @ 4:49 pm
Alhamdulillah.., ini merupakan informasi yang sangat bermanfaat sekali, yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui, krn anak saya yg sekarang mau menginjak usia 6 bulan, sdh 1 bulan ini saya rutin memakaikan dia pampers, tapi setelah saya mengetahui informasi ini, saya jadi lebih selektif lagi, utk melakukan sesuatu hal yg di sangka kita itu efektif sekali, ternyata ada efek negatifnya yg tdk pernah kita ketahui, makasih infonya ya mba..
Komentar oleh Shinta — Oktober 15, 2009 @ 5:19 pm
Buat mba Mei silahkan share info ini di fb asal disertakan sumber dan nama penulisnya. smg bermanfaat.
Komentar oleh Diena — Oktober 21, 2009 @ 12:42 pm